Menanti Produksi Titimangsa Foundation ke-30; Cinta Tak Pernah Sederhana

Pada 8 Maret lalu, Titimangsa Foundation mengumumkan produksinya yang ke-30, ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’, sebuah pementasan konser musikal yang mengangkat puisi-puisi cinta Indonesia.

Gelaran ini merupakan kolaborasi antara PT. Balai Pustaka (Persero) bekerjasama dengan Titimangsa Foundation sebagai bentuk komitmen terhadap upaya untuk mengangkat karya sastra Indonesia terutama puisi ke dalam seni pertunjukan yang rencananya akan dipentaskan pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Konser musikal ini diselenggarakan sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata. Indonesia banyak memiliki penyair yang puisi-puisinya menjadi sebuah penanda perkembangan intelektual bangsa.

Puisi-puisi cinta yang indah dan ditulis oleh para penyair Indonesia akan menjadi ‘angin keindahan yang menyejukkan’. Pementasan ini juga akan menampilkan puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia. Kurang lebih ada 26 penyair Indonesia yang penggalan karya puisinya dijadikan dialog dalam pementasan ini. Puisi-puisi itu disusun menjadi percakapan atau dialog, nyanyian dan diwujudkan ke dalam tata visual yang indah dan megah, dalam bentuk Konser Musikal.

Ide cerita dari pementasan ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi terasing, jauh dari bumi, dan merindukan puisi. Yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini, ketika manusianya makin terasing karena terjadi bermacam perubahan nilai, guncangan sosial bahkan disrupsi nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Ketika politik menguasi ruang publik, ketika politik sudah begitu membuat masyarakat tegang, maka puisi bisa menjadi angin penyejuk yang menyegarkan. Atau dalam ungkapan puisi Sapardi, pertunjukan ini akan membuat kita kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana. Puisi mengatasi kerumitan, melampaui kemanusiaan dengan keindahan yang dibawanya. Pementasan konser musikal yang digelar 2 hari ini merupakan hasil dari komitmen, kerja keras, serta konsistensi dan kecintaan seluruh tim pendukung dalam menampilkan karya sastra yaitu puisi dari sastrawan kebanggaan Indonesia.

“Balai Pustaka sejak berdirinya merupakan rumah bagi karya sastra Indonesia. Judul-judul sastra klasik terbitan Balai Pustaka seperti Layar Terkembang dan Salah Asuhan, telah menjadi karya yang terus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Salah seorang penyair yang puisinya ada di pementasan ini adalah Soebagio Sastrowardoyo yang selama bertahun-tahun menjabat direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka. Kiprah Soebagio Sastrowardoyo dan penyair-penyair Indonesia lainnya inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Balai Pustaka sebagai perusahaan penerbitan yang terus berusaha untuk mengenalkan dan mempopulerkan kembali karya sastra klasik dan modern, sungguh sangat antusias dengan adanya pementasan ini. Penyelenggaraan konser musikal ini sejalan dengan visi dan misi Balai Pustaka sebagai korporasi pelestari dan pengembang budaya. Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” ujar Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Selain itu, Happy Salma selaku founder Titimangsa Foundation mengungkapkan, “Sastra merupakan nutrisi batin bagi saya. Jiwa saya selalu terasa penuh bila sedang menikmati karya sastra entah itu fiksi atau puisi. Hasrat itu mendorong saya untuk terus konsisten dalam menghasilkan karya yang merupakan alih wahana dari karya sastra. 2 tahun lalu saya membayangkan suatu kemungkinan pemanggungan puisi-puisi cinta karya para penyair Indonesia. Pentas yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi. Dalam obrolan bersama Agus Noor, saya menyampaikan kemungkinan itu. Ia menyambut dan mengembangkannya ke dalam suatu konsep pertunjukan yang tidak terduga. Mengangkat puisi-puisi cinta karya 25 penyair Indonesia, dan menghadirkannya ke panggung menjadi suatu alur kisah dalam percakapan dan nyanyian. Ide ini disambut dengan antusias oleh PT. Balai Pustaka (Persero). Terlebih konsep pertunjukan yang kami sodorkan sangat berkaitan dengan upaya memperkenalkan karya para sastrawan Indonesia. Sebagai orang yang mengenal karya sastra Indonesia lewat buku-buku terbitan Balai Pustaka, saya begitu terharu bisa bekerjasama.”

“Pementasan kali ini adalah istimewa bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi para aktor yang terlibat. Mereka disini bukan hanya berakting, tapi juga mereka dijui untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, dialog tersebut akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi. Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil dari kecerdasan sang sutradara yang mempunyai wawasan luas dalam puisi dan sastra Indonesia, dalam mengolah banyak kata-kata dari banyak puisi, hingga tersusun dengan indah menjadi jalinan dialog dan alur cerita,” Happy Salma menambahkan.

Bagi Titimangsa sendiri, pementasan ini bertambah menakjubkan dengan bergabungnya deretan nama-nama yang sangat berdedikasi di bidangnya mulai dari pemain sampai kreator di balik panggung. Menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa. Menghadirkan pula sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama dan penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai Narator. Kemudian penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Indonesia Maya Hasan. Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Happy Salma sebagai Produser, Agus Noor sebagai Sutradara dan Penulis Naskah, Iskandar Loedin sebagai Penata Artistik, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum. Pemain-pemain dalam pementasan ini hampir semua bernyanyi dengan diiringi musik yang indah dari Penata Musik Bintang Indrianto dan koreografi menawan garapan Koreografer Josh Marcy. Pementasan kali ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya karena adanya sebuah kolaborasi antara seni pertunjukan dengan fashion. Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ ini menggambarkan awal mula penciptaan: Awal mulanya adalah kata. Kata-lah, yang membuat kita mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama, yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama (yakni bahasa). Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa. Ia adalah penyair pertama di surga. Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Dan munculah perempuan, sang kekasih. Keduanya menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta memang tak pernah sederhana, hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia: menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.

Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta? Seperti dalam sajak Rendra: “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!” Dan penyair itu memperjuangkan cintanya. Tapi cinta mereka tak pernah sederhana. Kerinduan dan kesedihan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Maka Kau adalah mata, aku airmatamu. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa, dan kemudian meninggal dunia.

Penyair itu sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul: mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana. Kemudian si penyair ditangkap, dimatikan: inilah nasib getir si penyair. Tapi semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan. Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Dan ia pun menjadi semakin menemukan nilai spiritual. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan, Begitu, cinta, meski tak sederhana, membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia modern, yang menemukan pencerahannya. (Wal)

Iklan

Tinggalkan komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: