Mile 22, Saat Silat Indonesia Mendunia

Setelah penampilan yang memukau dalam beberapa tahun terakhir, Iko Uwais, aktor Indonesia kelahiran tahun 1983 akhirnya sukses menjamah Hollywood lebih dalam lagi lewat perannya sebagai sosok Li Noor dalam sebuah film arahan Peter Berg yang diluncurkan di bulan Agustus ini, Mile 22.

Kali ini Iko beradu akting dengan Mark Wahlberg dan Lauren Cohan. Aktor dan aktris kawakan Hollywood. Sebelumnya Peter Berg kita kenal sudah menyutradarai sederet film aksi yang memukau, sebut saja ada Deepwater Horizon dan drama tentang tragedi Boston Marathon, Patriots Day.

Kisah Mile 22 dimulai saat James Silva (Mark Wahlberg) yang juga pemimpin sebuah regu bernama Overwatch dan punya misi membasmi eks agen KGB dari Russia sekaligus mencari Cesium, sebuah bubuk berbahaya yang bisa membuat dunia porak poranda karena kekuatannya lebih dari bom atom.

Ketegangan mencari bubuk cesium dengan hadirnya sosok Li Noor yang “membelot” dari Indocarr City kian membuat cerita dalam film ini semakin tegang. Dalam film ini kita akan menyaksikan bagaimana Wark Wahlberg dan Iko Uwais beradu akting dan bak bik buk alias mempertontonkan martial art dengan citarasa Indonesia, alias pencak silat!

Jangan lewatkan adegan perkelahian seru antara Iko Uwais dan para villain yang mempertontonkan sang bintang laga ini shirtless alias cuma pakai boxer aja! Menariknya, beberapa adegan juga hadir dalam Bahasa Indonesia. Sesuatu yang membanggakan tentunya.

Secara keseluruhan, film yang pengerjaannya hampir satu tahun lamanya ini wajib masuk list tontonan Anda untuk bulan kemerdekaan ini. (Wal)

 

Iklan

The Equalizer 2; Kembalinya Si Super Hero

Kehidupan Robert McCall (Denzel Washington) yang tidak lagi menjadi bagian dari unit pasukan khusus Amerika tidak serta merta membuatnya jadi aman. Meskipun kehidupannya termasuk nyaman, masih banyak hal yang membuat dirinya tidak nyaman dengan sekitarnya.

Profesinya sebagai supir taksi online di Amerika dan bertemu dengan orang-orang baru lengkap dengan semua masalahnya membuatnya pun ingin menjadi seorang sosok super hero alias pahlawan. Membela yang tertekan dan terzalimi.

Hingga akhirnya profesi sebagai supir taksi online membawanya berurusan kembali dengan rekan-rekan lamanya di pasukan khusus Amerika yang boleh dibilang kini telah membelot. Salah satunya ada Sam (Orson Bean) yang secara misterius mengajak McCall untuk bergabung dengannya sebagai pembunuh bayaran bagi sekelompok klien.

Situasi semakin misteri saat Susan (Melissa Leo), partner kerja lama McCall saat bertugas di Brussels tewas secara mendadak di kamar apartemennya kian memperkuat McCall untuk kembali terjun membela yang benar dan menyelidikinya.

Secara keseluruhan The Equalizer 2 menyajikan sebuah film aksi yang bukan saja menegangkan tapi juga seru dan intens. Banyak adegan diambil dari kamar apartemen McCall yang telah ditata sedemikian rupa layaknya sebuah bungker. Hal ini seperti mengingatkan kita akan paniknya Jodie Foster di Panic Room beberapa tahun silam.

 

 

 

 

 

Sara & Fei, Stadhuis Schandaal; Roman Picisan Berbalut Sejarah

Sutradara senior Adisurya Abdy bersama dengan Xela Pictures pada akhir Juli ini mempersembahkan film terbaru untuk moviegoers nasional. Judulnya: Sara & Fei, Stadhuis Schandaal. Ini merupakan film perdana dari production house Xela Pictures. Filmnya berlatar belakang kehidupan jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namun dikemas dengan gaya kekinian.

Dalam sesi jumpa media sebelum pemutaran pada pekan ke-3 Juli lalu, Abdy mengungkapkan kalau dirinya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal.

“Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi. Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap”, papar sutradara era tahun 1980-an yang pernah ngetop dengan film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, hingga Ketika Cinta Telah Berlalu ini.

Menariknya, penggunaan kata berbahasa Belanda, Stadhuis Schandaal pun merupakan unsur kesengajaan.  Seperti yang dijelaskan oleh sang sutradara, “Gunanya agar penonton sejak awal sudah mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang jaman Belanda”, imbuh Abdi pendek.

Tak pelak memang kalau ini merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini atau yang biasa disapa dengan generasi millenials. Konsep artistik pun disesuaikan dengan jaman itu. Sampai-sampai sang sutradara, Adisurya Abdy membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect canggih agar bisa membawa penonton kembali ke jaman ratusan tahun silam.

“Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas”, terang sang sutradara.

Hal menarik lainnya dari karya film terbaru Adisurya Abdy ini adalah tampilnya sejumlah aktor maupun aktris berpotensi yang kebetulan baru terjun di dunia film, seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Film ini juga menghadirkan pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film Tanah Air yaitu Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Rowiena Umboh, Rensy Millano, Tio Duarte, Septian Dwi Cahyo, Iwan Burnani, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri serta beberapa pemain pendukung lainnya seperti Lady Salsabyla, Ricky Cuaca, Stephanie Ady, Iqbal Alif, Andhika Ariesta dan Yurike Cindy.

Penata musik film ini, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerjasama dengan Adisurya Abdy dengan menyajikan kembali lagu ciptaannya berjudul ‘Syair Kehidupan’yang cukup populer dan diaransemen ulang serta dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

Secara umum, sinopsis ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ ini berkisah tentang mahasiswi bernama Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi oleh gadis blasteran Belanda – Jepang bernama Sara. Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah itu. Dulunya, gedung ini adalah balai kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, masa di mana Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik. penuh misteri dan pesan moril.

Last but not least, demi meraih minat penonton di pasar Tiongkok, film ini pun mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu Jakarta, Pangkalan Bun Kalimantan (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok). Bagaimana ketegangan yang dihadirkan? Mungkin kita perlu langsung merasakannya di bioskop terdekat mulai 26 Juli ini! (Wal)

Serunya Memotret Milo Jakarta International 10K Pakai Samsung

Event lari tahunan MILO Jakarta International 10K telah berlangsung pekan lalu. Keceriaan dari lomba lari yang digelar oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi DKI Jakarta (DISPORA) ini memang tentu pantang dilewatkan, terutama untuk keluarga, karena bisa jadi ajang seru menghabiskan liburan akhir pekan. Diselenggarakan sejak tahun 2004 dan didukung penuh oleh MILO sebagai sponsor utama, lomba lari ini sempat direkam oleh Wonderoam via hape Samsung Galaxy A6+ juga lho!

Lomba lari yang bermula di Kawasan Epicentrum Utama Raya dan berakhir juga di tempat yang sama ini punya beberapa kategori yang bisa diikuti, mulai dari 10K Open International, 10K Indonesian Only, 10K Indonesian Student, hingga 5K Indonesian Only. Selain itu, ada juga kategori Family Run, sebuah kategori yang khusus didedikasikan untuk yang ingin berlari bersama dengan keluarga dan si kecil.

Serunya lagi, gelaran lari yang udah berjalan belasan tahun ini juga punya Family Run Champions Corner di area finis-nya juga! Selain memungkinkan si kecil bisa sarapan bersama penyanyi cilik Naura, bisa ikutan juga beragam games seru yang digelar, mulai dari Ring Toss, Balance Games, Basketball Arcade sampai Put Ball. Semuanya tentu untuk merangsang tumbuh kembang si kecil biar makin semangat dan punya energi menjalani hari.

Meriahnya #MILOJI10K pun Wonderoam sajikan lewat beberapa gambar foto dalam tulisan ini. Dijepret pakai Samsung Galaxy A6+ yang udah diinjeksi kamera 16 MP + 5 MP & 24 MP bikin gelaran tahunan ini pun semakin menarik karena tone-nya serba hijau! Benar-benar segar! Sesuai tone yang memang sedang ingin diusung oleh Jakarta, agar menjadi kota hijau dan bersahabat bagi warganya.

Nah, kalau mau beli perangkat keren Samsung Galaxy A6+ bisa langsung ke sini juga yes! Banyak promo menarik penuh kejutan, apalagi dalam rangkaian ulang tahun e-commerce Blibli.com yang ke-7! Jangan sampai terlewat ya(Wal)

Hodgepodge Superfest, Festival Musik Baru Campur Aduk

Setelah 14 tahun menyelenggarakan festival tahunan Jakarta International Java Jazz Festival dan juga festival lainnya seperti Java Rockin’land, Java Soulnation dan Soundsfair, kini Java Festival Production kembali menghadirkan sebuah festival multi-genre di Jakarta.

Hodgepodge Superfest sendiri merupakan festival besutan Java Festival Production yang menggandeng Super Music dan didukung oleh Kopi Kapal Api yang akan menyuguhkan beragam musik seperti rock, pop, indie, elektronik dan genre musik lainnya dalam satu kesatuan.

Nah, udah nggak sabar mau merasakan sendiri festival unik ini?Rencananya Hodgepodge Superfest akan dimulai pada 1-2 September 2018 di Allianz Ecopark Ancol. Saat ini deretan line-up internasional yang telah mengkonfirmasi kehadirannya adalah The Libertines, All Time Low, Lil Yachty dan Gallant. Sedangkan artis lainnya yang juga bakal tampil di antaranya adalah August Alsina, Russ, Lemaitre, Day Wave, Cloud Nothings, Tayla Parx, Sundara Karma, Vancouver Sleep Clinic, Swim Deep, Park Hotel, Kid Francescoli, Didirri dan masih banyak lagi nama lainnya.

“Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kami bisa berkolaborasi bersama Super Music dan mendapat dukungan penuh dari Kopi Kapal Api dalam menghadirkan sebuah festival musik dengan konsep baru dan fresh” ujar Dewi Gontha selaku Presiden Direktur PT. Java Festival Production.

“Tahun ini, Super Music berkolaborasi dengan Java Festival Production dalam menyelenggarakan event Hodgepodge Superfest. Event ini menjadi momentum istimewa. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, diharapkan Super Music semakin berperan aktif dalam perkembangan industri dan komunitas musik di Indonesia” ujar Vicky Setiawan, representatif dari Super Music.

Sedangkan Nikita Dompas selaku perwakilan dari Tim Program Java Festival Production mengungkapkan bahwa, “Sekarang saat yang tepat untuk penikmat musik Indonesia untuk melihat Hodgepodge Superfest sebagai sebuah discovery platform. Musik baru bisa dicari di sini,” ujar Nikita yang juga founder dari band Tomorrow People Ensemble.(Wal)

Siap-Siap Ikutan My Little Pony Friendship Run 2018 Yuk!

Merayakan keajaiban persahabatan, Hasbro My Little Pony dan Indofunrun pada 10 Juli 2018 lalu mengumumkan pelaksanaan “My Little Pony Friendship Run 2018” untuk pertama kalinya di Indonesia.

Rencananya event lari yang juga pernah diselenggarakan di Taiwan dan Singapura ini akan berlangsung di PIK Avenue pada 12 Agustus mendatang.

My Little Pony: Friendship Is Magic sendiri merupakan serial TV animasi anak yang dibuat berdasarkan mainan dan karya animasi dari Hasbro My Little Pony. Hasbro, Inc. dikenal telah memproduksi berbagai bentuk dan jajaran produk mainan serta hiburan yang terait dengan franchise dari My Little Pony.

“Nantinya aktivitas lari yang sudah menjadi gaya hidup bagi warga Jakarta ini akan membawa konsep baru yang penuh tawa bagi seluruh keluarga,” kata Zico Rossano Hansakarya, Marcom Manager, PIK Avenue.

Di kesempatan itu, Head of Indofunrun, Chandra Sugiono juga menambahkan, “Ini menjadi momentum kedua kami setelah sukses menyelenggarakan ‘Justice Leage Run’ pada 2017 lalu. Semoga acara ini dapat menjadi wadah bagi peserta berpartisipasi dan berolahraga dalam kegiatan lari yang menyenangkan dan unik bersama orang tersayang mereka”, kata Chandra.

Hadir dengan konsep unik, peserta dapat mengikuti “My Little Pony Friendship Run 2018” dengan pilihan paket Family Run 5KM (untuk 1 orang dewasa dan 1 anak usia di bawah 13 tahun) atau Pony Run 5KM (untuk perorangan). Peserta dapat mendaftar secara online dengan harga Rp 700.000 untuk Family Run, dan Rp 375.000 untuk Pony Run melalui website resmi http://www.indofunrun.com atau mitra Indofunrun seperti Traveloka.com, Blibli.com, atau Mybookshow.com.

Sedangkan Agung Rachmawan, Liscensing Director Medialink mengatakan bahwa animasi “My Little Pony Friendship is Magic” saat ini tengah tayang di Indonesia dan telah diiterima dengan sangat baik oleh para orang tua dan anak-anak.

Acara ini sendiri adalah realisasi dari komitmen Indofunrun untuk membawa My Little Pony lebih dekat dengan sahabat-sahabat mereka di Indonesia, sekaligus merupakan satu lagi wadah bagi kami untuk memberikan peserta pengalaman menyenangkan dan lebih dekat lagi dengan karakter yang mereka cintai serta idamkan.

Menariknya, para peserta “My Little Pony Friendship Run 2018” juga akan mendapatkan racepack dengan karakter Pony pilihan mereka, setiap Pony memiliki elemen unik yang jika digabungkan membentuk Element of Harmony yang berpadu serasi. Racepack termasuk My Little Pony t-shirt, kaos kaki dan buff. Yuk ikutan serunya karena slot terbatas lho! (Wal)

Loving Pablo; Romansa Lain Sang Gembong Narkoba

Pablo Escobar adalah nama yang sangat mengganggu untuk Amerika Serikat pada dekade 80-an. Mafia kartel asal Kolombia yang dikenal juga sebagai salah satu “penjahat terkaya” di masanya itu kerap mengganggu Amerika sebagai negeri adidaya yang maju sebagai pemasok narkoba jenis kokain. Hal itu pun membuat Amerika Serikat marah besar dan berniat mengekstradisi Escobar untuk diadili di negeri Paman Sam.

Sama seperti kisah sang gembong narkoba itu yang telah tertuang di berbagai literasi maupun film, Loving Pablo punya benang merah yang sama, bedanya ini diangkat dari kacamata Fernando Len De Aranoa berdasarkan novel karya Virginia Vallejo dengan judul Loving Pablo, Hating Escobar.

Mengambil setting pada periode 1980-an, saat Escobar berkuasa penuh di kota Medellin, film ini dibuka dengan adegan cukup sadis, saat sekelompok anak buah Escobar membunuh kuda tak berdosa di area ladang jagung saat mereka bersenang-senang. Medellin sendiri awalnya adalah kota kumuh dengan gangster di mana-mana, Escobar yang berperan sebagai Robin Hood berusaha mengatur dengan mengambil hati warganya. Caranya dengan membangun pemukiman layak bagi warga Medellin.

Di tahun yang sama pula, yakni pada 1981, Virginia Vallejo (dimainkan dengan baik oleh Penélope Cruz), news anchor terpopuler di Kolombia, diundang oleh Escobar untuk menghadiri sebuah pesta besar di kediamannya yang mewah juga dihadiri oleh para selebritas dan kalangan pejabat Kolombia alias kalangan A+.

Babak baru Vallejo yang berselingkuh dengan suami Maria Victoria Henao ini pun dimulai! Hampir setiap event atau pun kegiatan Escobar, Virginia pun turut serta, mulai dari berlibur atau sekadar bertemu dengan partner bisnisnya.

Munculnya agen Shepard dari DEA yang ditugaskan menangkap Escobar dan kemudian mengadilinya di pengadilan Amerika Serikat menjadi polemik film sejak awal film dimulai hingga penutup.

Menariknya, Escobar yang sempat menyuap ke dua calon presiden Kolombia juga pernah mewakili kota Medelin sebagai legislatif. Ini tentu sebuah fenomena yang mencengangkan di dunia. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh Escobar yang bisa membujuk penduduk Kolombia untuk mengganggapnya sebagai penyelamat di tengah kemiskinan yang mendera.

Di sepanjang film kita juga akan menyaksikan bagaimana kekejaman Escobar dalam menghancurkan musuh-musuhnya, mulai dari pembunuhan sadis ke editor surat kabar maupun Menteri Kehakiman. Meskipun akhirnya Escobar ditangkap dan ada penjara khusus dibangun khusus untuknya. Sepak terjang Escobar hingga akhirnya ditembak mati di sebuah atap rumah masih meninggalkan misteri.

Secara keseluruhan, film yang secara gamblang memaparkan kisah cinta terlarang antara Virginia dan Escobar ini sangat menarik untuk ditonton. Sebuah sisi lain dari gembong narkoba yang boleh dibilang legendaris. (Wal)