Crawl; Berpacu Waktu Melawan Buaya

Alexandre Aja dikenal sebagai salah satu sineas Hollywood yang punya spesialisasi di film-film dengan tema bencana, musibah, dan juga teror fantasi. Beberapa karyanya antara lain ada “Piranha 3D”, “The Hills Have Eyes”, hingga “Horns”. Alexandre juga dikenal sebagai sineas yang sering memberikan adegan-adegan jumpscare untuk para penontonnya, termasuk dalam film dengan judul pendek ini, Crawl.

Film yang mengangkat kisah tentang beberapa kawanan buaya atau aligator yang ikut hadir dalam sebuah bencana badai tingkat 5 di sebuah kota di kawasan Florida, Amerika Serikat ini konon diangkat berdasarkan sebuah kisah nyata beberapa tahun lalu.

Adalah Haley Keller (diperankan dengan baik oleh Kaya Scodelario), seorang atlet perenang yang mencoba mencari sang ayah, Dave (Barry Pepper) yang ternyata tidak bisa dihubungi dan masih terjebak di rumah lama mereka yang sudah hampir tenggelam.

Mengambil setting sebagian besar di ruangan bawah tanah rumah keluarga Haley, film ini pun dimulai saat Haley menemukan sang ayah yang terluka karena gigitan aligator raksasa. Bukan hanya ada satu, ternyata aligator ini sudah berkembang biak dan “pindah” ke basement rumah Haley. Rupanya waduk yang bocor karena badai adalah penyebab para aligator bermigrasi lalu berburu makanan.

Di antara pipa-pipa sempit di ruang bawah tanah rumah keluarga Haley yang lembab dan sebagian sudah terendam air dari badai dashyat, pertarungan Haley dan ayahnya untuk selamat dari serangan para aligator nan liar dan kelaparan menjadi plot cerita utama yang ditawarkan oleh film Crawl untuk para penonton.

Siapkan diri untuk loncat dari bangku Anda dalam film dengan durasi 1 jam 27 menit ini. Sebuah tontonan seru, menegangkan, yang ternyata tidak chessy seperti saat menengok trailer-nya beberapa waktu lalu. (Wal)

Crawl-Movie-2019-Early-Reactions-Social-MediaCRAWL1sinopsis-film-crawl-yang-tayang-10-juli-2019-tentang-teror-buaya-di-tengah-badai

 

 

 

Iklan

OREO x Spiderman Hadirkan Keseruan Far From Home

Pada 2 Juli 2019, OREO sebagai salah satu brand biskuit dari Mondelēz International menghadirkan keseruan baru untuk masyarakat Indonesia lewat film SPIDER-MAN Far From Home.

Dalam sesi jumpa media di Senayan City pada hari itu, Sachin Prasad yang juga Presiden Direktur Mondelēz Indonesia mengatakan bahwa di dunia dengan stres dan tekanan hidup dapat mengurangi keceriaan, untuk itu OREO pun mengajak masyarakat untuk mewujudkan imajinasi lewat kompetisi foto kreatif ala SPIDER-MAN. “Sebagai merek biskuit yang dicintai seluruh lapisan masyarakat, kompetisi ini adalah wujud nyata untuk  secara konsisten mengingatkan kembali masyarakat dalam merayakan serunya kehidupan”, katanya.

Kompetisi foto #OREOSpidermanID sendiri berlangsung cukup panjang dari 17 Juni – 11 Agustus 2019 dan masyarakat juga berkesempatan untuk memenangkan hadiah utama berupa perjalanan mengunjungi berbagai lokasi syuting film SPIDER-MAN Far From Home yang ada di Eropa. Caranya juga terbilang mudah, yaitu dengan mengunggah foto bersama OREO kemasan apapun lalu berpose ala SPIDER-MAN, untuk kemudian di-upload ke media sosial plus mencantumkan tagar #OREOSpidermanID sekaligus tag 5 orang teman untuk ikutan juga.

Kompetisi ini sendiri dibagi menjadi 5 periode yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Periode 1: 17 – 30 Juni 2019
  • Periode 2: 1 – 7Juli 2019
  • Periode 3: 8 – 14 Juli 2019
  • Periode 4: 15 – 18 Juli 2019
  • Periode 5: 29 Juli – 11 Agustus 2019

Selain hadiah utama yang menggiurkan, OREO juga menyediakan berbagai hadiah hiburan yang tak kalah menarik berupa 2 drone di setiap periodenya. Informasi lebih lanjut tentang kompetisi ini dapat ditemukan di https://www.oreospiderman.com/id.

Maggie Effendy selaku Head of Biscuit, MondelēzIndonesia mengatakan bahwa bertepatan dengan pemutaran film SPIDER-MAN Far From Home, kemasan edisi khusus SPIDER-MAN juga ikut diluncurkan. OREO edisi khusus SPIDER-MAN bisa didapatkan pada varian OREO Vanilla 137 gram, OREO Cokelat 137 gram, OREO Vanilla 68,5 gram, OREO Cokelat 68,5 gram dan OREO Softcake.

Selain menghadirkan kemasan edisi khusus SPIDER-MAN, OREO juga mengajak masyarakat Indonesia untuk merasakan keseruan bersama di arena SPIDER-MAN Far From Home yang diadakan di atrium lantai 1 (satu) Senayan City, Jakarta mulai tanggal 28 Juni hingga 21 Juli 2019.

Ingin ikut keseruannya? Cukup membawa struk ALFAMART untuk pembelian ragam produk OREO senilai Rp25.000,- (dua puluh limaribu Rupiah) saja pengunjung sudah bisa menikmati bermacam aneka permainan seperti flying fox, wall climbing dan trampoline. Asyik kan?

“Dengan menghadirkan keseruan bersama SPIDER-MAN, OREO berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang di Indonesia untuk terus terhubung dengan dunia dan orang-orang di sekitarnya sehingga mereka bisa saling berbagi imajinasi dan merasakan keseruan bersama,” tutup Maggie. (Wal)

WhatsApp Image 2019-07-15 at 10.39.22-2WhatsApp Image 2019-07-15 at 10.39.22WhatsApp Image 2019-07-15 at 10.39.23

 

Childs Play; Boneka Horor Rasa Milenial

Chucky dikenal sebagai salah satu boneka horor paling legendaris di jagat Hollywood. Dan tahun ini remake tentang boneka ‘setan’ ini sudah hadir kembali untuk meneror para moviegoers. Judulnya, Childs Play. Sebelumnya Chucky pertama kali edar pada tahun 1988 dan sukses meneror penonton.

Dalam versi terbarunya, Chucky dijelaskan sebagai boneka buatan pabrik yang mengalami error karena suatu hal. Seperti zaman yang sudah berubah, Chucky versi milenial pun digambarkan sudah digital savvy. Kali ini Chucky versi modern bernama Buddi. Sebuah boneka yang bisa menjadi kawan untuk keluarga.

Diproduseri oleh Seth Grahame-smith dan David Katzenberg, film produksi Orion Pictures ini diarahkan oleh Lars Klevberg dan naskahnya ditulis oleh Tyler Burton Smith dengan sejumlah bintang yang tampil antara lain ada Aubrey Plaza, Gabriel Bateman, Brian Tyree Henry, Mark Hamill, Tim Matheson, dan David Lewis.

Penampilan baru Chucky sebagai pembunuh legendaris tetap masih menjadi bumbu seru dalam film berdurasi satu jam tiga puluh menit ini walaupun tidak banyak adegan berdarah-darah seperti yang disajikan pada film sebelumnya. Untuk yang suka dengan tontonan horor, Childs Play bisa menjadi alternatif tontonan seru pada pekan ini bersama keluarga. (Wal)

 

 

 

 

Yesterday; Komedi Romantis Berbalut Lagu-lagu The Beatles

Danny Boyle, sineas asal Inggris yang dikenal dengan sederet karya independennya namun punya stopping power di ingatan banyak orang seperti 28 Days Later dan 127 Hours kembali lagi menghibur para moviegoers dengan “Yesterday”. Film komedi musikal yang menghanyutkan dan berbalut fantasi tentang kejayaan The Beatles, salah satu band legendaris asal Inggris.

Film ini sendiri ditulis naskahnya oleh Richard Curtis (dikenal lewat Love Actually, Bridget’s Jones Diary, dan About Time). Sebuah film romantis yang membuat siapa pun penyuka The Beatles akan termanjakan.

Bercerita tentang musisi bernama Jack Malik (Himesh Patel), penyanyi dan juga penulis lagu yang mati-matian berjuang memperkenalkan musiknya ke semua orang di kota bernama Clanton-on-sea bersama Ellie (Lily James), yang juga jadi manajernya. Ellie sendiri merupakan teman masa kecil Jack. Diam-diam Jack juga menyimpan hati dengan sosok Ellie yang dinilai bisa mengerti kemauannya yang moody. 

Sebuah peristiwa, yang membuat Jack ditabrak bus saat listrik di seluruh dunia padam selama 12 detik membuat dunia Jack akhirnya berubah total. Peristiwa itu membuat Jack akhirnya bisa “memperkenalkan” lagu-lagu lawas dari The Beatles pada khalayak dunia. Semesta berpikir itu lagu-lagu baru gubahan seorang Jack. Padahal..

Selain menawarkan skrip yang kocak dan penuh inspirasi, ada juga bintang tamu, musisi terkenal dunia Ed Sheeran dalam film ini. Ada sosok Debra (Kate McKinnon) yang dalam film ini digambarkan sebagai manajer Ed Sheeran dan ingin mengorbitkan Jack ke industri rekaman yang gemerlap.

Konflik batin Jack yang merasa berdosa, tenar tapi memakai lagu-lagu The Beatles yang dilupakan dunia akibat kejadian mati listrik 12 detik akhirnya menjadi intisari film berdurasi hampir dua jam ini.

Untuk moviegoers yang ingin bernostalgia dengan kejayaan band The Beatles, seperti “Let it Be” hingga “Yesterday”, ini adalah tontonan lengkap yang membuat jiwa nyaman. Film ini juga menawarkan napak tilas mengesankan untuk kamu yang punya jiwa petualangan. Ada scene seru di berbagai lokasi di Liverpool, yang juga jadi kota kelahiran The Beatles, mulai dari Strawberry fields, Penny lane hingga makam Eleanor Rigby. Semua lokasi yang menjadi inspirasi lagu-lagu The Beatles tentunya. Sebuah tontonan musikal di musim panas tahun ini yang pantang terlewatkan tentunya. (Wal)

 

 

 

Menuju Malam Penganugerahan Trisakti Tourism Award

Pekan lalu, tepatnya pada Sabtu 28 Juni 2019, berlangsung media conference Trisakti Tourism Award di Jakarta Convention Center, Jakarta. Sedianya pada jadwal semula, malam Penganugerahan Trisakti Tourism Award 2019 rencananya juga akan diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo dan Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri satu hari sebelumnya, atau pada 27 Juni 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), namun ditunda hingga waktu yang akan diberitahukan dalam waktu dekat.

Seperti telah diketahui bersama, Trisakti Tourism Award 2019 adalah sebuah penghargaan yang baru pertama kali diselenggarakan untuk pemerintah daerah di Indonesia. Penghargaan ini sendiri akan diberikan kepada pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang berprestasi dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan sektor pariwisata dengan semangat Trisakti-nya Bung Karno. Konsep Trisakti sendiri adalah sebuah konsep yang digagas oleh Bung Karno: Berdaulat di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Budaya.

Gelaran yang diprakarsai oleh Wiryanti Sukamdani dan didukung oleh Majalah Destinasi Indonesia ini bertujuan untuk mendorong pemerintah daerah memajukan sektor pariwisata di daerahnya. Sekaligus memberikan penghargaan bagi pemerintah kabupaten dan kota  yang berkomitmen dalam pembangunan kepariwisataan. Sasarannya adalah menjadikan sektor pariwisata sebagai unggulan daerah serta meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari sektor pariwisata.

Jumlah peserta yang sudah masuk hingga batas akhir pendaftaran telah mencapai 60 pemerintah kabupaten dan kota. Penjurian pun sudah berlangsung pada 21 Juni 2019.  Dewan juri menilai dan bersidang dengan proses pemilihan menggunakan parameter yang telah disepakati bersama pada diskusi juri untuk menetapkan 15 pemenang dari 5 (lima) kategori: wisata bahari, ekowisata, wisata petualang, wisata warisan budaya dan sejarah, serta wisata kuliner dan belanja.

Kriteria penilaian sendiri berdasarkan kompilasi, tabulasi, dan verifikasi melalui pengisian formulir pendaftaran. Plus, video profil destinasi wisata yang di dalamnya terdapat visi dan misi pemda, implementasi pembangunan pariwisata, keunggulan pariwisata daerah, atraksi, aksesibilitas, serta amenitas.

Dari susunan keorganisasian, Ketua Dewan Juri Trisakti Tourism Award adalah Sapta Nirwandar, Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center (pakar pariwisata). Anggota dewan juri: Adi  Satria, Vice President Sales Marketing and Distribution AccorHotels (pakar perhotelan); David Makes, ChairmanSustainable Management Group (pakar ekowisata); Ning Sudjito,  Dewan Kehormatan Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia/APJI(pakar kuliner)– yang pada press conferences diwakili oleh Siti Radarwati, Sekretaris Jendral Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia/APJI (pakar kuliner); Budi Tirtawisata, CEO Panorama (pakar perjalanan wisata); Hermawan Kertajaya, Founder & CEO MarkPlus  (pakar pemasaran)– yang pada press conferences diwakili oleh Mochamad Nalendra Pradono Executive Director of MarkPlus Center for Tourism and Hospitality; dan Ayu Dyah Pasha, Ketua Ikatan Pencinta Batik Nusantara (pakar etika).

Pekan lalu, Trisakti Tourism Awarddimeriahkan bersamaan dengan acara Destinasi Indonesia Expo & Conference. Sebuah pameran yang berperan sebagai media untuk memperkenalkan destinasi wisata di Indonesia kepada masyarakat umum. Pameran ini dilangsungkan di Jakarta Convention Center (JCC) pada 27 hingga 29 Juni 2019 dan dibuka oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif IndonesiaTriawan Munaf pada 27 Juni 2019.

Destinasi Indonesia Expo diikuti setidaknya oleh 119 peserta yang mempromosikan potensi pariwisata daerah. Potensi tersebut mulai dari atraksi, amenitas, dan aksesibilitas,  seperti daya tarik wisata, penerbangan, hotel, cinderamata, hingga kuliner. Pameran ini juga memperkenalkan program-program terkait pariwisata yang disiapkan pemerintah daerah dan biro perjalanan, sehingga pengunjung bisa langsung melihat paket-paket wisata daerah yang menarik.

Destinasi Indonesia Expo dilengkapi dengan konsep lifestyle dan nuansa digital. Dilengkapi dengan virtual reality experience untuk kampanye pariwisata yang menarik pengunjung milenial.

Sedangkan Destinasi Indonesia Conference adalah Konferensi Destinasi Indonesia dan  merupakan ajang berkumpul sekaligus urun rembuk seluruh pihak yang berkepentingan dalam pariwisata dan destinasi Indonesia dengan tujuan untuk menemukan dan mengenali potensi serta menggali ke arah mana pembangunan pariwisata dan destinasi wisata daerah dikembangkan dalam era ekonomi 4.0.

Acara ini sendiri dibuka oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tjahjo Kumolo. Dihadiri juga oleh sederet para pakar dalam industri pariwisata, seperti: Lutfi Rauf (Deputi Kemenko Polhukam RI), Sapta Nirwandar (Chairman Indonesia Halal Lifestyle Center), Joseph Saul (Direktur Utama Sriwijaya Air), John Safenson (Vice Pesident of Market management Accomodation Traveloka), Saidkomil Holhojavu (Kepala Departemen Moslem Tourism Kemanterian Pariwisata Usbekistan),  dan Trinity (The Naked Traveler). Diikuti oleh pemerintah daerah dan kota seluruh Indonesia, industri dan praktisi pariwisata, serta akademisi pariwisata. (Wal)Photo (2)Photo (3)Photo (4)Photo (6)

 

Dark Phoenix; Kekuatan Lain Jean Grey

Karakter mutan Jean Grey dalam dunia X-Men tergolong menarik. Tidak heran bila kemudian karakter yang pada awal-awal kemunculannya di film live-action X-Men sejak awal tahun 2000 dan sempat dimainkan oleh si cantik Famke Janssen ini pada akhirnya dibuat spin-off juga.Tahun ini kita bisa menyaksikannya dalam Dark Phoenix.

Dalam versi spin-off-nya ini, Dark Phoenix diarahkan oleh Simon Kinberg dan mengambil setting pada awal kelas X-Men dimulai pada dekade awal 80-an. Cerita film ini dimulai lewat sosok Jean Grey ( Sophie Turner) yang punya karakter merusak lewat pikirannya. Mentalnya dikabarkan sangat terganggu akibat kecelakaan orang tua yang berakhir pilu dan membuat dia pun harus masuk “rehab” alias diasuh oleh Profesor Xavier alias Prof X (James McAvoy) yang mengenal betul ‘potensi’ anak ini. 

Kehidupan Jean Grey di awal-awal tahun kelas X Men tampak tidak ada aral melintang sampai sebuah kejadian di awal tahun 90-an membuat Jean Grey hampir tewas. Selepas kejadian di langit angkasa demi sebuah misi penyelamatan sekelompok astronot Amerika dari bahaya suar matahari yang mematikan, Jean Grey pun harus berhadapan dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba lebih kuat dan emosinya semakin tidak terkontrol.

Rupanya energi yang diserap oleh Jean Grey saat berada di luar angkasa akhirnya mengikuti dia dan membawa dampak negatif untuk dunia. Ada sekelompok alien yang mengikuti kekuatan itu dan mengincarnya tentu. Jean Grey yang galau pun akhirnya menghancurkan semuanya, termasuk memporak-porandakan pulau milik Erik atau magneto (diperankan oleh Michael Fassbender).

Pertarungan antara X-Men yang membabi buta dengan para alien dari luar angkasa yang mengincar kekuatan Jean Grey menjadi pamungkas seru dalam Dark Phoenix. Dikemas dengan suguhan SFX canggih juga aksi gelut yang menarik membuat film ini pantang terlewatkan untuk Anda yang memang sudah lama menunggu kisah baru dari dunia X-Men. (Wal/Foto: Dokumentasi Twentieth Century Fox)

dark_phoenix_JF_4420_v0012_SNL.1001_rgb.0dark-phoenix-DF-06600_R_rgbx-men-dark-phoenix-new-poster-1200-1777-81-s5bae860ede9560db2b8b456a-750-362

 

 

 

 

Kudo, Aplikasi Digital Serba Bisa Yang Down To Earth

Belakangan banyak aplikasi digital yang berkembang. Salah satunya adalah Kudo yang merupakan platform aplikasi digital untuk memajukan warung tradisional. Kudo sendiri bukan barang baru di Indonesia karena sudah ada sejak tahun 2015. Sejak hadir empat tahun silam, aplikasi ini memiliki 3 misi utama. Apa saja?

Pertama, bisa memberikan akses digital untuk berjualan berbagai macam produk di warung tradisional. Lalu kedua, menjembatani layanan keuangan ke masyarakat dengan keterbatasan akses digital dan perbankan. Yang ketiga, meningkatkan penghasilan tambahan bagi pemilik warung dan peluang bagi para individu untuk berjualan.

Nah, untuk mewujudkan misi tersebut, Kudo pun menggelar kampanye #MajuinWarung.  Gerakan ini sudah diluncurkan sejak Februari lalu oleh Kudo dan telah menjadikan ratusan ribu warung menjadi terbiasa digital dan serba bisa. Seru kan?

Terbaru Kudo juga mengunjungi salah satu warung tradisional milik Bapak Rama di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, yang rupanya terdampak cukup parah setelah peristiwa pasca pengumuman Pemilu 22 Mei 2019 di depan Bawaslu.

Melalui inisiatif seperti itu, Kudo pun membantu memulihkan warung milik Bapak Rama dan memberikan bantuan untuk menata kembali warung, memberikan modal usaha, merenovasi warung juga memberikan pelatihan digital melalui aplikasi Kudo.

Bantuan dari Kudo sendiri langsung diserahkan oleh Head of Sales Kudo Jabodetabek & Kalimantan, Djana Sadi Sungkono. “Bantuan yang diberikan Kudo merupakan wujud nyata dari gerakan sosial ‘Pulihkan Warung’ yang sejalan dengan komitmen Kudo untuk #MajuinWarung menjadi serba bisa,” katanya. “Harapannya, warung tradisional milik Bapak Rama dapat menjadi warung serba bisa melayani berbagai produk dan layanan,” sambung Djana.

Lebih lanjut ia juga menerangkan bahwa platform aplikasi Kudo sangat membantu Bapak Rama untuk mendapatkan kemudahan berjualan apa saja, mulai dari pulsa, bayar tagihan, tiket perjalanan, stok barang untuk warung, kirim dan setor uang, serta serunya lagi, bisa menawarkan berbagai layanan keuangan! Asyik kan?

Last but not least, selain semua fitur itu, aplikasi Kudo juga bisa membuat Bapak Rama membantu mendaftarkan tetangga atau bahkan pembeli di warungnya itu bila ingin menjadi mitra pengemudi Grab demikudo1 menambah penghasilan mereka,” tutup Djana dalam sesi singkat itu. (Wal/Foto: Dokumentasi Kudo)

 

Secret Life of Pets 2; Kembalinya Max si Pemberani

Setelah kesuksesan Secret Life of Pets pada tahun 2016, sang sineas Chris Renaud rupanya ingin sekali lagi menghibur para penonton dengan tingkah para binatang kesayangan yang menggemaskan seperti Max, Duke, Snowball,  dan kawan-kawan. Maka, setelah tiga tahun berlalu, sekuelnya pun dirilis sebagai film musim panas tahun ini.

Kali ini peran sutradara ke-2 diberikan ke Jonathan Del Val yang menggantikan Yarrow Cheney. Sebelumnya Jonathan Del Val lebih dikenal sebagai animator untuk banyak film animasi kenamaan seperti trilogi Despicable Me, Minions, The Lorax juga The Grinch. Film ini adalah debut penyutradaraannya sebagai co-director untuk layar lebar.

Di sekuelnya kali ini, Secret Life of Pets 2 kembali bercerita tentang anjing rumahan bernama Max (disuarakan Patton Oswalt) dan teman-temannya sesama hewan peliharaan di sebuah kompleks apartemen yang harus menerima banyak hal baru dalam hidup mereka seperti majikan yang akhirnya menikah dan kemudian memiliki bayi atau berhadapan dengan lingkungan baru yang asing.

Petulangan Max dan Duke sendiri dalam film ini tergolong seru karena majikan mereka Katie dan juga keluarga kecilnya mengajak Max dan Duke untuk berkunjung ke pedesaan agar tidak bosan dengan kehidupan kota yang serba ruwet. Kehidupan di desa yang aman dan tenteram membawa dampak positif untuk Max dan Duke. Perkenalan dengan anjing jenis pemburu bernama Rooster (Disuarakan oleh Harrison Ford) membuat Max dan Duke kian belajar tentang arti keberanian.

Film ini juga masih berkisah tentang sosok kelinci pemberani Snowball (Kevin Hart) yang punya cita-cita menjadi seorang super pets demi membela hewan-hewan yang tertindas. Munculnya karakter baru Daisy (Disuarakan oleh Tiffany Haddish), seekor anjing jenis Shih Tzu yang tidak tega melihat seekor anak harimau bernama Han dalam perjalanan mereka di pesawat kemudian mendatangi Snowball agar membebaskan Han dari sekapan sirkus kejam.

Misi penyelamatan Han menjadi titik penting film ini. Selain tentunya kita masih akan menyaksikan tingkah Gidget (Disuarakan oleh Jenny Slate) yang dengan kocaknya menyelinap ke rumah seorang nenek tua dan berperan sebagai seekor kucing demi menyelamatkan amanah dari Max yang terjebak di antara kucing-kucing liar nan ganas. Kita pun masih bisa menyaksikan Chloe (Disuarakan oleh Lake Bell) yang tingkahnya semakin menggemaskan dan cuek.

Secara keseluruhan, kisah Secret Life of Pets 2 tergolong menarik dan wajib menjadi pengisi tontonan di musim liburan kali ini. Karakter dan dialognya seperti mengingatkan kita akan dialog antar-manusia yang tanpa tembok pembatas. Jujur dan mengena. Si kecil pun menjadi teredukasi dengan tingkah para hewan yang ada. (Wal/Foto: Dokumentasi Illumination)Pets 2Pets2The Secret Life Of Pets 2

 

 

 

 

 

 

 

Dari Pertemuan Asia Center di Jakarta

Tidak banyak yang tahu kalau Japan Foundation mendirikan Asia Center sejak lima tahun lalu. Sebuah komite yang punya misi budaya antara Jepang dengan negara-negara Asia khususnya kawasan ASEAN. Asia Center ini sendiri punya dewan komite yang setiap tahunnya mengadakan pertemuan di berbagai negeri yang jadi konsentrasi dari program Asia Center.

Tahun ini, di tahun ke-5 forum pertemuan sekaligus resepsi Asia Center berlangsung secara hangat di Jakarta pada Rabu (22/5/2019). Meskipun dibayangi oleh situasi tidak kondusif Ibukota Jakarta, forum pertemuan Asia Center berjalan lancar. Tercatat, eventini baru pertama kali terselenggara di Jakarta, Indonesia.

Secara khusus Japan Foundation Asia Center adalah sebuah unit khusus di dalam Japan Foundation yang didirikan sejak April 2014 dengan tujuan untuk menumbuhkan semangat empati dan hubungan kerja sama di antara orang- orang Asia melalui dukungan pembelajaran bahasa Jepang dan tentunya pertukaran seni budaya. Proyek pertukaran budaya dua arah ini sendiri dilakukan di berbagai bidang.

Selain itu, program Asia Center juga punya dukungan kuat untuk membantu negara-negara yang tergabung dalam pembelajaran Bahasa Jepang dan disebut“Nihongo Partners” dengan cara pengirimannative dari Jepang ke sekolah-sekolah menengah di Asia khususnya kawasan ASEAN.

Di Indonesia program ini sudah berjalan di sekolah-sekolah favorit di 13 Provinsi yang tersebar dari Sumatra hingga Jawa. Para nativeini sendiri berperan sebagai asisten guru dan membantu siswa belajar bahasa Jepang serta mengenalkan budaya Jepang di sekolah-sekolah sekaligus sang native belajar juga mengenai bahasa serta budaya setempat.

Secara keseluruhan “Nihongo Partners” bekerja sebagai jembatan penghubung antara Jepang dan Asia. Selain daripada itu ada juga pertukaran seni dan budaya dua arah yang dilakukan oleh proyek Asia Center seperti mengadakan kerjasama dalam bidang seni, film, seni pertunjukan, olahraga, people-to-people exchange, pertukaran intelektual, dan lain lain.

Berikut beberapa proyek Asia Center yang mungkin familiar diketahui oleh khalayak Indonesia seperti Japanese Film Festival dan telah diadakan di Jakarta, Makassar, Bandung, Yogyakarta, juga Denpasar.

Kemudian ada HANDs! yang bila disingkat adalah Hope and Dreams- Project! Ini adalah wadah untuk mempromosikan dialog dan juga pertukaran para pemimpin muda dari Jepang dan negara-negara Asia untuk pengembangan sumber daya manusia, serta mendorong adanya usaha bersama dalam hal ini pendidikan pencegahan bencana. Tercatat, sejak dimulai pada tahun 2014, sudah lebih dari 100 orang peserta dari 9 negara termasuk Indonesia telah dibina melalui proyek ini.

Resepsi Asia Center di Jakarta termasuk meriah dan dihadiri oleh Profesor Eriko Ishii, Masayo Kato, dan Masayuki Yamauchi. Ketiganya adalah Professor, Tokyo Woman’s Christian University Actor Professor Emeritus The University of Tokyo. Salah satu board members dari Indonesia yang turut hadir adalah sutradara Riri Riza yang karyanya dikenal antara lain lewat “Ada Apa Dengan Cinta?” dan “Athirah”. (Wal)

Aladdin; Dunia Nyata Kisah 1001 Malam

Setelah ditunggu sekian lama oleh para penggemarnya, akhirnya Walt Disney Studios merilis versi live-actiondari remake animasi Aladdin. Sebelumnya Disney sudah merilis film versi live-actionuntuk film Dumbo, Beauty and The Beast, hingga yang akan tayang pada bulan depan, The Lion King. Terakhir animasi Aladdin mengisi masa kecil sebagian orang (yang mungkin sekarang telah menjadi generasi millenials) pada tahun 1992.

Aladdin versi live-action di masa sekarang digarap oleh Guy Ritchie yang sebelumnya pernah membuat Sherlock Holmes. Mantan kekasih Madonna ini bekerjasama dengan John August, sang penulis naskah.

Kisah Aladdin yang terinspirasi dari legenda turun temurun tentang dunia 1001 malam memang punya jaringan drama kuat tentang perjuangan seorang pemuda jalanan bernama Aladdin dengan monyet kesayangannya Abu. Aladdin yang bertualang dari pasar ke pasar lalu ke beberapa padang pasir menjadi intisari cerita legendaris ini. Cerita romantisme bersama dengan putri Yasmin atau populer dengan sebutan Jasmine menjadi bumbu cerita yang kian membuat Aladdin populer.

Tidak ketinggalan soundtrackfilm Aladdin yang punya judul “A Whole New World” menjadi pemanis yang menarik, memikat dan bisa dibilang legendaris.

Dalam versi Guy Ritchie, Aladdin dimainkan oleh Mena Massoud, aktor muda berdarah timur tengah, sedangkan Yasmin sang puteri raja kali ini dimainkan oleh Naomi Scott.

Aladdin tahun 2019 ini juga punya efek CGIyang terasa nyata, bisa terlihat dari dua hewan yang menjadi sahabat setia tiap karakternya, Rajah si harimau yang juga karib Jasmine dan Abu, si monyet kocak yang juga pendamping setia Aladdin.

Yang bikin menarik dari Aladdin versi terbaru tentu tak lain adalah kehadiran sosok blue genie alias jin biru yang kali ini dimainkan secara brilian oleh aktor kawakan Will Smith. Sebuah tontonan wajib sebagai pengisi liburan karena punya nilai edukasi juga menghibur.(Wal)

 

aladinaladin 2aladin 3aladin 4