Kunjungan Mas Menteri Sandiaga Uno Ke Wakatobi Berdampak Positif

Kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno yang akrab dipanggil Mas Menteri di Desa Wisata Liya Togo,Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara menuai kesan tersendiri bagi para warga setempat. Kunjungan Sandiaga yang dijadwalkan untuk menyambangi desa wisata terpaksa harus berlangsung sebentar karena dia ternyata sudah ditunggu untuk acara rapat secara online di Istana Negara bersama dengan Presiden Joko Widodo.

Sambutan meriah dari warga Desa Wisata Liya Togo saat Sandiaga Uno berkunjung ke desa itu pada pekan ke-3 Januari 2022.

Meskipun kunjungan hanya berlangsung selama 30 menit saja, masyarakat Desa Wisata Liya Togo mengaku puas dan bangga karena desanya sudah didatangi oleh Mas Menteri karena boleh dibilang, desa tersebut jarang dikunjungi oleh para pejabat negara. Selain itu, saat kunjungan Sandiaga tersebut juga ada pergerakan ekonomi yang terbilang signifikan seperti naiknya omzet para pedagang kaki lima di sekitar desa itu. Boleh dibilang kedatangan Sandiaga justru malah meningkatkan sekaligus membangkitkan ekonomi masyarakat setempat.

Desa Wisata Liya Togo termasuk salah satu desa di bagian Indonesia timur yang juga memproduksi suvenir bermuatan nilai lokal sebagai kenang-kenangan untuk pelancong yang datang sekaligus memperkaya nilai sentimentil dari siapa pun yang pernah berkunjung ke daerah itu. Salah satu suvenir yang sering diincar oleh para pelancong itu adalah aneka kaos bergambar lokasi wisata Wakatobi.

“Suvenir kaos bergambar Wakatobi untuk oleh-oleh juga termasuk dalam sektor ekonomi kreatif lho, jadi ayo ditingkatkan produksinya ya Bapak dan Ibu” tambah Sandiaga dalam kunjungan itu.

Namun, Mas Menteri juga mendapatkan informasi kalau masyarakat desa Wisata Liya Togo mengalami kendala bila ingin membuat suvenir. Pengelola desa melapor ke Mas Menteri kalau mereka belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir demi keperluan peningkatan produksi suvenir mereka.

Didapat kenyataan bahwa selama ini desa tersebut “mengekspor” pekerjaan jahit menjahit dan membordir pakaian ke desa lain. Hal ini tentu mengeluarkan biaya yang cukup mahal, sehingga keuntungan yang ada pun semakin sedikit.

“Jadi cukup ironis juga ya karena desa ini kan yang mendesain suvenir kaos, tapi karena masalah tidak ada mesin, karya suvenir pun akhirnya dibawa ke desa lain untuk diproduksi, ini kan jadi makan biaya dan juga waktu yang terbuang untuk pengiriman plus keuntungan jadi semakin sedikit juga”, kata Mas Menteri lagi sambil mendengarkan curhatan para ibu-ibu pengrajin suvenir kaos yang turut hadir dalam pertemuan dengan Mas Menteri itu.

Akhirnya Mas Menteri pun berinisiatif melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memberikan dua mesin jahit dan dua unit mesin bordir yang telah dipesan dari Kota Kendari. Dia berharap bantuan ini bisa membuat pendapatan para pembuat suvenir ini naik pendapatannya sehingga meningkatkan ekonomi penduduk desa setempat.

Salah satu pengrajin pun mengucapkan terima kasih kepada Mas Menteri terkait dengan hadiah mesin jahit dan mesin bordir tersebut. “Terima Kasih mas Menteri atas mesin jahit dan bordirnya, jadi kita tidak usah bordir lagi di luar desa,” ujar wanita yang berjualan syal dan sarung khas Wakatobi itu.(Teks: FreddyWally/Foto: Dokumentasi Kemenparekraf)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s