Dari Pertemuan Asia Center di Jakarta

Tidak banyak yang tahu kalau Japan Foundation mendirikan Asia Center sejak lima tahun lalu. Sebuah komite yang punya misi budaya antara Jepang dengan negara-negara Asia khususnya kawasan ASEAN. Asia Center ini sendiri punya dewan komite yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan di berbagai negeri yang jadi konsentrasi dari program Asia Center.

Tahun ini, di tahun ke-5 forum pertemuan sekaligus resepsi Asia Center berlangsung secara hangat di Jakarta pada Rabu (22/5/2019). Meskipun dibayangi oleh situasi tidak kondusif Ibukota Jakarta, forum pertemuan Asia Center berjalan lancar. Tercatat, eventini baru pertama kali terselenggara di Jakarta, Indonesia.

Secara khusus Japan Foundation Asia Center adalah sebuah unit khusus di dalam Japan Foundation yang didirikan sejak April 2014 dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat empati dan hubungan kerja sama di antara orang- orang Asia melalui dukungan pembelajaran bahasa Jepang dan tentunya pertukaran seni budaya. Proyek pertukaran budaya dua arah ini sendiri dilakukan di berbagai bidang.

Selain itu, program Asia Center juga punya dukungan kuat untuk membantu negara-negara yang tergabung dalam pembelajaran Bahasa Jepang dan disebut“Nihongo Partners” dengan cara pengirimannative dari Jepang ke sekolah-sekolah menengah di Asia khususnya kawasan ASEAN.

Di Indonesia program ini sudah berjalan di sekolah-sekolah favorit di 13 Provinsi yang tersebar dari Sumatra hingga Jawa. Para nativeini sendiri berperan sebagai asisten guru dan membantu siswa belajar bahasa Jepang serta mengenalkan budaya Jepang di sekolah-sekolah sekaligus sang native belajar juga mengenai bahasa serta budaya setempat.

Secara keseluruhan “Nihongo Partners” bekerja sebagai jembatan penghubung antara Jepang dan Asia. Selain daripada itu ada juga pertukaran seni dan budaya dua arah yang dilakukan oleh proyek Asia Center seperti mengadakan kerjasama dalam bidang seni, film, seni pertunjukan, olahraga, people-to-people exchange, pertukaran intelektual, dan lain lain.

Berikut beberapa proyek Asia Center yang mungkin familiar diketahui oleh khalayak Indonesia seperti Japanese Film Festival dan telah diadakan di Jakarta, Makassar, Bandung, Yogyakarta, juga Denpasar.

Kemudian ada HANDs! yang bila disingkat adalah Hope and Dreams- Project! Ini adalah wadah untuk mempromosikan dialog dan juga pertukaran para pemimpin muda dari Jepang dan negara-negara Asia untuk pengembangan sumber daya manusia, serta mendorong adanya usaha bersama dalam hal ini pendidikan pencegahan bencana. Tercatat, sejak dimulai pada tahun 2014, sudah lebih dari 100 orang peserta dari 9 negara termasuk Indonesia telah dibina melalui proyek ini.

Resepsi Asia Center di Jakarta termasuk meriah dan dihadiri oleh Profesor Eriko Ishii, Masayo Kato, dan Masayuki Yamauchi. Ketiganya adalah Professor, Tokyo Woman’s Christian University Actor Professor Emeritus The University of Tokyo. Salah satu board members dari Indonesia yang turut hadir adalah sutradara Riri Riza yang karyanya dikenal antara lain lewat “Ada Apa Dengan Cinta?” dan “Athirah”. (Wal)

Iklan

Aladdin; Dunia Nyata Kisah 1001 Malam

Setelah ditunggu sekian lama oleh para penggemarnya, akhirnya Walt Disney Studios merilis versi live-actiondari remake animasi Aladdin. Sebelumnya Disney sudah merilis film versi live-actionuntuk film Dumbo, Beauty and The Beast, hingga yang akan tayang pada bulan depan, The Lion King. Terakhir animasi Aladdin mengisi masa kecil sebagian orang (yang mungkin sekarang telah menjadi generasi millenials) pada tahun 1992.

Aladdin versi live-action di masa sekarang digarap oleh Guy Ritchie yang sebelumnya pernah membuat Sherlock Holmes. Mantan kekasih Madonna ini bekerjasama dengan John August, sang penulis naskah.

Kisah Aladdin yang terinspirasi dari legenda turun temurun tentang dunia 1001 malam memang punya jaringan drama kuat tentang perjuangan seorang pemuda jalanan bernama Aladdin dengan monyet kesayangannya Abu. Aladdin yang bertualang dari pasar ke pasar lalu ke beberapa padang pasir menjadi intisari cerita legendaris ini. Cerita romantisme bersama dengan putri Yasmin atau populer dengan sebutan Jasmine menjadi bumbu cerita yang kian membuat Aladdin populer.

Tidak ketinggalan soundtrackfilm Aladdin yang punya judul “A Whole New World” menjadi pemanis yang menarik, memikat dan bisa dibilang legendaris.

Dalam versi Guy Ritchie, Aladdin dimainkan oleh Mena Massoud, aktor muda berdarah timur tengah, sedangkan Yasmin sang puteri raja kali ini dimainkan oleh Naomi Scott.

Aladdin tahun 2019 ini juga punya efek CGIyang terasa nyata, bisa terlihat dari dua hewan yang menjadi sahabat setia tiap karakternya, Rajah si harimau yang juga karib Jasmine dan Abu, si monyet kocak yang juga pendamping setia Aladdin.

Yang bikin menarik dari Aladdin versi terbaru tentu tak lain adalah kehadiran sosok blue genie alias jin biru yang kali ini dimainkan secara brilian oleh aktor kawakan Will Smith. Sebuah tontonan wajib sebagai pengisi liburan karena punya nilai edukasi juga menghibur.(Wal)

 

aladinaladin 2aladin 3aladin 4

John Wick: Chapter 3 – Parabellum, Penuh Tumpah Darah dan Full Action

Berdurasi dua jam 10 menit, film ini tentu merupakan kelanjutan dari dua sekuel sebelumnya tentang pembunuh bayaran bernama John Wick (dimainkan oleh Keanu Reeves) yang harus terus lari dari perburuan. Sebelumnya seri ke-2 film ini rilis pada 2017. Cerita mula petualangan John Wick sendiri dimulai saat anjingnya dibunuh oleh kartel mafia Hihh Table dan kemudian John membunuhi setiap anggota kartel. Tentu, kartel akan mengikuti jejak John Wick ke mana pun. Setiap yang melindungi diri John Wick juga pada akhirnya ikut menjadi korban.

Sekuel ke-3 dari cerita franchiseJohn Wick sendiri bermula di gang-gang kumuh New York, saat John harus mencari perlindungan dengan menghubungi teman-temannya sambil tergopoh-gopoh setelah terluka karena baku hantam dengan orang-orang High Table. Lokasi yang tepat untuk menghindari serangan orang-orang High Table tentu adalah wilayah netral bernama Hotel Continental yang punya desain gothik namun berkesan mewah dan futuristik.

Menariknya, di sekuel ke-3 ini kita juga akan menemukan sosok baru tapi lama yaitu The Director yang diperankan dengan bagus oleh Anjelica Houston. Di dua film sebelumnya, karakter The Director yang ternyata tinggal di sebuah gedung opera ini hanya ada dalam dialog. Pertemuan John Wick dengan The Director membawanya ke Casablanca dan bertemu dengan Sofia (Halle Berry). Siapa Sofia dan apa hubungannya dengan Wick? Mungkin itu perlu ditonton lebih lanjut di bioskop.

Yang pasti sutradara Chad Stahelski bersama dengan penulis skenario Derek Kolstad dalam film terbarunya ini juga menyisipkan banyak kejutan untuk penonton, terutama penonton Indonesia dengan mengajak dua aktor laga Indonesia  Yayan Ruhiyan (Shinobi 1) dan Cecep (Shinobi 2) untuk turut bermain sebagai karakter kunci. Sekilas, keduanya terlihat kembar.

Secara keseluruhan, John Wick 3 menawarkan kerumitan cerita yang memang perlu sedikit konsentrasi untuk penonton yang tidak mengikuti dua seri sebelumnya. Banyaknya adegan laga dalam film ini pastinya diimbangi juga dengan darah yang muncrat dan luka-luka menganga yang diperlihatkan tanpa sensor. Kehadiran Yayan dan Cecep pada akhirnya membuat adegan laga di John Wick menjadi berkelas. Sebuah tontonan yang pantang terlewatkan di bulan Mei ini untuk pecinta film laga. (Wal)

Pokemon: Detective Pikachu, Petualangan Fantasi Dari Jepang ke Hollywood

Berawal dari games rumahan nintendo yang booming, karakter Pokemon terutama Pikachu akhirnya dikenal luas di seluruh dunia. Hadir bukan saja lewat merchandise atau anime semata, kini kita bisa melihat karakter Pokemon yang unik, menggemaskan, dan keren dalam “Pokemon: Detective Pikachu”. Semuanya tersaji dalam film live-action yang tayang Mei ini di seluruh bioskop Indonesia.

Dibintangi oleh sejumlah aktor Hollywood dan juga aktris seperti Ryan Reynolds, Justice Smith, dan Kathryn Newton, film ini diarahkan langsung oleh Rob Letterman. Orang yang ada di balik film seram Goosebumps.

Kisahnya sendiri dimulai saat seorang detektif bernama Harry Goodman menghilang secara misterius dari kota Ryme akibat kecelakaan mobil di sebuah pegunungan yang cukup jauh dari kota Ryme. Ryme sendiri diklaim sebagai kota tempat Pokemon dan manusia hidup berdampingan secara harmonis. Detektif Goodman yang punya putra bernama Tim (Justice Smith) dan tinggal berjauhan dengan sang ayah akhirnya pulang ke kota Ryme dan menemukan banyak kejanggalan dari kematian ayahnya.

Menariknya latar belakang Tim ternyata punya mimpi ingin menjadi pelatih pokemon. Saat Tim datang ke kota Ryme ia dikejutkan oleh Pikachu (Ryan Reynolds) yang bisa berbicara dan ada di apartemen sang ayah. Dari sini kisah pun bergulir dengan penuh tawa dan petualangan.

Bila ditilik ulang, sebelumnya film tentang Pokemon sudah hadir sejak Pokémon: The First Movie yang edar tahun 1998. Buat Anda yang suka dengan bermacam karakter Pokemon, beberapa di antaranya muncul dan bakal mengejutkan layar Anda, mulai dari Pancham, Dodrio, Braviary, Bulbasaur, hingga Squirtle, juga Snorlax.

Jadi secara keseluruhan film ini bukan saja mengobati kerinduan fans Pokemon. Tapi juga bisa menghibur penonton yang bukan fans Pokemon. Pikachu yang kali ini tampil bertopi adalah bintang tersendiri yang pantang terlewat. Dengan spesial efek yang seru dan penuh warna seperti mengingatkan kita akan negeri Jepang yang unik di masa depan, Pokemon: Detective Pikachu adalah tontonan wajib untuk Anda pekan ini. (Wal)Pokemon1Pokemon2Pokemon3Pokemon4

Long Shot: Segar 100%

Ini adalah sebuah komedi satir tentang cinta berlatar nuansa intrik politik nan kental di Amerika Serikat (AS). Bercerita tentang sosok Fred Flarsky (Seth Rogen) dan Charlotte Field (Charlize Theron), keduanya sudah berkenalan jauh sejak masih remaja. Sebuah peristiwa pada akhirnya membangkitkan lagi romansa keduanya. Field yang merupakan pejabat negara dihormati dan sedang berkampanye menjadi calon presiden perempuan Amerika Serikat pertama secara tidak langsung bertemu dengan Flarsky, seorang jurnalis urakan yang suka menulis secara sarkasme.

Setelah Flarsky kehilangan pekerjaan di sebuah media online karena idealismenya sendiri, sebuah acara mempertemukannya dengan Field dalam sebuah pesta yang menghadirkan grup musik era 90-an, Boyz II Men. Kekocakan dan peristiwa tidak terduga tentu terjadi di pesta formal ini yang pada akhirnya menghubungkan Flarsky dan Field. Bibit cinta itu pun tumbuh lagi.

Film ini sendiri punya jalan cerita yang menarik dan terbilang segar karena sutradara Jonathan Levine membalutnya dengan pakem yang bebas. Dalam artian kata-kata kasar dan umpatan serta tingkah laku para bintangnya yang “cenderung tidak senonoh”, tanpa diedit. Tentu ini artinya, film ini masuk klasifikasi tontonan untuk usia 17 tahun ke atas.

Seth Rogen yang dikenal juga sebagai komedian dan juga seorang stand up bermain cukup bagus di film ini dan sangat menjiwai perannya sebagai seorang jurnalis urakan. Sedangkan aktris Charlize Theron yang dikenal sebagai pemain drama berkualitas Oscar, tentu kapasitas aktingnya tidak perlu diragukan lagi. Perannya sebagai Menlu AS yang tegas dan anggun, dengan sempurna bisa dibawakannya.

Sebuah tontonan segar yang pantang dilewatkan tentunya pada akhir pekan ini. (Wal)

LONGSHOT1LONGSHOT2LONGSHOT3LONGSHOT4

Hotel Mumbai; Teror Tidak Terlupakan

Ada banyak versi film yang berkisah tentang serangan 26/11 di Mumbai, India. Yang terbaru datang dari sutradara asal Australia, Anthony Maras. Berbeda dengan film bertema serupa yang juga pernah dirilis, Maras menggarap film ini berdasarkan kisah langsung dari para survivor yang lolos dari tragedi dunia itu.

Taj Mahal Palace Hotel atau dikenal juga dengan “Taj” dan berlokasi di sisi ikonik bangunan “Getaway of India” menjadi setting utama dari film garapan Maras ini. Menariknya, beberapa lokasi dari film ini selain digarap di India juga mengambil setting di Adelaide, Australia.

Dipenuhi cast yang beberapa di antaranya populer di Hollywood seperti Dev Patel, Armie Hammer, hingga Jason Isaacs, film ini juga turut dibintangi oleh Nazanin Boniadi, Anupam Kher, Tilda Cobham-Hervey, dan Natasha Liu Bordizzo.

Kisah dimulai pada 26 November 2008, saat Arjun (dimainkan oleh Dev Patel) akan memulai kerjanya pagi itu di Taj Mahal Palace Hotel. Di bawah arahan chef Hemant Oberoi (diperankan oleh Anupam Kher), hari itu para staff hotel menerima briefing singkat tentang pekerjaan hari itu dan juga beberapa tamu penting yang akan datang. Salah satu tamu itu adalah pasangan suami-istri David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) juga putra mereka yang masih bayi Cameron dan pengasuh mereka Sally.

Selain rombongan keluarga terkenal di kota itu yang dikategorikan VVIP, ada juga Spasilnaz Vasili (Jason Isaacs) asal Rusia yang juga tamu langganan The Taj.

Singkat cerita, malam itu kemudian menjadi berbeda untuk para tamu hotel maupun staff-nya. Masuknya 4 teroris yang membabi buta di lobby hotel menjadi awal mimpi buruk di The Taj Mahal Hotel Mumbai hingga hari ketiga sejak tanggal 26 November 2008.

Banyak dialog menarik dalam film ini yang pantang terlewatkan oleh moviegoers, mulai dari penjelasan soal Turban yang dipakai oleh sosok Arjun hingga tentu saja dialog tentang agama dan kemanusiaan antara Zahra yang muslim namun turut menjadi korban dengan Vasili, bekas tentara Rusia yang juga terjebak di hotel itu.

Secara keseluruhan, inilah salah satu film tentang teror Mumbai yang terbaik dan rapi. Menyayat penuh drama tapi tetap punya plot yang seru. Pantang terlewatkan di April ini! (Wal)

 

 

 

Urban Reborn; Kolaborasi Toraja di Indonesia Fashion Week 2019


Desainer Sofia Sari Dewi kembali menampilkan karyanya di ajang bergengsi Indonesia Fasion Week 2019. Dalam kolaborasi Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara di pergelaran ‘Revisited Sarong by KOPIKKON’ oleh BEKRAF di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), desainer binaan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengusung sarung ke dalam karya yang tampil kekinian.

Di ajang ini, Sofia berkolaborasi dengan komunitas TorajaMelo x Toraja Utara sekaligus merayakan satu dekade keberhasilan TorajaMelo dalam melestarikan motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang nyaris punah.

TorajaMelo merupakan social enterprise yang peduli dengan seni dan budaya, khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan tradisional Indonesia.

Menurut Dinny Jusuf, Founder dan CEO TorajaMelo, social enterprise ini dibentuk tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kemiskinan perempuan pedesaan dengan menggunakan tenun. Selama satu dekade eksistensinya, TorajaMelo telah meremajakan beberapa pola tekstil tenunan tangan Toraja, salah satunya adalah Pa’bunga bunga yang akan ditampilkan dalam pagelaran kali ini. Ini adalah pertama kalinya motif tenun Toraja Pa’Bunga Bunga tampil di publik secara resmi.

Sepuluh tahun yang lalu, hanya dua penenun tua yang bisa menenun teknik lompat lungsi dengan motif geometrik ini. “Sekarang dengan berdirinya Koperasi Penenun Sa’dan Siangkaran sebagai mitra TorajaMelo, sudah banyak perempuan muda Toraja yang bisa menenun teknik ini,” urai Dinny dalam temu media di JCC, hari ini.

Dinny Jusuf mengatakan, untuk melestarikan tenun sekaligus mengangkat harga diri perempuan penenun, pihaknya menjalin kolaborasi dengan desainer, salah satunya adalah Sofia Sari Dewi. “Salah satu cara melestarikan tenun adalah berkolaborasi dengan generasi muda. Sejak awal tahun lalu TorajaMelo telah  bekerja bersama Sofia Sari Dewi,” ujarnya.

“Pada 2008 hanya ada dua orang nenek yang membuatnya. Jika tidak dilestarikan, maka motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang indah itu nyaris punah dan hanya tinggal nama,” imbuhnya.

Dinny menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak tenaga kerja perempuan yang kembali ke Toraja untuk menenun. “Sudah waktunya kain tenun kembali merajai fashion lokal Indonesia, perempuan penenun Indonesia dapat mencari uang di negerinya sendiri sambil mengasuh anaknya supaya tumbuh terdidik dengan baik ” ujarnya.

Sofia memiliki alasan sendiri mengapa mengangkat sarong (sarung) bertema ‘Urban Reborn’ dalam koleksinya. “Sarung sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia sejak lama. Orang Indonesia terlihat anggun dan gagah saat mengenakan sarung. Dengan mengangkat sarung menjadi sesuatu yang kekinian di ajang IFW 2019, saya berharap generasi muda mulai menerapkan #SarongIsOurLisestyle sebagai outfit-nya, serta bangga dengan jati dirinya” papar desainer kelahiran Yogyakarta, 2 November 1983.

“Tahun ini, saya berkolaborasi dengan TorajaMelo dan Toraja Utara, ini adalah area IKKON (Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) 2017, yang kebetulan mentornya Ibu Dinny dari social enterprise TorajaMelo,” urai Sofia, yang pernah terpilih untuk mengikuti program unggulan pemerintah Indonesia melalui BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia), IKKON 2016.

Sebagai informasi, pada tahun 2018, Sofia juga memanaskan Indonesia Fashion Week berkolaborasi dengan komunitas Indigo Ikat Lango, Ngada dengan menghadirkan tenun dengan warna baru yang eksotik yaitu ‘Indigo Deep Blue Sea’. Karya itu terinspirasi dari kecintaannya terhadap kebudayaan di daerah Ngada, di propinsi Nusa Tenggara Timur dimana ia menyumbangkan waktu dan ide-idenya sebagai peserta IKKON 2016.

Di ajang IFW 2019, Sofia menggunakan sarung yang ‘disulap’ dalam outfit kekinian dalam 9 look, yaitu 5 untuk pria dan 4 untuk wanita. “Sarung bisa dimodifikasi tampil kekinian dan modis sehingga cocok dikenakan sebagai outfit harian,” imbuhnya.

Dan menurut Sofia, perhelatan akbar Indonesia Fashion Week merupakan momen yang tepat untuk lebih memasyarakatkan sarung. Dinny setuju dengan pendapat itu. Menurutnya, Indonesia Fashion Week 2019 akan menjadi ajang yang baik bagi generasi muda untuk bangga #SarongIsOurLifestyle, hashtag (tagar) yang diusung #TorajaMeloXSofiaSariDewi dalam kampanye digitalnya.

Dalam pergelaran ini, Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara didukung oleh JNE, yang mengusung jargon “Connecting Happiness” dan “Menginspirasi Negeri” yang selaras dengan tagline TorajaMelo, Weaving The Stories Of Indonesia.

Last but not least, Dinny mengajak generasi muda untuk menghargai sarung. “Mari nikmati desain sarung Sofia untuk merayakan kekayaan kain tenunan Indonesia di Indonesia Fashion Week 2019,” pungkasnya.

“Indonesia bagaikan perpustakaan budaya raksasa yang memiliki keanekaragaman yang mampu membuat jemari tidak berhenti menari. Inilah, Indonesiaku!” – Sofia Sari Dewi

*

Sekilas tentang TorajaMelo

TorajaMelo dibentuk pada 2008, didasari kecintaan Dinny Jusuf akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.

Dinny tergerak mendirikan TorajaMelo karena melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami para perempuan di pedesaan. Melalui TorajaMelo, Dinny ingin menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan menghargai hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini dilakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka.

Hingga kini, banyak sudah yang tertarik untuk terus berkarya dengan menenun sekaligus merangsang generasi muda untuk tertarik terjun menjadi penenun.

TorajaMelo fokus kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog, sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka.

Para penenun di daerah-daerah terpencil didorong untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut. Mereka juga diajak menciptakan tenun dengan warna yang lebih kekinian serta bahan mentah yang lebih nyaman seperti kapas, sehingga kain tenun semakin digemari oleh masyarakat umum, khususnya pecinta kain tradisional. Agar lebih diterima masyarakat luas, koleksi kain tenun TorajaMelo ditampilkan bukan saja dalam wujud kain tetapi juga busana trendy yang dibuat dari tenun, aksesoris serta cinderamata berkualitas.

 

TorajaMelo merangkul komunitas sekitar seribu perempuan penenun di Toraja dan Mamasa, Sulawesi dan Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mimpi Toraja Melo adalah bekerja dengan sedikitnya lima ribu penenun Nusantara.

 

Menanti Produksi Titimangsa Foundation ke-30; Cinta Tak Pernah Sederhana

Pada 8 Maret lalu, Titimangsa Foundation mengumumkan produksinya yang ke-30, ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’, sebuah pementasan konser musikal yang mengangkat puisi-puisi cinta Indonesia.

Gelaran ini merupakan kolaborasi antara PT. Balai Pustaka (Persero) bekerjasama dengan Titimangsa Foundation sebagai bentuk komitmen terhadap upaya untuk mengangkat karya sastra Indonesia terutama puisi ke dalam seni pertunjukan yang rencananya akan dipentaskan pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Konser musikal ini diselenggarakan sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata. Indonesia banyak memiliki penyair yang puisi-puisinya menjadi sebuah penanda perkembangan intelektual bangsa.

Puisi-puisi cinta yang indah dan ditulis oleh para penyair Indonesia akan menjadi ‘angin keindahan yang menyejukkan’. Pementasan ini juga akan menampilkan puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia. Kurang lebih ada 26 penyair Indonesia yang penggalan karya puisinya dijadikan dialog dalam pementasan ini. Puisi-puisi itu disusun menjadi percakapan atau dialog, nyanyian dan diwujudkan ke dalam tata visual yang indah dan megah, dalam bentuk Konser Musikal.

Ide cerita dari pementasan ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi terasing, jauh dari bumi, dan merindukan puisi. Yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini, ketika manusianya makin terasing karena terjadi bermacam perubahan nilai, guncangan sosial bahkan disrupsi nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Ketika politik menguasi ruang publik, ketika politik sudah begitu membuat masyarakat tegang, maka puisi bisa menjadi angin penyejuk yang menyegarkan. Atau dalam ungkapan puisi Sapardi, pertunjukan ini akan membuat kita kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana. Puisi mengatasi kerumitan, melampaui kemanusiaan dengan keindahan yang dibawanya. Pementasan konser musikal yang digelar 2 hari ini merupakan hasil dari komitmen, kerja keras, serta konsistensi dan kecintaan seluruh tim pendukung dalam menampilkan karya sastra yaitu puisi dari sastrawan kebanggaan Indonesia.

“Balai Pustaka sejak berdirinya merupakan rumah bagi karya sastra Indonesia. Judul-judul sastra klasik terbitan Balai Pustaka seperti Layar Terkembang dan Salah Asuhan, telah menjadi karya yang terus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Salah seorang penyair yang puisinya ada di pementasan ini adalah Soebagio Sastrowardoyo yang selama bertahun-tahun menjabat direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka. Kiprah Soebagio Sastrowardoyo dan penyair-penyair Indonesia lainnya inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Balai Pustaka sebagai perusahaan penerbitan yang terus berusaha untuk mengenalkan dan mempopulerkan kembali karya sastra klasik dan modern, sungguh sangat antusias dengan adanya pementasan ini. Penyelenggaraan konser musikal ini sejalan dengan visi dan misi Balai Pustaka sebagai korporasi pelestari dan pengembang budaya. Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” ujar Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Selain itu, Happy Salma selaku founder Titimangsa Foundation mengungkapkan, “Sastra merupakan nutrisi batin bagi saya. Jiwa saya selalu terasa penuh bila sedang menikmati karya sastra entah itu fiksi atau puisi. Hasrat itu mendorong saya untuk terus konsisten dalam menghasilkan karya yang merupakan alih wahana dari karya sastra. 2 tahun lalu saya membayangkan suatu kemungkinan pemanggungan puisi-puisi cinta karya para penyair Indonesia. Pentas yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi. Dalam obrolan bersama Agus Noor, saya menyampaikan kemungkinan itu. Ia menyambut dan mengembangkannya ke dalam suatu konsep pertunjukan yang tidak terduga. Mengangkat puisi-puisi cinta karya 25 penyair Indonesia, dan menghadirkannya ke panggung menjadi suatu alur kisah dalam percakapan dan nyanyian. Ide ini disambut dengan antusias oleh PT. Balai Pustaka (Persero). Terlebih konsep pertunjukan yang kami sodorkan sangat berkaitan dengan upaya memperkenalkan karya para sastrawan Indonesia. Sebagai orang yang mengenal karya sastra Indonesia lewat buku-buku terbitan Balai Pustaka, saya begitu terharu bisa bekerjasama.”

“Pementasan kali ini adalah istimewa bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi para aktor yang terlibat. Mereka disini bukan hanya berakting, tapi juga mereka dijui untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, dialog tersebut akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi. Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil dari kecerdasan sang sutradara yang mempunyai wawasan luas dalam puisi dan sastra Indonesia, dalam mengolah banyak kata-kata dari banyak puisi, hingga tersusun dengan indah menjadi jalinan dialog dan alur cerita,” Happy Salma menambahkan.

Bagi Titimangsa sendiri, pementasan ini bertambah menakjubkan dengan bergabungnya deretan nama-nama yang sangat berdedikasi di bidangnya mulai dari pemain sampai kreator di balik panggung. Menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa. Menghadirkan pula sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama dan penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai Narator. Kemudian penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Indonesia Maya Hasan. Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Happy Salma sebagai Produser, Agus Noor sebagai Sutradara dan Penulis Naskah, Iskandar Loedin sebagai Penata Artistik, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum. Pemain-pemain dalam pementasan ini hampir semua bernyanyi dengan diiringi musik yang indah dari Penata Musik Bintang Indrianto dan koreografi menawan garapan Koreografer Josh Marcy. Pementasan kali ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya karena adanya sebuah kolaborasi antara seni pertunjukan dengan fashion. Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ ini menggambarkan awal mula penciptaan: Awal mulanya adalah kata. Kata-lah, yang membuat kita mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama, yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama (yakni bahasa). Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa. Ia adalah penyair pertama di surga. Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Dan munculah perempuan, sang kekasih. Keduanya menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta memang tak pernah sederhana, hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia: menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.

Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta? Seperti dalam sajak Rendra: “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!” Dan penyair itu memperjuangkan cintanya. Tapi cinta mereka tak pernah sederhana. Kerinduan dan kesedihan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Maka Kau adalah mata, aku airmatamu. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa, dan kemudian meninggal dunia.

Penyair itu sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul: mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana. Kemudian si penyair ditangkap, dimatikan: inilah nasib getir si penyair. Tapi semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan. Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Dan ia pun menjadi semakin menemukan nilai spiritual. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan, Begitu, cinta, meski tak sederhana, membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia modern, yang menemukan pencerahannya. (Wal)

Japan Travel Fair 2019 Semakin Meriah dan Seru !

JTF Image 1JTF Image 2JNTO yang dikenal juga sebagai Japan National Tourism Organization menggelar Japan Travel Fair pada 1-3 Maret lalu. Event tahunan yang telah berjalan di tahun ke-11 ini merupakan salah satu yang ditunggu juga oleh wisatawan Indonesia yang ingin berkunjung ke Jepang. Tidak salah memang karena Jepang saat ini tercatat sebagai salah satu tujuan wisata favorit yang dikenal juga dengan berbagai pesona keindahannya.

Tercatat, wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Jepang, peningkatannya juga cukup signifikan. Selama tahun 2018 telah meningkat menjadi 12,7% sehingga menjadi 400.000 wisatawan. Meningkatnya minat kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang merupakan imbas positif dari promosi gencar yang dilakukan otoritas pariwisata Jepang selain dukungan agen perjalanan dan maskapai penerbangan. Salah satunya tentu lewat penawaran paket wisata dan juga tiket pesawat yang dilego dengan harga terjangkau.

Last but not least, fasilitas bebas visa dengan e-passport juga membuat wisatawan Indonesia semakin tertarik datang dan mengeksplorasi keindahan serta keunikan budaya Jepang. Hal ini pulalah yang mendasari Japan National Tourism Organization (JNTO) Jakarta secara aktif mendorong wisatawan untuk berkunjung ke negeri sakura.

Mengambil tempat di Food Society, Grand Atrium dan Mosaic Walk, Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Japan Travel Fair 2019 ini sangat meriah. Dibuka oleh Executive DirectorJNTO Jakarta, Izumi Amano. “Negeri Jepang menawarkan beragam destinasi yang menarik seperti kuil, pantai, pegunungan, bunga sakura, museum, area ski dan lain sebagainya. Tercatat juga ada 47 prefektur di Jepang dengan destinasi wisata yang unik dan menarik”, kata Izumi dalam sambutannya.

Selain destinasi wisata populer, Japan Travel Fair 2019 juga memperkenalkan sejumlah daerah wisata alternatif di Jepang untuk wisatawan Indonesia seperti:

– Daerah Chugoku (Prefektur Hiroshima, Okayama, Shimane, Tottori dan Yamaguchi)

– Daerah Chubu (Prefektur Aichi, Fukui, Gifu, Ishikawa, Mie, Nagano, Shizuoka, Toyama, Niigata dan

Yamanashi)

– Hokkaido

– Daerah Kyushu (Prefektur Fukuoka)

“Masing-masing tujuan wisata memiliki karakteristik yang unik. Jika selama ini wisatawan sudah lebih dulu mengenal Tokyo, Kyoto, Osaka, maka di ajang Japan Travel Fair 2019 ini kami menawarkan dan mempromosikan destinasi lain yang tak kalah menarik”, ujar Izumi Amano di sela-sela pembukaan Japan Travel Fair 2019.

 

Ajang Japan Travel Fair 2019 sendiri didukung oleh 22 agen perjalanan, 5 maskapai penerbangan, 1 bank partner yaitu Bank Mandiri dan Sabre TN Indonesia, serta partner pendukung lainnya yaitu Fujifilm Indonesia dan Sweet Escape.

Bank Mandiri sebagai bank partner resmi ‘Japan Travel Fair 2019’ juga telah mempersiapkan sejumlah penawaran menarik bagi wisatawan yang akan mengunjungi Jepang. Vira Widiyasari, Senior Vice President Credit Cards Group Bank Mandiri, mengatakan bahwa Jepang masih menjadi destinasi favorit bagi nasabah Bank Mandiri. Hal tersebut terbukti dari meningkatnya jumlah transaksi kartu Mandiri di Jepang sebesar 37% pada tahun 2018. “Atas dasar tersebut, Bank Mandiri pun memberikan penawaran terbaik bagi pemegang Mandiri Kartu Kredit maupun Mandiri Debit yang ingin berlibur ke Jepang”, tukas Vira. (Wal)

 

 

 

 

 

 

Solusi dan Kenyamanan Perjalanan Bagi Traveler Lewat Sompo Insurance

Ada banyak asuransi khusus perjalanan yang beroperasi di dunia. Salah satunya datang dari Jepang, yaitu Sompo Insurance Indonesia (SII). Ini tercatat juga sebagai salah satu asuransi perjalanan resmi pada ASTINDO Travel Fair 2019 (ATF 2019) yang lalu.

Tercatat juga asuransi dari Jepang ini mendukung pameran produk-produk perjalanan ATF 2019 yang diselenggarakan serentak di empat (4) kota yaitu, Jakarta, Surabaya, Palembang, dan Denpasar hingga 24 Februari 2019.

Saat ini memang berlibur ke dalam negeri maupun ke luar negeri telah menjadi tren leisure economy bagi wisatawan Indonesia dalam kurun waktu dua (2) tahun terakhir. Didukung dengan daya beli masyarakat Indonesia yang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi saat ini sebesar 5%. Berkaitan dengan hal tersebut, kesadaran untuk mengasuransikan perjalanan, mulai menggeliat naik. Hal inilah yang memperkuat SII untuk selalu hadir menjadi penyedia solusi bagi para traveler sekaligus memberikan kesadaran pentingnya berasuransi dengan produk andalannya, Asuransi Perjalanan Sompo TravelFirst.

Sompo TravelFirst sendiri hadir dengan berbagai pilihan perlindungan sesuai kebutuhan nasabah. Beberapa manfaat perlindungan Sompo TravelFirst di antaranya ada:

• Perlindungan medis. Melindungi dari kecelakaan diri, evakuasi medis darurat, hingga santuan rawat inap.
• Ketidaknyamanan perjalanan/tanggung jawab hukum. Mulai dari kehilangan atau kerusakan bagasi hingga kehilangan dokumen perjalanan dan uang.
• Manfaat tunai. Memberikan uang penggantian untuk keterlambatan bagasi hingga penundaan perjalanan.
• Jaminan tambahan. Melindungi dari terorisme, kecelakaan di bawah air, kehilangan atau kerusakan peralatan golf, hingga perlindungan isi rumah saat bepergian.

Dalam kesempatan ATF 2019, Hiroki Waki selaku Direktur Sompo Insurance Indonesia, juga menjelaskan lebih jauh, “Nasabah dapat menikmati seluruh manfaat-manfaat ini dengan memilih paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Paket-paket ini dapat diakses secara digital di website https://www.sompo24.co.id/travel. Perlindungan dengan value lebih ini, dilengkapi dengan layanan penunjang yang sigap melayani pertanyaan hingga klaim nasabah selama 24 jam dalam 7 hari seminggu, baik dari dalam maupun luar negeri”.

Ditambahkannya, “Akses mudah melalui digital dan konsistensi untuk memberikan solusi yang terbaik kepada nasabah, menjadi kunci kami. Hal ini, sesuai dengan visi perusahaan untuk terus berinovasi memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah, serta menjadi penyedia solusi asuransi yang terdepan, baik untuk produk asuransi perjalanan, maupun produk asuransi lainnya yang kami tawarkan.”

Berkaitan dengan kehadiran Sompo TravelFirst di ATF 2019, para pengunjung juga dapat langsung menikmati berbagai promo, yaitu:

• Gratis Asuransi Perjalanan. Baik domestik maupun internasional setiap pembelian tiket di ATF 2019.
• Diskon 30%. Untuk seluruh paket Sompo TravelFirst.
• Lucky draw. Untuk setiap pembelian dengan hadiah menarik seperti, sepeda gunung, TV, hingga berbagai merchandise lainnya.
• Social media activation. Di Sompo TravelFirst booth, pengunjung dapat upload foto ke social media mereka dan akan mendapatkan merchandise gratis.
• Produk kendaraan mobil terbaru: Long Term Motor Protection dengan Sompo Drive.

Menariknya, pengunjung dapat juga membeli asuransi ini dengan berbagai promo menarik salah satunya, dapat mengikuti permainan di Sompo Drive dan bisa memenangkan vouher belanja.

Maria Susana selaku Head of Travel and Affinity, SII menjelaskan, “Para pengunjung yang datang dan melakukan transaksi tiket di booth Travel Partner selama periode pameran berlangsung, akan mendapatkan asuransi gratis dengan manfaat perlindungan in flight hingga Rp 200 juta dan pembatalan perjalanan hingga Rp 50 juta.
Tak hanya itu, pembeli akan secara otomatis mendapatkan merchandise gratis selama periode pameran berlangsung dengan mengunjungi booth Sompo Insurance. Apabila ingin memaksimalkan perlindungan yang didapat, pengunjung dapat langsung membeli asuransi perjalanan short trip atau annual trip di booth Sompo Insurance dengan diskon 30%. Tak hanya itu, pembeli juga berhak mengikuti lucky draw untuk memenangkan berbagai hadiah menarik seperti sepeda, TV, Tas Gunung dan masih banyak lagi”.

Ditambahkannya, “Kami selalu berusaha memberikan berbagai kemudahan dan promo menarik untuk pengunjung, tak hanya untuk membeli produk, namun juga dapat secara langsung memberikan kesadaran kepada pengunjung betapa pentingnya melindungi perjalanan liburan dari berbagai potensi risiko di perjalanan. Yang paling utama dari sebuah perjalanan adalah merasa aman dan nyaman dimanapun pengunjung berada”. (Wal)