How To Train Your Dragon The Hidden World; Akhir Kisah Sang Naga

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Dean DeBlois, ini merupakan kisah tentang Hiccup dan si naga hitam Toothless yang konon adalah seri terakhir dari franchise ‘How To Train Your Dragon’.

Tantangan Hiccup yang kini menjadi kepala suku Berk semakin banyak setelah naga-naga yang ada menjadi sasaran dari perompak kejam. Hiccup pun berencana memindahkan naga-naga itu ke Berk. Dan pada akhirnya Berk pun menjadi sumber kekacauan karena perompak sangat ingin memusnahkan semua naga yang ada.

Adanya Hidden World yang digadang-gadang sebagai salah satu tempat terindah untuk para naga hidup pun membuat Hiccup ingin mencarinya. Hiccup pun harus berupaya sekuat tenaga untuk menghalangi niat jahat Grimmel, seorang pembunuh naga yang terobsesi ingin menangkap Toothless.

How To Train Your Dragon The Hidden World sendiri menghadirkan pengisi suara yang sudah ternama di jagad Hollywood seperti Cate Blanchett yang mengisi suara sebagai Valka, Kit Harington yang membawakan karakter Eret dengan luar biasa, lalu ada America Ferrera sebagai sosok Astrid, tidak ketinggalan ada Jay Baruchel sebagai Hiccup dan last but not least tentunya Jonah Hill sebagai sosok Snotlout yang kocak.

Sementara itu, pertemuan Toothless dengan si naga putih Light Fury kian membuat keduanya bak pasangan muda yang dimabuk cinta, Mereka pun sempat melongok Hidden World yang indah dan menggetarkan di sebuah dasar laut sebelum sebuah tragedi terjadi. Apa kah tragedi itu? Tonton saja kisah penuh emosi dari Snoutlot cs ini di bioskop terdekat! (Wal)

Iklan

This is STRAPS x Collaboration!

Asal usul STRAPS boleh dibilang tidak terlepas dari Dutemps, sebuah toko yang dikreasikan oleh founder Yanto Chou pada tahun 2011. Saat itu dia sedang bekerja di sebuah perusahaan jam yang sedang berkembang pesat saat ini. Di saat tersebut, founder merasa bahwa para distributor jam mewah di Jakarta atau di Indonesia pada umumnya, tidak peduli akan layanan after sales service dari jam-jam tersebut. Salah satu utamanya adalah seputar tali jam, dimana para distributor tersebut tidak menyediakan ready stock dari tali-tali jam pengganti.

Berbekal adanya peluang bisnis tersebut maka pada tahun 2011, Dutemps pun berdiri di Bengkel Fairground SCBD yang menawarkan tali jam tangan branded, pemutar jam dan trading jam. Seiring waktu, semakin banyak koleksi yang dimiliki Dutemps dan tidak berujung hanya pada original branded saja tetapi juga meliputi semua tali jam berkualitas. Cikal bakal untuk STRAPS kemudian.

Di tahun 2013, akhirnya konsep STRAPS lahir. STRAPS membicarakan tentang kestablilan dan fengshui. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang ahli fengshui, bahwa kita perlu sebuah kestabilan di manapun kita berada, termasuk pada saat kita menggunakan aksesori. Seperti pada saat kita menggunakan jam di tangan kanan atau kiri, maka kita perlu mem-balance atau menstabilkan dengan gelang yang memiliki unsur yang sama di tangan satunya lagi, sehingga terjadi balance.

Awalnya STRAPS dibentuk dengan slogan ‘Design Your Watch’, dimana merupakan semua hal yang dapat mempercantik jam tangan konsumen, tanpa merusaknya, meliputi tali jam, buckle pin, gelang steel ataupun leather. Dan kiprah STRAPS hingga saat ini telah diakui sebagai penyedia tali jam dan leather bracelet terlengkap yang ada di pasar Indonesia, dimana STRAPS menyediakan tali jam berbahan besi, nylonleatherperlonjeans, batik, stingray, phyton hingga crocodile dengan ukuran mulai dari 14mm sampai dengan 28mm. Tak hanya tali jam, STRAPS juga menghadirkan deretan koleksi gelang handmade (buatan tangan manusia) diantaranya Western Horoscope, Chinese Horoscope, Leopard Edition, Skull Edition, HDCI Edition dan banyak lagi.

Yanto Chou selaku Founder dan bertindak sebagai General Manager STRAPS Indonesia merasa gembira dapat menghadirkan STRAPS di pasar aksesoris jam tangan dan gelang Tanah Air. Seperti dikatakannya pada 18 Desember lalu di area Kemang, Jakarta Selatan, “Kami melihat peluang yang masih besar di pasar aksesoris jam tangan dan gelang di Indonesia. Berkembangnya gaya hidup masyarakat modern yang ikut menumbuhkan peluang bisnis di pasar aksesoris jam tangan dimana masyarakat tak lagi sekedar menilai bahwa sebuah jam tangan hanya sebagai alat penunjuk waktu semata tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup yang mencitrakan personal masing-masing pemakainya. Dan aksesoris jam ini pun sedikit banyak dapat menandakan jati diri sang pemilik, yang juga dapat disesuaikan dengan occassion yang berbeda. Dengan kebutuhan tersebut maka saat ini, masyarakat modern Indonesia pun tak hanya memiliki 1 buah jam tangan saja, tetapi bahkan hingga beberapa buah yang model atau desainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Melihat adanya perkembangan gaya hidup masyarakat modern itulah, maka kami optimis STRAPS dapat menjadi pilihan chic untuk segala kebutuhan aksesoris jam dan gelang konsumen Tanah Air”.

Di STRAPS sendiri dapat dilakukan berbagai macam personalisasi baik secara major maupun minor. Untuk major seperti kerjasama dengan Harley Davidson dengan dibuat koleksi tersendiri didesin dari scratch, ataupun minor yang dapat dilakukan kapan saja, seperti ukuran gelang yang bisa dipersonalisasi, benang tali jam yang dikarenakan jahitan tangan dapat dipersonalisasi sesuai warna kesukaan, pemendekan tali jam tangan, gelang tangan dengan warna personalisasi, ataupun yang terbaru dapat menyematkan nama ataupun inisial di gelang dengan mesin laser engraving yang dimiliki oleh STRAPS.  STRAPS berkomitmen untuk terus mengembangkan diri dengan metode-metode personalisasi yang terbaru.

Seiring perjalanan waktu, slogan ‘Design Your Watch’ yang diusung sejak awal berdirinya STRAPS, di tahun 2018 ini terjadi perubahan menjadi ‘Respect Your Hand’ dimana STRAPS ingin menyebarkan awareness kepada konsumen Indonesia, bahwa STRAPS hanya menggunakan kualitas bahan terbaik yang ada di pasaran dengan LiFETIME WARRANTY REPAIR. Dengan slogan baru ini maka STRAPS dapat memastikan bahwa STRAPS sangat menghargai tangan yang memakai aksesoris tali jam tangan dan gelang brand STRAPS. Secara tersembunyi, slogan ini juga ditujukan untuk merangkul kaum millenials yang kami percaya akan menduduki ekonomi dunia dimana mengandung  beberapa petuah penting diantaranya pantang menyerah dan hargai apa yang ada, karena anak muda adalah sebuah penggerak dan penggagas Bangsa yang harus tahan banting dan untuk selalu menghargai tangan mereka dengan perbuatan baik.

Dengan diperkenalkannya slogan baru tersebut, maka di tahun 2018 ini, STRAPS juga menjalin kolaborasi baru dengan dua mitra untuk memperlihatkan komitmen dan kontribusi STRAPS berbagi dengan sesama yang sesuai tagline ‘Respect Your Hand’, yaitu:

  1. Ciayo Corp: dengan menyematkan desain gelang STRAPS di salah satu game mereka yaitu CHIPZ yang akan diluncurkan pada tahun 2019 semester 1 mendatang. Melalui kolaborasi ini, pihak STRAPS juga ingin menyasar komunitas Ciayo Comic yang merupakan wadah berkumpul para generasi milenial saat ini
  2. wecare.idSTRAPS ingin juga mengerakkan gelang persahabatan untuk dapat membantu sesama, maka STRAPS pun menyumbangkan sebagian hasil penjualan STRAPS dengan memberikan support melalui program SEHATI dari wecare.iddimana STRAPS akan memberikan sebuah gelang sebagai bentuk token of appeciation bagi para penyumbang program SEHATI dari wecare.id

Seputar kolaborasi dengan  dua mitra bisnis Caiyo Corp dan wecare.id ini Yanto Chou pun memaparkan, “Kami bangga dan antusias dapat berkolaborasi dengan mitra bisnis, baik yang telah lama bekerjasama yaitu HDCI maupun yang baru saja bekerjasama yaitu Ciayo Corp dan wecare.id.  Dengan kolaborasi ini kami ingin menunjukkan banyak sisi positif STRAPS yang tak hanya merupakan produk tali jam dan gelang yang memiliki kualitas premium dengan koleksi yang paling lengkap, namun kami pun memiliki komitmen dan kontribusi untuk berbagi kepada sesama. Sehingga bisnis kami pun menjadi balance, tak melulu hanya urusan komersial saja tetapi juga berbuat sesuatu bagi lingkungan”.

Sebagai informasi, saat ini store STRAPS telah hadir di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bali, Medan, Makassar, hingga di negara tetangga yaitu Vietnam dan Malaysia. Ke depannya, STRAPS juga telah memiliki strategi bisnis untuk bekerjasama dengan pengrajin lokal di Indonesia sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan yang tak langsung turut mengurangi penggangguran di Indonesia. Selain itu juga terus membantu menyumbang ke badan amal lainnya yang menjadi salah satu komitmen untuk berkontribusi nyata kepada lingkungan sekitarnya. (Wal)

Elliot The Littlest Reindeer: Semangat Natal Sang Kuda Poni

Menjelang Natal dan Tahun Baru 2019 sebuah film animasi baru produksi Awesometown Entertainment akan segera menyambangi bioskop-bioskop Indonesia. Judulnya cukup panjang, Elliot The Littlest Reindeer. Ceritanya masih tentang persahabatan antar hewan. Kali ini mengambil setting di sebuah ranch dekat Kutub Utara yang ketika musim dingin datang, keseluruhan wilayahnya akan tertutup salju tebal.
Diarahkan dan ditulis skripnya oleh Jennifer Westcott, film dengan durasi 88 menit ini termasuk salah satu animasi dari rumah produksi independen Negeri Belanda. Bintang yang mengisi suara juga mixed antara bintang Hollywood kenamaan atau pun bintang berbakat lainnya. Nama-nama yang turut mengisi antara lain ada Morena Baccarin (sebagai Corkie, sang kambing betina) dan si kuda poni pemberontak nan liar si Elliot dialihsuarakan oleh aktor muda Josh Hutcherson.
Ceritanya tentang sosok kuda muda yang postur tubuhnya kecil namun punya cita-cita tinggi ingin menjadi “pengerek” iringan kereta Santa saat Natal bersama dengan rusa-rusa yang selama ini telah masuk tim ekslusif. Keinginan kuat Elliot itu didukung juga oleh Corkie, kambing betina yang selama ini selalu menyemangati dirinya untuk bisa masuk tim Santa. Pekerjaan Elliot sendiri sehari-harinya adalah menggiring kambing-kambing di ranch milik Walter.
Kehidupan di ranch itu semakin dramatis saat Olga, seorang Rusia misterius datang untuk memborong isi ranch, terutama kambing-kambing yang menjadi teman Corkie. Apakah niat Olga ingin memindahkan ranch itu benar-benar tulus? Situasi ini digambarkan oleh Westcott menjadi sebuah tontonan menyenangkan untuk keluarga menjelang libur akhir tahun kali ini. Meskipun minim dengan efek animasi modern, film ini termasuk punya skrip menarik.
(Wal)

Five Fest Baywalk Mall Pluit

Pada 30 Nopember 2018 lalu dalam rangka menyemarakkan perayaan ulang tahunnya yang kelima, Baywalk MallPluit yang dikenal juga sebagai salah satu ikon shopping mall dengan konsep view pemandangan laut, menggelar serangkaian helat menarik bertema Five Fest ‘Youth, Dynamics and Ready to Change’.

Acara yang mengambil tempat di Main Atrium, lantai dasar itu tercatat sebagai momen pertama kali di Indonesia yang mengkolaborasikan fashion show dengan fashion dance. Ada karya busana dari desainer Danjyo Hiyouji yang turut ditampilkan. Sedangkan fashion dance sendiri dibawakan oleh Gemilang Emas Dancer.

Tidak hanya itu saja, pengunjung Baywalk Mall – Pluit juga masih dimanjakan dengan beragam kegiatan seru yang layak untuk dikunjungi sepanjang akhir pekan itu seperti mengunjungi G-Shock Exhibition yang merupakan ajang pameran tunggal dari brand jam tangan ternama nan legendaris, Casio G-Shock.

Ada juga Market Place yang mewadahi beberapa entrepreneur muda untuk memperkenalkan bisnisnya; Art Workshop yangmenampilkan karya seni unik; Special Talkshow tentang sneakers dan menghadirkan narasumber sneakers expert hingga lelang sepatu Sneakers yang dilukis khusus secara handmade oleh seniman lukis Popo Mangun dan Ariel Victor dari Senimart. Hasil lelang sendiri akan disumbangkan ke korban bencana gempa Palu.

Kejutan pun tak berhenti dihadirkan oleh Five Fest Baywalk Mall – Pluit seperti adanya artist performance Ibukota yang tampil setiap harinya seperti Marion Jola (30 November 2018), Jazz & 2 Lampu Neon (1 Desember 2018) dan RAN (2 Desember 2018).

Last but not least, dalam acara ini juga menghadirkan Sneakers Museum yang menggambarkan pengaruh Jepang terhadap perkembangan industri sneakers. Dimulai dari tahun 1970an dimana ASICS, brand asal Jepang yang pertama kali memproduksi running shoes berhasil menjadi asal muasal produsen sneakers terbesar di dunia saat ini, yaitu Nike.

Ellen Hidayat, selaku CEO/Chief Executive Officer Baywalk Mall Pluit menjelaskan, “Di usianya yang ke-5, Baywalk Mall – Pluit ingin memberikan sebuah pagelaran yang berbeda kepada pengunjung setia kami. Selama lima tahun, Baywalk Mall – Pluit telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern Jakarta khususnya di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta pada umumnya dan kami terus berupaya menghadirkan program-program yang inovatif bagi pengunjung setia kami sesuai dengan konsep shopping mall ini yaitu Leisure, Entertainment, Shoppingdan Dining”, tuturnya.

Sebagai informasi, Baywalk Mall – Pluit yang mengusung tagline ’Enjoy True Leisure’ lokasinya ada di depan Waterfront Jakarta dan merupakan Ikon Pusat Wisata Belanja dengan view laut. Setidaknya ada lebih dari 200 merek terkemuka dan  Internasional di tempat ini.

“Kami berharap beragam kegiatan yang kami hadirkan khusus untuk pengunjung setia Baywalk Mall – Pluit dalam perayaan Five Fest ini, nantinya dapat meninggalkan kesan yang mendalam dan semakin membuat keberadaan mall ini dekat di hati”, terang Ellen Hidayat.

Pilihan Baru Traveler Urban

Pada 27 November 2018 lalu wilayah Tangerang yang juga termasuk dalam provinsi Banten meresmikan untuk pertama kalinya sebuah hotel bintang lima. Nama hotel itu adalah JHL Solitaire Gading Serpong.

Hotel ini sendiri merupakan bagian dari D Varee Collection Hotel Management yang punya konsep ikonik, megah dan spektakuler.  Desain dan arsitektur seninya berpadu dengan kesempurnaan dan tentunya penuh sentuhan glamor.

Lokasinya yang berada tepat di jantung kota Serpong dan juga dikelilingi oleh berbagai fasilitas publik dan pusat konvensi terbesar di Indonesia, Indonesia Convention Center (ICE), pusat perlengkapan rumah tangga terbesar dari Swedia, IKEA, pusat perbelanjaan dari Jepang seperti AEON, dan lainnya menjadikan hotel ini adalah sebuah pilihan menarik untuk kaum urban Jabodetabek atau luar Jabodetabek yang ingin menghabiskan akhir pekannya di area Tangerang.

Selain lokasinya yang cukup strategis dan terjangkau dari Bandara International Soekarno-Hatta karena hanya berjarak tempuh sekitar 40 menit melalui akses tol Serpong dan JORR,  JHL Solitaire Gading Serpong juga punya 141 kamar yang terbagi dalam jenis Premier dan Suite. Keduanya dilengkapi dengan luxury amenities dan fasilitas yang menjamin kenyamanan para tamu yang menginap. Adapun pilihan unggulan lainnya di tempat ini adalah Suite Chairman yang punya ruang tamu, kamar tidur dan kamar mandi  luas dengan dekorasi terbaik dan perabotan lux.

Jerry Hermawan Lo selaku Komisaris JHL Solitaire Gading Serpong di sela-sela pembukaan sempat mengatakan bahwa kehadiran hotel ini bukan hanya untuk menjawab kebutuhan traveler semata tapi juga business traveler yang butuh tempat untuk MICE alias Meeting, Incentive, Convention, Expo. 

“Bisa juga jadi alternatif tempat wedding eksklusif bagi masyarakat wilayah Tangerang, Banten dan sekitarnya. Harapannya agar dapat turut mengangkat wajah provinsi Banten semakin cantik sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah”, tukas Jerry.

Selain kamar dan fasilitas lainnya, hotel ini juga memiliki pilihan restoran dan bar yang menawarkan pengalaman kuliner dengan konsep tema yang spesifik dan mengesankan, seperti Mangan All Day Dining RestaurantURO Japanese Dining & Sake BarRoyal 8 Chinese Restaurant & Dim Sums, Empress China Bar, Al Gusto Italian DiningCastro Lounge & Cigar Bar, dan juga Anni Fleurist Et Café.

Tidak hanya itu saja, JHL Solitaire Gading Serpong juga punya kolam renang dengan konsep outdoor yang menawarkan suasana yang menyegarkan. Ada juga The Workout bagi tamu yang aktif berolahraga dan LE Mere Glam Et Beaute Lounge yang menyediakan berbagai macam perawatan kecantikan yang dilayani oleh para ahli yang berpengalaman. Last but not least, tersedia juga Acqua Spa Wellness yang menyediakan pengalaman spa mewah pertama dengan memberikan pengalaman pijat terapetik dengan suasana relaks dan tenang. Jangan lewatkan juga wahana untuk anak-anak dengan konsep spa yang bertujuan untuk mengedukasi anak-anak tentang kebugaran sejak dini di Acquaree Kids Spa Journey.

Sebuah lokasi pelarian yang menarik tentunya untuk kaum urban ibukota yang haus dengan atraksi dan juga kemewahan. (Wal)

The Grinch; Kisah Si Pencuri Natal

Setelah kemunculan terakhirnya hampir dua dekade lalu lewat sosok Jim Carrey sebagai The Grinch alias monster hijau dari Kampung Whoville, tahun ini menjelang pergantian tahun Universal Pictures dan Illumination Entertainment pun meluncurkan versi kartun karangan Dr. Seuss ini sebagai hiburan akhir tahun untuk keluarga.

Tercatat juga, kisah dari The Grinch sudah pernah hadir di film TV sejak tahun 1966 lewat How the Grinch Stole Christmas!  Sedangkan The Grinch edisi 2018 mengisahkan sosok si hijau The Grinch (Benedict Cumberbatch), sejenis monster berbulu yang sinis dengan perayaan Natal dan hanya menyendiri di gua perbukitan bersama dengan anjing bernama Max.

Pada suatu hari di penghujung tahun, sebuah karma buruk mendatangi si Grinch. Persediaan makanannya selama setahun habis. Padahal menurutnya dia sudah stok hingga Januari mendatang. Hal ini tentu untuk menghindari dirinya dari basa-basi Natal yang membosankan dan menimbulkan trauma tersendiri.

Celakanya, The Grinch harus menghadapi kenyataan kalau perayaan Natal kali ini oleh masyarakat Whoville berlangsung 3 kali lipat lebih meriah dari sebelumnya. Kontan sang monster hijau kian panik dan kesal. Seperti dalam kisah klasiknya, tentu dia pun berencana merusak Natal itu.

Bagaimana si tuan yang suka ngomel-ngomel ini menjalankan niat buruknya merusak Natal para warga Whoville? Kuncinya ada di anak perempuan bernama Cindy Lou Who, yang lucu dan disuarakan oleh Cameron Seely. Cindy adalah anak pemberani di desa Whoville yang kebetulan punya misi ingin bertemu Santa di malam Natal.

The Grinch versi 3D kali ini boleh dibilang banyak menyampaikan petuah bijak yang klasik serta dialog tajam yang mengesankan untuk segala usia. Tontonan hiburan akhir tahun yang sangat menghibur tentunya. Jangan lewatkan juga narasi nakal dari Pharrell Williams sepanjang film ini. (Wal)

 

 

“Priscilla, My Beautiful Fighter”, Hadiah Istimewa Seorang Ayah

Pada pertengahan Oktober lalu, sebuah buku penuh inspirasi diluncurkan oleh Jacobus Dwihartanto. Dia memang bukanlah seorang penulis kenamaan, bukan pula selebgram. Dia hanya seorang ayah dari putri bernama Priscilla. Perempuan kelahiran 14 Mei 1997 yang telah lama dipanggil Maha Kuasa karena mengidap penyakit kanker otak.  

Sosok Priscilla atau biasa di panggil Pece semasa hidupnya memang terbilang penuh keajaiban. Dan ini dengan narasi luar biasa, dikisahkan oleh sang ayah lewat bukunya yang diberi title ‘Priscilla, My Beautiful Fighter. Pece sendiri punya nama lengkap Maria Priscilla Dwihartanto.

Seperti yang ditulis sang ayah dalam buku dengan nuansa biru dan ketebalan lebih dari 300 halaman, si mungil nan cantik Priscilla hadir ketika kedua orangtuanya sangat merindukan keturunan. “Jujur, saya waktu itu ingin sekali punya anak laki-laki, tapi setelah penantian yang cukup lama hingga lebih dari tiga tahun, lahirlah bayi perempuan kami yang lucu dan menggemaskan, saya pun sangat mensyukuri hal itu”, papar sang ayah dalam sesi peluncuran buku pada siang itu di Kawasan Gandaria, Jakarta Selatan.

Setelahnya, seperti dalam buku yang dikarang sang ayah selama bertahun-tahun, para pembaca akan diajak untuk “melihat” perkembangan sosok Priscilla yang sehat, ceria dan selalu periang di segala situasi. “Dia suka olahraga, dia suka seni dan fashion, benar-benar seorang perempuan muda yang aktif”, tukas sang ayah lagi. “Tapi dia pun ikut membuat sekelilingnya nyaman dengan kebaikan tulus yang dia tebar”, tambah sang ayah.

Bersekolah di SD dan SMP Santa Ursula dan pada akhirnya menyematkan gelar  sebagai Sanurian tentu membuat hari-hari Priscilla kian sibuk. Dikelilingi teman yang setia dan tulus di lingkungan sekolah Katolik yang ketat disiplin tidak membuat Priscilla kendor berprestasi. Catatan akademiknya bagus di dalam kelas. Untuk urusan eskul, gadis ini juga menimba prestasi yang termasuk mencengangkan. Dia pun disayangi guru-gurunya karena punya kedewasaan yang tinggi.

Sampai pada akhirnya kebahagiaannya terenggut di tahun 2011 ketika keseimbangan badan dan kesehatannya mulai terganggu dengan dokter yang memvonisnya dengan penyakit kanker otak. Periode ini berlangsung cepat. “Dia hanya hidup 17 bulan sebelum dipanggil Sang Maha”, kata sang ayah lagi.

Lantas apa motivasi sang ayah membuat buku tentang sang puteri yang telah lama hilang setelah hampir lebih dari 6 tahun berpulang?

“Saya ingin para orang tua yang oleh sang maha kuasa diberikan cobaan mempunyai anak yang memiliki penyakit yang sulit untuk disembuhkan seperti kanker menjadikan buku ini sebagai inspiratif kehidupan dalam menghadapi semua cobaan yang diberikan, tetap tabah dan berusaha menjalaninya serta tetap berdoa untuk kesembuhan sang buah hati dan dapat menjadi referensi parenting dalam membangun kepercayaan diri anak-anak mereka”, tandas sang ayah pada awak media yang mengerubungi pada siang itu.

Bagaimana proses kreatif sang ayah membukukan karya Priscilla, My Beautiful Fighter sebagai sebuah buku memang menarik untuk disimak. “Saya mulai mengumpulkan keping demi keping pemikiran dan keinginannya yang dituangkan dalam banyak tulisan dan berserak di buku harian, laptop, blog sampai posting-an di Twitter dan Instagram. Semuanya tergali begitu saja, mulai dari pemikiran, harapan, cita-cita hingga pandangan pribadinya”, kata sang ayah lagi.

Menariknya lagi, seluruh royalti dari penjualan buku ini juga rencananya akan disumbangkan oleh sang ayah melalui Yayasan Maria Priscilla Dwihartanto. Sebuah yayasan yang berfokus pada pelayanan di bidang pendidikan dan kesehatan. Tercatat, di bidang pendidikan, Pak Dwihartanto dan Bu Caroline adalah pendiri yayasan tersebut dan telah memberikan beasiswa bagi siswa-siswa berprestasi, menyumbang buku-buku, furnitur, juga hal lain bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.

Tercatat juga di bidang kesehatan saat ini sedang dibangun sebuah rumah sakit dengan nama Priscilla Medical Center (PMC) yang direncanakan akan mulai beroperasi pada pertengahan 2019. PMC dibangun dengan harapan agar rumah sakit ini dapat ikut berperan aktif dalam upaya peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat khususnya di daerah Cilacap, Banyumas dan sekitarnya.  Dengan motto “Merawat dengan Kasih Sayang”, PMC bertekad untuk memberikan layanan kesehatan dengan standar internasional namun dengan tetap mengedepankan unsur-unsur kearifan lokal seperti keramahan, gotong-royong dan kekeluargaan.

Menariknya, PMC juga menyediakan ruang serba guna dengan kapasitas 200 orang yang dapat dipakai untuk melakukan pertemuan-pertemuan dan acara-acara seminar. Sungguh sebuah perayaan untuk kemanusiaan yang menarik hati bagi kita semua lewat suguhan narasi dari sang ayah yang tertuang di buku Priscilla, My Beautiful Fighter. MenjadiPhoto 1Photo 2unnamed-11 kado istimewa dari seorang ayah untuk puterinya yang penuh inspirasi. Bukunya sendiri terhitung best seller dan sudah hadir sejak awal Oktober silam di seluruh toko buku besar di Indonesia. (Wal)