Serunya Amway Beyond Experience, Rayakan 25 Tahun di Indonesia

Dalam rangka memperingati 25 tahun kehadirannya di Indonesia, perusahaan multi-level marketing Amway menggelar sebuah helat yang cukup mengesankan pada 19-21 Mei 2017 lalu. Perhelatan yang diberi tajuk “Amway Beyond Experience” itu bukan hanya sekadar pameran produk belaka tapi juga ada beberapa pengalaman yang dapat pengunjung rasakan.

Bertempat di Mal Gandaria City-Jakarta, para pengunjung yang datang sepanjang akhir pekan itu juga dapat merasakan pengalaman memeriksakan kadar gula darah dengan alat canggih untuk mendeteksi diabetes melitus, kemudian ada juga tes kepadatan tulang dengan teknologi digital untuk mendeteksi osteoporosis, hingga pemeriksaan komposisi tubuh demi mengetahui perbandingan antara kadar otot, lemak, dan air di dalam tubuh, serta last but not least tes kesehatan kulit.

Menariknya, setelah menjalani serangkaian pemeriksaan itu para pengunjung pun bisa berkonsultasi dengan para petugas untuk dianalisa hasil tesnya, termasuk langkah selanjutnya untuk menjaga tubuh tetap sehat.

Head of Communication PT Amway Indonesia, Rossy Waworuntu mengungkapkan kalau perayaan 25 tahun kehadirannya di Indonesia bukan semata tentang untuk kepentingan bisnis Amway di Indonesia tapi juga ingin mengajak para pengunjung merasakan hidup yang lebih sehat bersama Amway lewat serangkaian produk yang telah dikenal luas.

Selain itu, menyambut 25 tahun perayaannya di Indonesia, PT Amway Indonesia juga melalui Yayasan Amway Peduli melakukan serangkaian kegiatan sosial yang berfokus pada kesejahteraan anak. Termasuk di dalamnya program orangtua asuh. Pengunjung yang ikut berpartisipasi membantu program CSR ini menariknya juga turut mendapatkan gelang unik dan terbatas dari Guatemala yang dibuat secara khusus oleh ibu-ibu setempat.

Mengusung tema “Beyond Experience”, acara yang berlangsung di Main Atrium Gandaria City itu juga menawarkan para pengunjungnya untuk ikut program menantang seperti “Healthy & In-Shape” with Nutrilite  & Body Key juga Korean Natural Beauty by Artistry yang mengajak pengunjung menganalisa jenis kulitnya hingga hand massage. Si Kecil pun dapat turut di rangkaian acara ini karena ada fun games dan story telling yang pantang dilewatkan. (Wal)

Iklan

Transformers: The Last Knight, Dimensi Baru Pertarungan Robot x Manusia

Penggila Transformers boleh bersenang hati pada liburan musim panas tahun ini karena dirilisnya “Transformers: The Last Knight”. Film ini menandai kembalinya Optimus Prime cs ke layar lebar setelah film terakhir “Transformers: Age of Extinction” yang dirilis pada 2014 silam.

Dalam penutup “Transformers: Age of Extinction” dikisahkan kalau Optimus Prime pergi mengembara ke planet lain untuk menemui Quintessa yang dikenal juga sebagai si pencipta atau kreator.

Pertemuan dengan Quintessa tersebut pada akhirnya menjadi plot utama dari seri ke-5 rangkaian franchise film Transformers yang ditawarkan untuk para penonton.

Sejumlah pemain bintang dari film sebelumnya seperti Mark Wahlberg dan Stanley Tucci masih dapat kita lihat dalam film yang diarahkan oleh Michael Bay ini. Hadirnya aktor gaek Anthony Hopkins sebagai Sir Edmund Burton menjadi pelengkap penuh warna untuk film aksi penuh efek CGI ini.

Dikisahkan, Code Yeager atau Mark Wahlberg dan seorang profesor di Oxford bernama Vivian Wembley (Laura Haddock) sedang mencoba membongkar misteri yang tersembunyi dari kedatangan bangsa Transformers ke bumi sejak berabad lalu sampai akhirnya terbongkarlah upaya pihak jahat untuk menduduki bumi selama kurang lebih dua puluh empat jam. Keduanya pun mencoba bahu-membahu menyelamatkan dunia meskipun kadang sering cekcok.

Seri ke-5 Transformers juga dengan sukses menceritakan kepada penonton bagaimana asal muasal Transformers di bumi yang ternyata sudah dimulai sejak abad pertengahan di Inggris. Berkoalisi dengan Raja Arthur (diperankan oleh Liam Garrigan), rupanya pasukan Transformers adalah kunci kemenangan Inggris pada perang saat itu melawan kaum pemberontak. Cikal bakal ini membawa hubungan Transformers dan manusia hingga era kekinian. Termasuk yang mencengangkan adalah bagaimana penonton diajak ‘melongok’ masa lalu dari superstar transformers si kuning Bumblebee.

Beberapa transformers baru juga hadir, salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah Sqweeks yang merupakan transformasi dari motor Vespa dan uniknya tidak seperti transformers lain, Sqweeks tidak bisa berubah.

Secara keseluruhan, inilah film Transformers yang berkisah secara detail tentang awal mula pasukan robot di muka bumi sejak zaman Pertengahan hingga kini. Seri ini seperti menjahit kembali ingatan para penonton tentang para robot transformers yang selama tiga tahun terakhir sempat terlupa. (Wal)

 

 

Dari Perayaan 10 Tahun Organisasi Outbound Indonesia

Dibentuk pada 2007 silam lewat sebuah pertemuan yang dihadiri sejumlah pendirinya seperti Enda Mulyanto dan Robby Saehan, organisasi Asosiasi Experiental Learning Indonesia (AELI) tidak terasa pada 5 Juni lalu menginjak usia satu dasawarsa. Sebuah usia yang terbilang matang untuk sebuah organisasi dengan reputasi global.

Asosiasi Experiental Learning Indonesia (AELI) sendiri didirikan dengan semangat untuk meningkatkan kualitas program dan juga kapasitas dari para praktisi Experiential Learning di Indonesia. AELI berdiri dengan kesadaran bahwa metode pembelajaran seyogyanya harus berbasis pengalaman (Experiential Learning) agar metode yang diajarkan juga efektif sebagai pembelajaran para peserta karena menggunakan seluruh aspek mulai dari afeksi, kognisi hingga konasi.

 

 

Meskipun nama Experiential Learning Program (ELP) belum banyak dikenal oleh masyarakat umum, salah satu penerapan metode ELP yang kita kenal adalah outbound telah yang boleh dibilang telah menjadi agenda rutin dan termasuk sering diadakan oleh bermacam organisasi atau pun perusahaan untuk meningkatkan kapasitas dari anggotanya.

Outbound utamanya adalah salah satu implementasi dari ELP, dan masih banyak program pelatihan lain yang menggunakan metode EL dalam pelaksanaannya. Berbekal pemahaman tersebut maka AELI berusaha untuk menjadi pihak yang menaungi seluruh penyedia layanan (provider) dan praktisi yang menggunakan Experiential Learning dalam setiap programnya.

Wonderoam sendiri hadir dalam sesi penting dari 10 tahun AELI yang berlangsung hangat dan penuh guyub di Aston Sentul Lake Resort and Conference Center. Dimulai dengan Open Mic session pada sore hari yang kemudian acara dilanjutkan dengan press conference dan juga buka puasa bersama di awal Juni silam. Sebagai penutup konferensi, pada malam hari diadakan juga talkshow tentang dunia sejarah outbound di Indonesia. Seru dan padat memang.

Open Mic Session sendiri adalah sebuah acara yang memberikan kesempatan kepada siapa pun untuk mengajukan pertanyaan, kritik, saran bahkan gugatan dengan tujuan mendapatkan masukan demi kemajuan Experiential Learning di tanah air. Segala masukan ini nantinya diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi AELI ke depannya untuk menyusun strategi yang tepat dan menjadi wadah yang mampu menebar manfaat bagi anggota dan bagi stakeholder-nya.

Sejarahnya, pada tahun 2000-an, “booming” program outbound sebagai salah satu menu “wajib” program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) organisasi atau perusahaan merupakan masa keemasan penggunaan metode EL di Indonesia.

Seiring perkembangannya, tren ini akhirnya mengalami penurunan karena menjamurnya provider outbound yang hanya sekadar meniru aktivitas yang dilakukan tanpa menyadari esensi dari program yang dibuat. Penurunan kualitas layanan ini yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya AELI.

AELI didirikan untuk menjaga kualitas layanan maupun kompetensi praktisi EL di Indonesia agar ke depannya Experiential Learning dapat menjadi sebuah program yang diakui dan dipercaya dalam meberikan manfaat pengembangan sumber daya manusia.

Menariknya, talkshow tentang sejarah outbound di Indonesia menghadirkan narasumber juga pelaku sejarah sejak masuknya outbound di Indonesia sekaligus pendiri AELI yaitu Enda Mulyanto founder dari Pelopor Adventure Camp dan Robby Seahan founder OBET Nusantara. Talkshow ini juga menghadirkan narasumber dari dunia pendidikan yaitu Niniek L. Karim pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Dipandu oleh Brigitta Manohara, talkshow ini diharapkan dapat memberikan pemahaman sejarah yang tepat mengenai sejarah panjang outbound di Indonesia.

Tidak hanya mengenai lika liku outbound, Talkshow ini juga membicarakan mengenai Experiential Learning, sebuah metode pembelajaran yang menjadi dasar pelaksanaan program outbound agar praktisi, provider, maupun seluruh stakeholder EL di Indonesia mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang outbound juga Experiential Learning.

“Rangkaian acara Peringatan 1 Dekade AELI ditutup dengan penghargaan Lifetime Achievement Award yang akan diberikan kepada 7 orang pendiri AELI yang telah mencurahkan segenap usahanya, tidak hanya sebatas mendirikan namun juga menjaga AELI hingga dapat bertahan selama 10 tahun ini”, kata Robby Saehan dalam sesi pers conference.

Diharapkan peringatan 1 Dekade AELI dapat menjadi titik balik dan momentum untuk meningkatkan layanan demi menjawab harapan dari seluruh stakeholder AELI untuk kemajuan Experiential Learning di Indonesia. (Wal)

 

Wonder Woman; Pesona Superhero Perempuan

Setelah sebelumnya DC dan Warner Bros Pictures merilis Batman vs Superman dan juga Suicide Squad. Pertengahan tahun ini rumah produksi yang berawal mula dari komik stripe itu akhirnya merilis aksi kepahlawanan perempuan yang telah terkenal sejak lama, Wonder Woman.

Ada banyak versi tentang Wonder Woman, bagaimana dengan versi layar lebarnya yang diperankan oleh Gal Gadot ini?

Digarap oleh sineas Patty Jenkins, banyak adegan laga juga drama yang dihadirkan dalam film yang dibungkus dalam durasi 2 jam 21 menit itu. Kita pun akan disajikan berbagai macam efek CGI yang menakjubkan, mulai dari ledakan hingga beberapa adegan di langit juga laut.

Tidak bisa ditampik, pesona Gal Gadot sebagai bintang utama dan berperan sebagai Diana cukup menjadi perhatian tersendiri di dalam film ini. Beradu akting dengan Chris Pine yang kebagian peran sebagai Steve Trevor, seorang tentara Amerika di zaman Perang Dunia I, chemistry Diana dan Trevor memang seru walaupun kadang kedodoran.

Set film yang cukup menarik antara lain tampilnya Themyscira, sebuah pulau cantik yang penuh fantasi dan tersembunyi di Eropa. Secara keseluruhan, ini adalah film yang bukan saja seru tapi juga sukses menampilkan kembali sosok perempuan superhero dalam film Hollywood. Sesuatu yang sudah jarang kita lihat belakangan ini. (Wal)