The Greatest Showman; Tentang Dunia Yang Terus Berakrobat

 

Hugh Jackman adalah aktor kawakan yang sukses dengan perannya sebagai Logan di reboot X-Men. Kini aktor asal Australian ini kembali hadir dalam film musikal yang mengangkat kisah nyata tentang pendiri sirkus pertama di dunia, Phineas Taylor Barnum.

Sebelumnya Jackman pernah bermain dalam Les Miserables yang juga musikal. Kini kita akan kembali mendengar lantunan suaranya yang merdu dalam musikal penuh koreografi akrobat ini sebagai sosok Barnum yang penuh intrik dan ikonik..

The Greatest Showman sendiri mengangkat periode Barnum sejak tahun 1840-an sebagai awal mula, di masa kecilnya yang pahit, saat sang ayah yang meninggal sebagai seorang penjahit miskin membuat Barnum pun bertekad untuk sukses dengan jalan apa pun. Termasuk seorang penghibur.

Cintanya pada Charity Hallett (Michelle Williams) yang berasal dari kalangan atas menjadi intrik lain dari film dengan durasi hampir dua jam ini. Dengan mengumpulkan orang-orang aneh sebagai ide awal pertunjukannya, Barnum pun sukses membuat masyarakat New York yang masa itu kolot untuk menerima show-nya. Walau beberapa di antaranya tetap menghina dia.

Michael Gracey sang sutradara membuat kisah Barnum dan sirkusnya mengalir cepat, minim dialog tapi nuansa musikal kental terasa. Penonton pun serasa dibuai oleh jalannya sebuah pertunjukan musikal asli. Tampilnya Zac Efron sebagai Phillip Carlyle kian menambah seru.

Secara keseluruhan ini adalah sebuah biopik yang menarik sebagai tontonan pengisi akhir tahun. Megahnya membuat kita pun semangat menapaki tahun baru 2018 yang penuh harapan. (Wal)

Iklan

Seni Mengolah Tempe

Tempe sudah dikenal luas oleh masyarakat di Jawa sejak awal abad ke-19. Serat Centhini, yang ditulis oleh juru tulis keraton Surakarta, R Ng Ronggo Sutrasno pada 1814 menjadi buktinya.

Penyebutan tempe yang tak lain adalah hidangan bernama jae santen tempe (tempe yang dimasak dengan santan) atau dicampur serundeng termaktub dalam bab tiga dan bab 12 dari manuskrip kuno Centhini.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016, disebutkan bahwa orang Indonesia mengonsumsi 0,141 kilogram tempe per kapita per minggu. Tempe bersama dengan jenis makanan lain, menurut survei Badan Pusat Statistik (BPS) masuk dalam kategori bahan makanan penting bagi masyarakat Indonesia.

Beberapa literatur kuno lain juga mengungkapkan bahwa tempe sebenarnya sudah berkembang pesat sebelum abad ke-16 di pedesaan Jawa yang memang banyak memproduksi kedelai.

Ada beragam kisah dibalik tempe yang beredar bebas dari mulut ke mulut atau pun bisa ditemukan di berbagai literasi kuno maupun modern, termasuk aneka mitos yang beredar seputar pembuatan tempe yang konon termasuk kategori “jorok” karena diinjak-injak oleh kaki-kaki telanjang. Benarkah?

Anissa Hanan dari Microo, salah satu penggiat tempe organik di Yogyakarta menjelaskan bahwa sebenarnya proses pembuatan tempe itu tidak sejorok yang dibayangkan banyak orang selama ini.

“Proses peluruhan kulit kedelai dalam jumlah banyak memang akhirnya membutuhkan kaki-kaki kita untuk mempercepat kulit kedelai lebih cepat lepas dari bijinya. Kalau memakai tangan mungkin akan lebih lelah karena jumlahnya ribuan biji, kecuali Anda membuatnya dalam skala kecil, misalnya setengah kilo kedelai,” kata Nissa yang mendampingi saya membuat tempe sendiri beberapa waktu lalu saat workshop dalam Made-In Experience Trip yang diselenggarakan oleh Pelangi Benua.

Nissa menambahkan, “Sebenarnya siapa pun bisa membuat tempe sendiri di rumah dengan langkah-langkah yang mudah diikuti.”

Bermacam jenis kacang kedelai yang saat ini beredar di pasaran dan dapat dijadikan bahan baku utama pembuatan tempe.Bermacam jenis kacang kedelai yang saat ini beredar di pasaran dan dapat dijadikan bahan baku utama pembuatan tempe.

Membuat tempe itu memang harus mengikuti mood dari pembuatnya, kalau misalnya kita sedang datang bulan, saya sarankan sih jangan membuat tempe, nanti akan berpengaruh pada hasil akhirnya. Karena tubuh yang kelewat “panas” malah membuat tempe tidak jadi,” tukas perempuan 21 tahun yang sudah tertarik dengan dunia makanan organik sejak kecil ini.

Sebagai makanan yang mengandalkan fermentasi biji kedelai, langkah membuat tempe memang mengandalkan proses peragian sebagai hal utama. “Setidaknya kita memerlukan waktu dua hingga tiga hari untuk melihat, apakah kacang kedelai yang ingin kita jadikan tempe sudah mengalami proses fermentasi yang benar,” ujar Nissa.

Perlu diketahui juga bahwa ragi yang digunakan untuk fermentasi tempe berbeda dengan ragi yang digunakan untuk mengembangkan roti maupun kue. “Biji kedelai yang berkualitas akan berpadu sempurna bila difermentasi dengan jenis kapang dari Rhizopus, sp. Di pasaran banyak kita temui “jamur” yang baik untuk membuat tempe,” tambah Nissa.

“Kapang atau jamur yang tumbuh pada kedelai lah yang menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks di kacang kedelai menjadi serat pangan yang mengandung kalsium, vitamin B juga zat besi. Termasuk antioksidan pencegah penyakit degeneratif,” ungkap Nissa lagi.

Secara umum, kacang kedelai yang telah melalui fermentasi untuk menjadi tempe akan menghasilkan warna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang bekerja merekatkan biji-biji kedelai. Ini seperti jahitan kain yang menyatu utuh dan padat.

Dari sini akan terlihat bagaimana tekstur kacang kedelai yang tadinya masih terbelah-belah menjadi tekstur yang memadat. Adanya degradasi pada komposisi kedelai kian membuat tempe semakin khas, apalagi ada rasa masam yang dikandungnya karena proses fermentasi itu.

Di dalam sebongkah tempe, Anda bisa mendapatkan manfaat dari zat antioksidan berbentuk isoflavon yang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas, selain itu tempe juga memiliki kandungan vitamin C hingga vitamin E yang dibutuhkan oleh tubuh.

Sebagai bahan penganan penting bernutrisi, tidak ada salahnya melatih diri membuat tempe dengan tangan sendiri. Serangkaian langkahnya dibeberkan Anissa Hanan dan dapat Anda coba.

Tempe buatan Microo, salah satu penggiat tempe organik di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia.Tempe buatan Microo, salah satu penggiat tempe organik di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia.

Pertama, mulai dengan membersihkan kedelai, mengeluarkan batu-batu kecil, atau pun biji yang tidak diinginkan. Selanjutnya, masukkan kacang kedelai yang telah terpilih ke air tawar, dan rebus hingga kira-kira 30 menit untuk sekitar satu kilogram kedelai.

Kemudian kita perlu mengeluarkan kulit luar dari kedelai. Saat proses peluruhan usahakan untuk menggunakan aliran air agar proses pengeluaran kulit kacang kedelai lebih mudah. Meskipun beberapa kacang kedelai mungkin masih menyisakan beberapa kulit halus, itu masih tergolong wajar.

Selanjutnya rendam kacang selama 36 jam, ganti air satu kali setelah 18 jam. Langkah perendaman yang panjang ini akan membantu memulai tahap awal fermentasi, dan akan menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi substrat.

Selanjutnya kita mengukus kacang kedelai, kira-kira satu jam, lalu tiriskan, biarkan mengering sedikit, dan sesuaikan dengan suhu kamar.

Penyesuaian pada suhu kamar membuat tempe siap diinokulasi. Sebarkan secara acak tempe di atas nampan bambu untuk mempermudah proses inokulasi ini. Anda pun bisa menggunakan mangkuk di rumah sebagai pengganti nampan bambu.

Seperti halnya membuat yoghurt, perlu menambahkan “inokulum” khusus sebagai proses fermentasi yang diinginkan. Umumnya inokulum “La Prima” termasuk yang popular digunakan, bentuknya bubuk putih secara kasat mata.

Gunakan sekitar sepertiga sendok teh bubuk inokulum untuk sekitar satu kilogram kedelai siap saji. Taburkan inokulum secara merata di atas kacang kedelai yang ingin dijadikan tempe lalu aduk bubuk itu secara merata hingga semua kacang kedelai terbaluri.

Setelah itu masukkan ukuran tertentu dari kacang kedelai ke dalam kantong plastik yang telah merata, jangan lupa untuk membuatkan goresan lubang di atasnya agar mikroorganisme dapat bernapas dan tumbuh.

Seperti yang sudah Anda dengar, tempe tradisional dibuat dengan membungkus kacang kedelai di dalam daun pisang. Tapi saat ini banyak juga pembuat tempe yang menggunakan kantong plastik, ini selain murah juga memudahkan kita untuk melihat seberapa segar atau berhasil tempe yang kita buat dari tangan sendiri.

Setelah menyegel kantong plastik dengan rapat, kacang-kacang kedelai yang telah melalui proses siap untuk diinokulasi, simpan tas kecil di bawah kain hangat atau beberapa surat kabar untuk menahan panasnya proses fermentasi.

Bergantung pada keadaan cuaca, biasanya miselium atau bercak-bercak putih semacam serat yang menempel setiap kepingan kacang kedelai akan mulai membentuk jaringan yang rumit. Tunggu hingga berubah menjadi blok putih padat. Biasanya proses ini akan berlangsung dalam 36 sampai 48 jam.

Sebagai makanan khas Indonesia yang telah dikenal sejak berabad-abad lampau, sudah saatnya tempe menjadi bagian dari identitas kebangsaan. Tidak heran bila banyak operator pariwisata yang menawarkan proses pembuatan makanan kaya vitamin ini untuk para pelancong.

Vinny Mulyadi dari Pelangi Benua mengungkapkan bahwa belakangan ini ada begitu banyak operator pariwisata yang menawarkan workshop pembuatan tempe tapi cukup jarang yang menawarkan pengalaman mendalam dan berbeda.

“Kami membungkus konsep workshop yang intim dalam sebuah perjalanan wisata dan membuat siapa pun yang mengikuti workshop ini akan memiliki rasa mencintai produk yang dibuatnya seperti merawat “bayi” sendiri,” tukas Vinny yang akrab dipanggil Bebi.

Perjalanan wisata ini bertajuk Made-In Experience Trip dan workshop tempe menjadi salah satu aktivitasnya. Peserta tak hanya sekadar dilatih membuat tempe, tapi juga menjadi tahu apa dan bagaimana filosofi tempe itu sendiri. Ini sesuai dengan makna dari Made-In Experience Trip, yang merupakan bagian dari Creative & Culinary Journey. (Wal)*

*artikel ini pernah dimuat di Beritagar.id pada 2 Juni 2017.

 

 

 

 

 

 

 

 

Wonder: Heartwarming Story

Sutradara Stephen Chbosky dikenal sebagai Penulis Skrip, Produser, juga Sutradara yang kerap menyajikan cerita tentang hubungan antar manusia yang menyentuh. Kita pernah merasakannya dalam The Perks of Being a Wallflower (2012) yang menuai pujian. Kemudian Beauty and the Beast (2017) yang juga reboot dari film kartun Disney sebelumnya.

Dalam “Wonder”, Stephen Chbosky yang kelahiran Pittsburgh sekaligus menjadi penulis skripnya. Ini adalah salah satu novel laris yang masuk New York Best Time Seller. Berkisah tentang keluarga dan persahabatan dari sosok Auggie Pullman (Jacob Tremblay) yang harus menjalani operasi di wajahnya hingga berkali-kali untuk terlihat “normal” agar bisa melihat, mendengar, juga punya wajah lebih baik.

Perjalanan Auggie yang mukanya ‘rusak’ dan menjadi korban bully di sekolahnya adalah inti kisah film dengan durasi 1 jam 53 menit ini.  Diangkat dari novel bestseller karya R.J. Palacio, Wonder adalah sebuah drama hangat tentang hubungan keluarga yang menyentuh. (Wal)

 

 

 

 

 

Lebih Dari Sekadar Pelarian Akhir Pekan

Jauh sebelum dikenal seperti sekarang ini keindahan Pulau Belitung mungkin memang hanya dimiliki oleh warganya atau beberapa pelancong yang sempat menikmati keindahannya secara diam-diam. Tidak dapat dipungkiri, daya magis provinsi ke-31 Republik Indonesia ini memang hadir sejak Andrea Hirata, putra asli Belitung, mengisahkan masa kecilnya di pulau penghasil timah itu dalam sinema layar lebar yang termasuk salah satu film terlaris di Indonesia, Laskar Pelangi.

Belitung sendiri termasuk destinasi wisata yang favorit untuk warga Jakarta dan sekitarnya karena punya jarak tempuh yang tidak terlalu lama, hanya kurang dari 60 menit dengan pesawat terbang, dan pilihan banyak operator penerbangan seperti Sriwijaya Air atau Nam Air yang menawarkan perjalanan ke Belitung dengan harga relatif moderat tentu dan bisa dibeli di situs terpercaya seperti Blibli.com!

Tiba di Belitung, sederet tempat dengan pesona tersendiri sudah menanti untuk kamu eksplorasi. Terbagi dalam dua Kabupaten, di sisi Barat dan Timur, setiap inci Belitung memang seolah diciptakan untuk mengajak panca indera kita berpetualang.

Salah satu objek yang menarik untuk dikunjungi di Belitung dan menjadi must on the top list adalah Tanjung Tinggi. Ini adalah pantai dengan air berwarna biru jernih layaknya sebuah kolam renang raksasa yang diapit oleh dua semenanjung. Buih ombak yang berhembus pelan dengan kedalaman tidak lebih dari tiga meter dan hampir tanpa arus laut memang menjadi keunggulan tempat yang sekujurnya dikelilingi oleh ‘tembok-tembok’ dari sekumpulan granit raksasa.

Ukuran granit ini juga termasuk epik karena terdiri dari bermacam-macam ukuran, mulai dari beberapa meter kubik hingga ratusan meter kubik menyerupai sebuah perbukitan. Indah dan magis. Tidak heran kalau sineas nasional Riri Riza menjadikan tempat yang berjarak 30 Km dari Ibukota Tanjung Pandan ini sebagai lokasi utama untuk syuting film Laskar Pelangi yang ‘meledak’ pada tahun 2008 silam.

Selain Tanjung Tinggi, pantai lain yang dapat masuk kategori must visit di Belitung adalah Tanjung Kelayang. Sebuah pantai nelayan yang menawarkan situasi tenang dengan sesekali melihat aktivitas nelayan yang hilir mudik dengan kapal kayu. Pantai lain yang juga termasuk menarik adalah Pantai Ketapang, di sini saat air surut kamu dapat menyeberang di antara bulir-bulir pasir putih menuju pulau tanpa penghuni di seberangnya.

Itinerary lain di Pulau Belitung tentu belum lengkap bila kamu tidak menjejak Pulau Lengkuas. Pulau yang dapat ditempuh dengan speed boat atau kapal kayu nelayan dengan durasi 30 menit ini memiliki pesona sejarah yang pantang terlewat karena ada mercusuar peninggalan Kolonial Belanda berusia 135 tahun yang masih berdiri dengan kokoh.

Terdiri dari 18 tingkat, untuk menaiki mercusuar ini setiap turis diharapkan untuk melepas alas kaki karena kadar garam yang mungkin menempel di alas kaki yang dipakai mungkin saja dapat mempercepat efek korosi pada dinding maupun lantai mercusuar yang hampir keseluruhannya masih asli dan terbuat dari besi tempa. Meskipun lelah, pencapaian ke puncak mercusuar ini memang menawarkan lebih dari sekadar pengalaman tapi juga pemandangan yang luar biasa.

Puas menjelajahi mercusuar, kamu

pun dapat berenang atau sekadar berjemur di sekitar pantai Pulau Lengkuas. Sama seperti pantai-pantai lain di Belitung, pantai di pulau ini pun memiliki deretan batu-batu granit putih yang khas. Biasanya perjalanan ke Pulau Lengkuas juga dibungkus dengan island hopping ke Pulau Burung. Pulau dari susunan granit yang bentuknya serupa kepala burung.

Untuk sebuah weekend escape, Belitung juga menawarkan sebuah wisata literasi yang pantang terlewat. Datang lah ke Museum Kata di Gantong yang digagas oleh Andrea Hirata. Di sini kita akan melihat bagaimana sejarah Belitung dalam perspektif baru dan naratif. Beberapa ruangan dalam museum ini merupakan potongan perjalanan seorang Ikal dan teman-temannya yang tergabung dalam ensemble Laskar Pelangi. Sebuah tempat yang inspiratif tentunya.

Di waktu tersisa selama kunjungan kamu di Belitung, jangan lewatkan mengunjungi Museum Tanjung Pandan yang dahulu bernama Museum Perusahaan Negara Tambang Timah. Di sini lah kita akan belajar sejarah Belitung di masa lampau, mulai dari peninggalan zaman kerajaan hingga beberapa warisan kolonial. Termasuk bagaiman Belitung dikenal karena tambang timahnya. Beberapa items yang mengejutkan dalam koleksi museum ini adalah porselin cina kuno dari kapal karam yang diangkat dari perairan sekitar Belitung.

Untuk kamu yang masih memiliki waktu panjang di Belitung, sempatkan diri juga untuk susuri bagian timur dari pulau ini dan berlabuhlah di Manggar. Ibukota Belitung Timur. Kota yang juga dikenal sebagai kota kelahiran mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama ini dikenal juga sebagai kota dengan seribu kedai kopi. Hampir di tiap sudut jalan berdiri kedai kopi tradisional yang dipenuhi para penikmat kopi yang nongkrong setiap pagi maupun senja. Menyesap kebahagian dalam secangkir kopi hitam yang khas.

How To Survive in Belitung

Akomodasi
Sejak booming pariwisata 10 tahun silam, Belitung tampak berbenah di segala lini, beberapa hotel maupun resort membuka diri lebar-lebar untuk para pelancong. Beberapa yang menjadi rekomendasi penginapan selama berada di pulau ini di antaranya ada Lor Inn (Tanjung Tinggi), BW Suite (Tanjung Pandan), Billiton Hotel & Club (Tanjung Pandan), Golden Orion (Tanjung Pandan) dan Arumdalu Private Resort (Tanjung Pandan).

Transportasi
Pulau Belitung menarik untuk dijelajahi dengan menyewa kendaraan pribadi. Tarif sewa kendaraan beragam, umumnya untuk mobil ditawarkan mulai dari Rp 400.000-Rp 500.000 per hari (tergantung jenis mobil dan termasuk supir atau tidak). Untuk solo atau duo traveler, moda sepeda motor menjadi pilihan tepat menjelajahi Belitung dan umumnya ditawarkan mulai dari Rp 80.000 per hari.

Untuk berkeliling pulau seperti Pulau Lengkuas dan Pulau Burung, datang lah  pagi-pagi sekali ke Tanjung Kelayang atau Tanjung Tinggi untuk menyewa kapal nelayan yang dibanderol seharga Rp 400.000 – Rp 500.000 per kapal dan biasanya dapat memuat hingga 6 orang. Semakin banyak orang yang ikut bergabung tentu lebih hemat.

Pulau Belitung bisa dijangkau dari berbagai kota di Indonesia dengan pilihan penerbangan yang menawarkan harga cukup terjangkau sebagai #SahabatPerjalananmu. Saya memilih Sriwijaya Air atau Nam Air karena jadwalnya terbilang fleksibel juga setiap hari. Untuk lebih praktisnya, kamu bisa membeli tiket pesawatnya di Blibli.com lho! Bahkan kalau kamu jadi top spender di Blibli.com untuk kategori Travel, Hotel, dan Tiket sampai 20 Desember 2017, ada hadiah tiket pesawat domestik Sriwijaya Air/Nam Air untukmu! Seru kan!

Kalau nggak sempat kejar jadi top spender di Blibli.com, kamu juga masih punya kesempatan untuk dapat tiket pesawat murah ke berbagai destinasi keren di Indonesia sekaligus kumpulin point dari BlibliRewards hingga dua kali lipat! Karena lagi ada promo Year End Sale hingga 31 Desember 2017.

Kuliner
Jangan lewatkan mencoba kepiting khas Belitung yang diramu bumbu khusus atau mencoba Gangan, sejenis gulai kepala ikan yang bumbunya cukup membuat terkaget-kaget. Untuk oleh-oleh, jangan lupa membeli kerupuk ikan dan udang dengan bentuk khas yang banyak dijual di pinggir jalan atau pun sentra oleh-oleh.

 

 

 

 

IRSA 2017; I Wanna Get Home Safely!

Pada 7 Desember 2017 penganugerahaan Indonesia Road Safety Awards (IRSA) kembali digelar untuk kelima kalinya. Tahun ini, acara penganugerahan IRSA 2017 digelar di Ballroom Mandiri Tower dalam suasana yang hangat dan dihadiri oleh Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, SE.,M.UP., Ph.D. selaku Menteri Perencanan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Dr. Ir. Arie Setiadi Moerwanto, M.Sc. selaku Dirjen Bina Marga Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Irjen Pol Budi Setiyadi selaku Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Perwakilan dari Korps Lalu Lintas POLRI, Perwakilan Kementerian Kesehatan serta para bupati dan walikota finalis IRSA 2017.

Ajang IRSA sendiri merupakan wujud apresiasi kepada kota dan kabupaten terbaik dalam hal penerapan tata kelola keselamatan jalan. IRSA merupakan rangkaian dari pada program corporate social responsibility Adira Insurance yang bertajuk kampanye I Wanna Get Home Safely!

Kampanye yang digagas dengan tujuan untuk menurunkan angka kecelakaan di Indonesia serta terus berupaya untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, pihak swasta, dan berbagai pihak lainnya untuk terus peduli terhadap keselamatan jalan.

Julian Noor, Chief Executive Adira Insurance, mengungkapkan “Kami berharap pesan dan semangat IRSA terus menular hingga seluruh wilayah di Indonesia. Sehingga pemenang IRSA dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah kota dan kabupaten di seluruh Indonesia untuk dapat mengembangkan program-program keselamatan jalan dan tata kelola keselamatan jalan dengan lebih baik lagi.”

Tercatat sebanyak 120 kota dan kabupaten yang ikut serta dalam IRSA 2017. Dari 120 peserta, terpilih 23 kota dan kabupaten yang terpilih menjadi finalis IRSA 2017. Sebanyak 23 kota dan kabupaten finalis dipilih berdasarkan data-data keselamatan jalan seperti jumlah penduduk, luas wilayah, jumlah kecelakaan, jumlah fatalitas kecelakaan, dan data pendukung lainnya melalui tahap shortlisting. Telah dilakukan tahap observasi lapangan dan survei kepuasan pengguna jalan terhadap 23 finalis IRSA 2017, yang bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengukur kualitas penerapan tata kelola keselamatan jalan di 23 kota dan kabupaten tersebut.

Setelah survei dan observasi dilakukan, selanjutnya adalah penjurian. Adapun juri IRSA 2017 terdiri dari perwakilan kementerian lima pilar keselamatan jalan dan para pakar road safety lainnya. Saat penjurian finalis akan memberikan penilaian melalui pemaparan finalis mengenai berbagai permasalahan, program kerja, dan evaluai kebijakan terkait dengan program tata kelola keselamatan jalan.

Penilaian IRSA selalu mengacu pada lima pilar keselamatan jalan yang telah dicanangkan WHO dan diadopsi oleh banyak negara di dunia yakni manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan dan penanganan pra dan pasca kecelakaan.

Dari hasil penjurian yang telah dilaksanakan terhadap 23 Finalis IRSA 2017 tersebut, akhirnya terpilih para pemenang IRSA 2017 yang dikelompokkan dalam beberapa kategori yang semakin lengkap yaitu:

  1. Pemenang per pilar road safety, yaitu:
  2. Pilar 1 Manajemen Keselamatan Jalan (Safer Management)
  3. Pilar 2 Jalan yang Berkeselamatan (Safer Road)
  4. Pilar 3 Kendaraan yang Berkeselamatan (Safer Vehicle)
  5. Pilar 4 Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan (Safer User)
  6. Pilar 5 Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan (Pre and Post-Cash Response)
  7. Pemenang utama per kategori Kota dan Kabupaten, yaitu:
  8. Kategori Kota dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi
  9. Kategori Kota dengan tingkat kepadatan penduduk rendah
  10. Kategori Kabupaten dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi
  11. Kategori Kabupaten dengan tingkat kepadatan penduduk rendah
  12. Kategori Excellent City Indonesia Road Safety Award
  13. Pemenang penghargaan khusus, yang terdiri dari:
  14. Kota atau Kabupaten Terbaik pada Upaya Meningkatkan Jumlah Pengguna Angkutan Umum
  15. Kota atau Kabupaten Terbaik pada Upaya Meningkatkan Kualitas Sarana Pejalan Kaki yang Berkeselamatan
  16. Kota atau Kabupaten dengan Program Inovasi Terbaik dalam Upaya Meningkatkan Tata Kelola Keselamatan Jalan
  17. Kota Kabupaten Terbaik Pada Upaya Menurunkan Rata-Rata Angka Kecepatan Kendaraan.

“Kami sangat gembira melihat lahirnya program-program inovatif baru yang secara serius diterapkan oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten setempat ketika mengikuti ajang IRSA ini. Semangat dari program IRSA adalah untuk memberikan dukungan kepada Pemerintah Kota dan Kabupaten agar terus bekerja keras menerapkan pilar-pilar keselamatan jalan di lingkungan pemerintahannya sehingga tercipta keselamatan jalan yang aman.” jelas Julian.

IRSA mengusung tema Road Safety for Humanity. Tema ini menjadi salah satu atribut penilaian pada kategori Excellent City yaitu fasilitas pejalan kaki untuk masyarakat serta penyandang disabilitas yang nyaman dan berkeselamatan. Selain itu, pada acara penganugerahan penghargaan IRSA 2017 juga dibuat Difable Room yang dapat dirasakan langsung oleh para tamu undangan. “Melalui IRSA, kami ingin mendorong pemerintah daerah untuk memenuhi serta menyediakan fasilitas pejalan kaki yang nyaman dan berkeselamatan bagi masyarakat khususnya penyandang disabilitas. Tidak hanya itu, dengan tema yang kami angkat ini, juga turut memperingati hari disabilitas yang jatuh pada tanggal 3 Desember lalu,” pungkas Julian.

Penyelenggaraan ajang IRSA 2017 ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan penuh dan sinergi dari berbagai pihak. “Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terselenggaranya ajang IRSA ini yaitu Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Korlantas Polri, Kementerian Kesehatan, WHO, Global Road Safety Partnership Indonesia, Masyarakat Transportasi Indonesia dan para penggiat road safety lainnya”. (Wal)

Laneway Festival Singapore 2018: The Eight Time To Spread The Love!

Laneway Festival Singapore dikenal sebagai salah satu gelaran festival musik di region Asia Pasifik yang menawarkan unsur romantisme. Baik itu dari segi line-up yang tampil atau pun lokasinya yang unik, The Meadow, Gardens by the Bay – Singapura. Bulan depan, romantisme itu akan berlanjut untuk ke-8 kalinya, atau lebih tepatnya pada 27 Januari 2018.

Sejak beberapa bulan lalu, pihak panitia telah mengumumkan line-up utama untuk gelaran festival outdoor ini. Deretan skena indie seperti Slowdive, The Internet hingga Mac Demarco menjadi salah tiga dari line-up yang pantang dilewatkan. Selain ketiganya masih ada penyanyi balada Aldous Harding yang keren, kemudian Anderson .Paak & The Free Nationals, hingga si keling bersuara merdu, Moses Humney atau Amy Shark yang mencuri perhatian.

Misi dari festival yang sudah ada sejak tahun 2005 ini sendiri terbilang seru, karena memang ingin memperkenalkan band-band indie baru ke kancah yang lebih luas. Biasanya yang tampil di Laneway, akan terkenal kemudian. Demikian premis yang diplot dari festival ini. Selain tentunya, kamu bisa bersenang-senang di arena festival yang dirancang asyik dan cenderung hippies!

Meskipun masih akan berlangsung dalam sebulan ke depan, kamu masih bisa kok menyaksikan festival ini dengan beli langsung ke website-nya di sini, start dari SGD $150 saja per tiket bila membeli sekaligus 3 tiket. Ingat prinsip More the merrier bukan? Makin rame, makin asyik!

Jadi, tunggu apalagi, segera kejar mimpimu menjadi saksi dari berbagai band indie keren yang bakal tampil di Laneway Festival 2018. Atau kamu akan menyesal. (Wal)