Space Between Us; Cinta Generasi Milenial

Era milenium sudah berlalu hampir 2 dekade, mimpi manusia untuk bisa hidup di luar planet bumi nampaknya bukan lagi sekadar mimpi belaka. Begitu juga dengan film produksi STX Entertainment ini, kisahnya cukup menarik tentang percintaan dua muda-mudi beda planet yang menjalin cerita cinta lewat teknologi chat dan video call.

Cerita berawal dari sekelompok peneliti NASA yang punya mimpi menaklukkan planet merah alias Mars dan mencoba untuk tinggal di planet itu sebagai pionir sebelum umat manusia nantinya menghuni planet misterius itu. Sebanyak 15 astronot yang diturunkan pada misi itu ternyata ada satu yang sedang hamil, Sarah Elliot (Janet Montgomery). Sayangnya proses kelahiran astronotwati itu tidak berlangsung lancar, dia meninggal saat melahirkan putranya, Gardner Elliot (Asa Butterfield).

Karena tidak memungkinkan membawa si kecil Gardner ke bumi, maka akhirnya bayi laki-laki itu pun menjadi manusia pertama yang lahir di planet merah. Selama 16 tahun, Gardner hanya hidup di wilayah konservasi yang tertutup dan terlindungi. Temannya hanya robot maupun astronot yang silih berganti. Dia pun memberontak mencari jati dirinya. Asal usulnya.

Perkenalannya dengan manusia bumi Tulsa (Britt Robertson) membawanya dalam dunia romantika yang sentimentil. Saat mendapatkan kesempatan untuk bertandang ke bumi, Gardner pun memenuhi dahaganya untuk mencari Tulsa, cinta pertama juga cinta sejatinya. Sementara dahaganya terpenuhi dengan hal-hal baru, kondisi Gardner kian rentan karena ternyata tubuhnya juga tidak bisa berlama-lama ada di bumi karena sistem kekebalan tubuhnya berbeda dengan manusia bumi lainnya.

Dibalut dengan soundtrack yang segar dan kekinian, film yang disutradarai oleh Peter Chelsom dan naskahnya ditulis oleh Allan Loeb ini juga dibintangi oleh aktor gaek Gary Oldman. (Wal)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Ghost in the Shell; Dari Anime ke Live-Action

Disutradarai oleh Rupert Sanders (Snow White and the Huntsman) , film ini merupakan remake yang diadaptasi dari anime dengan judul serupa yang rilis pada 1995 lalu. Ditulis ulang oleh Jamie Moss berdasarkan karya asli Masamune Shirow, penonton pun akan terbuai oleh aksi fantastis yang dimainkan oleh Scarlett Johansson sebagai Major Mira Killian dalam film ini.

Setelah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya harus menjadi manusia setengah robot, Major Mira Killian pun bekerja sebagai agen di Section 9 yang khusus mengurusi masalah-masalah kriminal tingkat tinggi dengan atasan Aramaki.

Sebuah serangan dengan basis cyber-criminal membawa Major Mira berkenalan dengan Kuze (Michael Pitt) yang misterius dan punya misi membalas dendam dengan membunuh semua ilmuwan dari Hanka Robotics.

Penyerangan di sebuah rumah makan dengan menggunakan robot geisha yang cantik dan cerdas membuat Major Mira juga rekannya Batou yang punya mata elektronik masuk semakin dalam ke sarang teroris. Lewat Kuze juga Mira akhirnya mengetahui kalau dirinya adalah cyborg yang terlatih dengan roh masa lampau yang tidak pernah bisa hilang.

Film dengan efek visual yang memanjakan mata ini memang cocok disaksikan di layar lebar IMAX dengan sajian 3D. Semua aksi yang tersaji dalam durasi yang mencapai dua jam lebih tentu membuat kita tidak berhenti berdecak kagum. Masa depan rupanya sudah di depan mata. (Wal)

 

 

Life; Neraka di Angkasa

Bagaimana rasanya bila Anda harus terperangkap bersama dengan makhluk asing yang jahat di jagat raya yang luas dan gelap? Film ini menjabarkannya untuk Anda. Diproduksi oleh tiga perusahaan film; Columbia Pictures, Skydance Media, dan Sony Pictures, ‘Life’ dengan brilian mengangkat kembali sosok alien yang selama ini mati suri dalam banyak film Hollywood belakangan.

Diperkuat oleh duo pangeran Hollywood, Jake Gyllenhaal dan Ryan Reynolds, film dengan aliran suspens dari awal hingga akhir ini memang terbilang seru karena alien yang dihadirkan juga ‘baru’ dan mematikan. Disutradarai oleh Daniel Espinosa, yang pernah menggarap Safe House (2012) dan Child 44 (2015), film ini bukan saja menegangkan tapi juga enak diikuti hingga akhir.

Ceritanya sendiri berawal dari enam orang astronot yang terpilih untuk bekerja di sebuah stasiun angkasa luar yang kondisinya ‘mengambang’ dan dekat dengan planet Mars. Tugas mereka juga terbilang mulia, menemukan bukti adanya tanda kehidupan di planet merah. Ke-6 orang ini di antaranya ada David Jordan (diperankan oleh Jake Gyllenhall), Rory Adams (Ryan Reynolds), Sho Kendo (Hiroyuki Sanada), Miranda North (Rebecca Ferguson) hingga Hugh Derry (Ariyon Bakare) dan Katerina Golovkin (Olga Dihovichnaya).

Ketegangan sudah dimulai saat kapsul penjelajah yang mereka turunkan menemukan bukti adanya tanda kehidupan di planet merah. Bukti itu sendiri boleh dibilang hanya setitik “debu” di antara berbagai organisme yang sempat terbawa oleh kapsul penjelajah.

Menariknya, film ini juga membawa penonton untuk turut merayakan penemuan langka itu ke laman Times Square, ikon New York City. Lewat tele konferensi yang canggih dan paripurna, antara Bumi dan stasiun luar angkasa yang dihuni oleh David cs,   ‘disepakati’ nama makhluk unik nan lucu itu adalah “Calvin”.

Siapa yang menyangka kalau organisme bersel tunggal yang awalnya terlihat lemah dan hanya seukuran mikro organisme (hanya bisa dilihat lewat mikroskop) itu bisa berubah menjadi mematikan untuk semua penghuni stasiun luar angkasa yang ditempati David dkk juga penduduk Bumi.

Rangkaian ketegangan antara Calvin dan team Rory akhirnya menjadi tontonan utama dalam film berdurasi 104 menit ini. Konon film ini hadir karena terinspirasi oleh meledaknya “Alien” garapan Ridley Scott sekitar 38 tahun lalu. (Wal)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A team of scientists aboard the International Space Station discover a rapidly evolving life form, that caused extinction on Mars, and now threatens the crew and all life on Earth.

Director: Daniel Espinosa

Writers: Rhett Reese, Paul Wernick

Stars: Jake Gyllenhaal, Rebecca Ferguson, Ryan Reynolds | See full cast & crew