Urban Reborn; Kolaborasi Toraja di Indonesia Fashion Week 2019


Desainer Sofia Sari Dewi kembali menampilkan karyanya di ajang bergengsi Indonesia Fasion Week 2019. Dalam kolaborasi Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara di pergelaran ‘Revisited Sarong by KOPIKKON’ oleh BEKRAF di ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 yang dihelat di Jakarta Convention Center (JCC), desainer binaan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengusung sarung ke dalam karya yang tampil kekinian.

Di ajang ini, Sofia berkolaborasi dengan komunitas TorajaMelo x Toraja Utara sekaligus merayakan satu dekade keberhasilan TorajaMelo dalam melestarikan motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang nyaris punah.

TorajaMelo merupakan social enterprise yang peduli dengan seni dan budaya, khususnya dalam bidang tenun, dan memiliki tujuan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi para perempuan penenun, sekaligus melestarikan dan meremajakan seni budaya tekstil tenunan tangan tradisional Indonesia.

Menurut Dinny Jusuf, Founder dan CEO TorajaMelo, social enterprise ini dibentuk tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kemiskinan perempuan pedesaan dengan menggunakan tenun. Selama satu dekade eksistensinya, TorajaMelo telah meremajakan beberapa pola tekstil tenunan tangan Toraja, salah satunya adalah Pa’bunga bunga yang akan ditampilkan dalam pagelaran kali ini. Ini adalah pertama kalinya motif tenun Toraja Pa’Bunga Bunga tampil di publik secara resmi.

Sepuluh tahun yang lalu, hanya dua penenun tua yang bisa menenun teknik lompat lungsi dengan motif geometrik ini. “Sekarang dengan berdirinya Koperasi Penenun Sa’dan Siangkaran sebagai mitra TorajaMelo, sudah banyak perempuan muda Toraja yang bisa menenun teknik ini,” urai Dinny dalam temu media di JCC, hari ini.

Dinny Jusuf mengatakan, untuk melestarikan tenun sekaligus mengangkat harga diri perempuan penenun, pihaknya menjalin kolaborasi dengan desainer, salah satunya adalah Sofia Sari Dewi. “Salah satu cara melestarikan tenun adalah berkolaborasi dengan generasi muda. Sejak awal tahun lalu TorajaMelo telah  bekerja bersama Sofia Sari Dewi,” ujarnya.

“Pada 2008 hanya ada dua orang nenek yang membuatnya. Jika tidak dilestarikan, maka motif tenun Pa’Bunga Bunga Toraja yang indah itu nyaris punah dan hanya tinggal nama,” imbuhnya.

Dinny menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak tenaga kerja perempuan yang kembali ke Toraja untuk menenun. “Sudah waktunya kain tenun kembali merajai fashion lokal Indonesia, perempuan penenun Indonesia dapat mencari uang di negerinya sendiri sambil mengasuh anaknya supaya tumbuh terdidik dengan baik ” ujarnya.

Sofia memiliki alasan sendiri mengapa mengangkat sarong (sarung) bertema ‘Urban Reborn’ dalam koleksinya. “Sarung sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat Indonesia sejak lama. Orang Indonesia terlihat anggun dan gagah saat mengenakan sarung. Dengan mengangkat sarung menjadi sesuatu yang kekinian di ajang IFW 2019, saya berharap generasi muda mulai menerapkan #SarongIsOurLisestyle sebagai outfit-nya, serta bangga dengan jati dirinya” papar desainer kelahiran Yogyakarta, 2 November 1983.

“Tahun ini, saya berkolaborasi dengan TorajaMelo dan Toraja Utara, ini adalah area IKKON (Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) 2017, yang kebetulan mentornya Ibu Dinny dari social enterprise TorajaMelo,” urai Sofia, yang pernah terpilih untuk mengikuti program unggulan pemerintah Indonesia melalui BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif Indonesia), IKKON 2016.

Sebagai informasi, pada tahun 2018, Sofia juga memanaskan Indonesia Fashion Week berkolaborasi dengan komunitas Indigo Ikat Lango, Ngada dengan menghadirkan tenun dengan warna baru yang eksotik yaitu ‘Indigo Deep Blue Sea’. Karya itu terinspirasi dari kecintaannya terhadap kebudayaan di daerah Ngada, di propinsi Nusa Tenggara Timur dimana ia menyumbangkan waktu dan ide-idenya sebagai peserta IKKON 2016.

Di ajang IFW 2019, Sofia menggunakan sarung yang ‘disulap’ dalam outfit kekinian dalam 9 look, yaitu 5 untuk pria dan 4 untuk wanita. “Sarung bisa dimodifikasi tampil kekinian dan modis sehingga cocok dikenakan sebagai outfit harian,” imbuhnya.

Dan menurut Sofia, perhelatan akbar Indonesia Fashion Week merupakan momen yang tepat untuk lebih memasyarakatkan sarung. Dinny setuju dengan pendapat itu. Menurutnya, Indonesia Fashion Week 2019 akan menjadi ajang yang baik bagi generasi muda untuk bangga #SarongIsOurLifestyle, hashtag (tagar) yang diusung #TorajaMeloXSofiaSariDewi dalam kampanye digitalnya.

Dalam pergelaran ini, Sofia Sari Dewi X TorajaMelo X Toraja Utara didukung oleh JNE, yang mengusung jargon “Connecting Happiness” dan “Menginspirasi Negeri” yang selaras dengan tagline TorajaMelo, Weaving The Stories Of Indonesia.

Last but not least, Dinny mengajak generasi muda untuk menghargai sarung. “Mari nikmati desain sarung Sofia untuk merayakan kekayaan kain tenunan Indonesia di Indonesia Fashion Week 2019,” pungkasnya.

“Indonesia bagaikan perpustakaan budaya raksasa yang memiliki keanekaragaman yang mampu membuat jemari tidak berhenti menari. Inilah, Indonesiaku!” – Sofia Sari Dewi

*

Sekilas tentang TorajaMelo

TorajaMelo dibentuk pada 2008, didasari kecintaan Dinny Jusuf akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.

Dinny tergerak mendirikan TorajaMelo karena melihat masih banyak kemiskinan dan kekerasan yang dialami para perempuan di pedesaan. Melalui TorajaMelo, Dinny ingin menghormati para perempuan penenun sebagai artisan dan menghargai hasil karya kain tenun mereka dengan harga yang pantas. Hal ini dilakukan untuk menyakinkan para penenun bahwa kain tenun merupakan pekerjaan yang menjanjikan, yang dapat menjadi sumber penghasilan mereka.

Hingga kini, banyak sudah yang tertarik untuk terus berkarya dengan menenun sekaligus merangsang generasi muda untuk tertarik terjun menjadi penenun.

TorajaMelo fokus kepada pengembangan komunitas penenun, khususnya penenun yang menggunakan alat tenun gedhog, sehingga mereka dapat menghasilkan uang sembari bekerja dari rumah dan tetap dapat menjaga keluarga mereka.

Para penenun di daerah-daerah terpencil didorong untuk membuat kain tenun tangan asli yang memiliki banyak ragam keunikan dari masing-masing daerah tersebut. Mereka juga diajak menciptakan tenun dengan warna yang lebih kekinian serta bahan mentah yang lebih nyaman seperti kapas, sehingga kain tenun semakin digemari oleh masyarakat umum, khususnya pecinta kain tradisional. Agar lebih diterima masyarakat luas, koleksi kain tenun TorajaMelo ditampilkan bukan saja dalam wujud kain tetapi juga busana trendy yang dibuat dari tenun, aksesoris serta cinderamata berkualitas.

 

TorajaMelo merangkul komunitas sekitar seribu perempuan penenun di Toraja dan Mamasa, Sulawesi dan Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mimpi Toraja Melo adalah bekerja dengan sedikitnya lima ribu penenun Nusantara.

 

Iklan

Menanti Produksi Titimangsa Foundation ke-30; Cinta Tak Pernah Sederhana

Pada 8 Maret lalu, Titimangsa Foundation mengumumkan produksinya yang ke-30, ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’, sebuah pementasan konser musikal yang mengangkat puisi-puisi cinta Indonesia.

Gelaran ini merupakan kolaborasi antara PT. Balai Pustaka (Persero) bekerjasama dengan Titimangsa Foundation sebagai bentuk komitmen terhadap upaya untuk mengangkat karya sastra Indonesia terutama puisi ke dalam seni pertunjukan yang rencananya akan dipentaskan pada tanggal 16 dan 17 Maret 2019 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Konser musikal ini diselenggarakan sebagai upaya untuk selalu menghidupkan karya sastra Indonesia sehingga pembentukan karakter dan kecintaan pada Tanah Air semakin nyata. Indonesia banyak memiliki penyair yang puisi-puisinya menjadi sebuah penanda perkembangan intelektual bangsa.

Puisi-puisi cinta yang indah dan ditulis oleh para penyair Indonesia akan menjadi ‘angin keindahan yang menyejukkan’. Pementasan ini juga akan menampilkan puisi – puisi cinta yang ditulis oleh para penyair Indonesia. Kurang lebih ada 26 penyair Indonesia yang penggalan karya puisinya dijadikan dialog dalam pementasan ini. Puisi-puisi itu disusun menjadi percakapan atau dialog, nyanyian dan diwujudkan ke dalam tata visual yang indah dan megah, dalam bentuk Konser Musikal.

Ide cerita dari pementasan ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi terasing, jauh dari bumi, dan merindukan puisi. Yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini, ketika manusianya makin terasing karena terjadi bermacam perubahan nilai, guncangan sosial bahkan disrupsi nilai-nilai berbangsa dan bernegara. Ketika politik menguasi ruang publik, ketika politik sudah begitu membuat masyarakat tegang, maka puisi bisa menjadi angin penyejuk yang menyegarkan. Atau dalam ungkapan puisi Sapardi, pertunjukan ini akan membuat kita kembali saling mencintai dengan indah, meski tak sederhana. Puisi mengatasi kerumitan, melampaui kemanusiaan dengan keindahan yang dibawanya. Pementasan konser musikal yang digelar 2 hari ini merupakan hasil dari komitmen, kerja keras, serta konsistensi dan kecintaan seluruh tim pendukung dalam menampilkan karya sastra yaitu puisi dari sastrawan kebanggaan Indonesia.

“Balai Pustaka sejak berdirinya merupakan rumah bagi karya sastra Indonesia. Judul-judul sastra klasik terbitan Balai Pustaka seperti Layar Terkembang dan Salah Asuhan, telah menjadi karya yang terus dikenang oleh masyarakat Indonesia. Salah seorang penyair yang puisinya ada di pementasan ini adalah Soebagio Sastrowardoyo yang selama bertahun-tahun menjabat direktur perusahaan penerbitan Balai Pustaka. Kiprah Soebagio Sastrowardoyo dan penyair-penyair Indonesia lainnya inilah yang harus disebarluaskan kepada generasi saat ini. Balai Pustaka sebagai perusahaan penerbitan yang terus berusaha untuk mengenalkan dan mempopulerkan kembali karya sastra klasik dan modern, sungguh sangat antusias dengan adanya pementasan ini. Penyelenggaraan konser musikal ini sejalan dengan visi dan misi Balai Pustaka sebagai korporasi pelestari dan pengembang budaya. Melalui pementasan ini, harapannya masyarakat Indonesia menjadi lebih mencintai karya-karya sastra Indonesia yang berperan dalam membangun karakter bangsa yang cerdas dan berbudaya,” ujar Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT. Balai Pustaka (Persero).

Selain itu, Happy Salma selaku founder Titimangsa Foundation mengungkapkan, “Sastra merupakan nutrisi batin bagi saya. Jiwa saya selalu terasa penuh bila sedang menikmati karya sastra entah itu fiksi atau puisi. Hasrat itu mendorong saya untuk terus konsisten dalam menghasilkan karya yang merupakan alih wahana dari karya sastra. 2 tahun lalu saya membayangkan suatu kemungkinan pemanggungan puisi-puisi cinta karya para penyair Indonesia. Pentas yang berbeda dengan pembacaan puisi atau deklamasi. Dalam obrolan bersama Agus Noor, saya menyampaikan kemungkinan itu. Ia menyambut dan mengembangkannya ke dalam suatu konsep pertunjukan yang tidak terduga. Mengangkat puisi-puisi cinta karya 25 penyair Indonesia, dan menghadirkannya ke panggung menjadi suatu alur kisah dalam percakapan dan nyanyian. Ide ini disambut dengan antusias oleh PT. Balai Pustaka (Persero). Terlebih konsep pertunjukan yang kami sodorkan sangat berkaitan dengan upaya memperkenalkan karya para sastrawan Indonesia. Sebagai orang yang mengenal karya sastra Indonesia lewat buku-buku terbitan Balai Pustaka, saya begitu terharu bisa bekerjasama.”

“Pementasan kali ini adalah istimewa bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi para aktor yang terlibat. Mereka disini bukan hanya berakting, tapi juga mereka dijui untuk dapat mengucapkan puisi menjadi terlihat wajar dan seperti dialog pada umumnya. Sesuatu yang bila tidak hati-hati, dialog tersebut akan terdengar seperti sekadar deklamasi puisi. Pertunjukan seperti ini nyaris tak pernah ada. Naskah pertunjukan ini merupakan hasil dari kecerdasan sang sutradara yang mempunyai wawasan luas dalam puisi dan sastra Indonesia, dalam mengolah banyak kata-kata dari banyak puisi, hingga tersusun dengan indah menjadi jalinan dialog dan alur cerita,” Happy Salma menambahkan.

Bagi Titimangsa sendiri, pementasan ini bertambah menakjubkan dengan bergabungnya deretan nama-nama yang sangat berdedikasi di bidangnya mulai dari pemain sampai kreator di balik panggung. Menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian, Marsha Timothy, Chelsea Islan, Atiqah Hasiholan, Sita Nursanti, Teuku Rifnu Wikana dan Butet Kartaredjasa. Menghadirkan pula sutradara dan aktor teater kawakan Wawan Sofwan dan Iswadi Pratama dan penyair Warih Wisatsana yang akan berperan sebagai Narator. Kemudian penyanyi yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam genre nyanyian masing-masing Daniel Christianto, Sruti Respati, Heny Janawati, dan pemain harpa Indonesia Maya Hasan. Pementasan konser musikal ini merupakan kolaborasi antara Happy Salma sebagai Produser, Agus Noor sebagai Sutradara dan Penulis Naskah, Iskandar Loedin sebagai Penata Artistik, Aktris Handradjasa sebagai penata rias dan Hagai Pakan sebagai penata kostum. Pemain-pemain dalam pementasan ini hampir semua bernyanyi dengan diiringi musik yang indah dari Penata Musik Bintang Indrianto dan koreografi menawan garapan Koreografer Josh Marcy. Pementasan kali ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari biasanya karena adanya sebuah kolaborasi antara seni pertunjukan dengan fashion. Pemain dalam pementasan ini akan mengenakan busana yang khusus dibuat oleh designer Biyan dan menggunakan kain tenun Baron.

Konser musikal puisi-puisi cinta bertajuk ‘Cinta Tak Pernah Sederhana’ ini menggambarkan awal mula penciptaan: Awal mulanya adalah kata. Kata-lah, yang membuat kita mengenal dunia. Lalu muncul manusia pertama, yang pengetahuan pertamanya adalah memahami nama-nama (yakni bahasa). Maka manusia pertama itu, sesungguhnya orang yang memahami bahasa. Ia adalah penyair pertama di surga. Lalu ia mengenal cinta, ia kesepian tanpa cinta. Dan munculah perempuan, sang kekasih. Keduanya menjadi sepasang kekasih pertama di surga. Mereka ingin mencintai dengan sederhana, tapi cinta memang tak pernah sederhana, hingga sepasang kekasih itu kemudian turun ke dunia: menyaksikan senja pertama di bumi, saling mencintai dan berpisah.

Di dunia, sang laki-laki menjadi seorang penyair yang mencintai seorang perempuan, yang juga mencintai sepenuh hati tetapi ragu. Si penyair merindukan kemerdekaan, tapi apa arti kemerdekaan tanpa cinta? Seperti dalam sajak Rendra: “Kau tak akan pernah mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta!” Dan penyair itu memperjuangkan cintanya. Tapi cinta mereka tak pernah sederhana. Kerinduan dan kesedihan seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Maka Kau adalah mata, aku airmatamu. Sampai suatu kali, perempuan itu ditangkap, karena dituduh berdosa, dan kemudian meninggal dunia.

Penyair itu sedih kehilangan perempuan yang dicintainya. Ia sering muncul di kuburan. Di sinilah kelucuan dan ironi muncul: mencintai ternyata juga harus sanggup menanggung kepedihannya. Kata-kata harus diperjuangkan, begitu juga cinta. Meski tak pernah sederhana. Kemudian si penyair ditangkap, dimatikan: inilah nasib getir si penyair. Tapi semua itu justru membuat penyair menemukan kekuatan dan mengalami pengalaman spiritual yang membebaskan. Dalam adegan pembakaran, ketika tubuh penyair dimasukkan ke dalam api berkobar, ia tetap yakin: Aku mau hidup seribu tahun lagi. Dan ia pun menjadi semakin menemukan nilai spiritual. Ia merasa begitu dekat dengan Tuhan, Begitu, cinta, meski tak sederhana, membuat penyair itu menemukan kemerdekaannya, juga cinta indahnya, cintanya pada Tuhan. Ini adalah gambaran perjalanan spiritual manusia modern, yang menemukan pencerahannya. (Wal)

Japan Travel Fair 2019 Semakin Meriah dan Seru !

JTF Image 1JTF Image 2JNTO yang dikenal juga sebagai Japan National Tourism Organization menggelar Japan Travel Fair pada 1-3 Maret lalu. Event tahunan yang telah berjalan di tahun ke-11 ini merupakan salah satu yang ditunggu juga oleh wisatawan Indonesia yang ingin berkunjung ke Jepang. Tidak salah memang karena Jepang saat ini tercatat sebagai salah satu tujuan wisata favorit yang dikenal juga dengan berbagai pesona keindahannya.

Tercatat, wisatawan dari Indonesia yang berkunjung ke Jepang, peningkatannya juga cukup signifikan. Selama tahun 2018 telah meningkat menjadi 12,7% sehingga menjadi 400.000 wisatawan. Meningkatnya minat kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang merupakan imbas positif dari promosi gencar yang dilakukan otoritas pariwisata Jepang selain dukungan agen perjalanan dan maskapai penerbangan. Salah satunya tentu lewat penawaran paket wisata dan juga tiket pesawat yang dilego dengan harga terjangkau.

Last but not least, fasilitas bebas visa dengan e-passport juga membuat wisatawan Indonesia semakin tertarik datang dan mengeksplorasi keindahan serta keunikan budaya Jepang. Hal ini pulalah yang mendasari Japan National Tourism Organization (JNTO) Jakarta secara aktif mendorong wisatawan untuk berkunjung ke negeri sakura.

Mengambil tempat di Food Society, Grand Atrium dan Mosaic Walk, Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Japan Travel Fair 2019 ini sangat meriah. Dibuka oleh Executive DirectorJNTO Jakarta, Izumi Amano. “Negeri Jepang menawarkan beragam destinasi yang menarik seperti kuil, pantai, pegunungan, bunga sakura, museum, area ski dan lain sebagainya. Tercatat juga ada 47 prefektur di Jepang dengan destinasi wisata yang unik dan menarik”, kata Izumi dalam sambutannya.

Selain destinasi wisata populer, Japan Travel Fair 2019 juga memperkenalkan sejumlah daerah wisata alternatif di Jepang untuk wisatawan Indonesia seperti:

– Daerah Chugoku (Prefektur Hiroshima, Okayama, Shimane, Tottori dan Yamaguchi)

– Daerah Chubu (Prefektur Aichi, Fukui, Gifu, Ishikawa, Mie, Nagano, Shizuoka, Toyama, Niigata dan

Yamanashi)

– Hokkaido

– Daerah Kyushu (Prefektur Fukuoka)

“Masing-masing tujuan wisata memiliki karakteristik yang unik. Jika selama ini wisatawan sudah lebih dulu mengenal Tokyo, Kyoto, Osaka, maka di ajang Japan Travel Fair 2019 ini kami menawarkan dan mempromosikan destinasi lain yang tak kalah menarik”, ujar Izumi Amano di sela-sela pembukaan Japan Travel Fair 2019.

 

Ajang Japan Travel Fair 2019 sendiri didukung oleh 22 agen perjalanan, 5 maskapai penerbangan, 1 bank partner yaitu Bank Mandiri dan Sabre TN Indonesia, serta partner pendukung lainnya yaitu Fujifilm Indonesia dan Sweet Escape.

Bank Mandiri sebagai bank partner resmi ‘Japan Travel Fair 2019’ juga telah mempersiapkan sejumlah penawaran menarik bagi wisatawan yang akan mengunjungi Jepang. Vira Widiyasari, Senior Vice President Credit Cards Group Bank Mandiri, mengatakan bahwa Jepang masih menjadi destinasi favorit bagi nasabah Bank Mandiri. Hal tersebut terbukti dari meningkatnya jumlah transaksi kartu Mandiri di Jepang sebesar 37% pada tahun 2018. “Atas dasar tersebut, Bank Mandiri pun memberikan penawaran terbaik bagi pemegang Mandiri Kartu Kredit maupun Mandiri Debit yang ingin berlibur ke Jepang”, tukas Vira. (Wal)

 

 

 

 

 

 

Solusi dan Kenyamanan Perjalanan Bagi Traveler Lewat Sompo Insurance

Ada banyak asuransi khusus perjalanan yang beroperasi di dunia. Salah satunya datang dari Jepang, yaitu Sompo Insurance Indonesia (SII). Ini tercatat juga sebagai salah satu asuransi perjalanan resmi pada ASTINDO Travel Fair 2019 (ATF 2019) yang lalu.

Tercatat juga asuransi dari Jepang ini mendukung pameran produk-produk perjalanan ATF 2019 yang diselenggarakan serentak di empat (4) kota yaitu, Jakarta, Surabaya, Palembang, dan Denpasar hingga 24 Februari 2019.

Saat ini memang berlibur ke dalam negeri maupun ke luar negeri telah menjadi tren leisure economy bagi wisatawan Indonesia dalam kurun waktu dua (2) tahun terakhir. Didukung dengan daya beli masyarakat Indonesia yang terus meningkat, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi saat ini sebesar 5%. Berkaitan dengan hal tersebut, kesadaran untuk mengasuransikan perjalanan, mulai menggeliat naik. Hal inilah yang memperkuat SII untuk selalu hadir menjadi penyedia solusi bagi para traveler sekaligus memberikan kesadaran pentingnya berasuransi dengan produk andalannya, Asuransi Perjalanan Sompo TravelFirst.

Sompo TravelFirst sendiri hadir dengan berbagai pilihan perlindungan sesuai kebutuhan nasabah. Beberapa manfaat perlindungan Sompo TravelFirst di antaranya ada:

• Perlindungan medis. Melindungi dari kecelakaan diri, evakuasi medis darurat, hingga santuan rawat inap.
• Ketidaknyamanan perjalanan/tanggung jawab hukum. Mulai dari kehilangan atau kerusakan bagasi hingga kehilangan dokumen perjalanan dan uang.
• Manfaat tunai. Memberikan uang penggantian untuk keterlambatan bagasi hingga penundaan perjalanan.
• Jaminan tambahan. Melindungi dari terorisme, kecelakaan di bawah air, kehilangan atau kerusakan peralatan golf, hingga perlindungan isi rumah saat bepergian.

Dalam kesempatan ATF 2019, Hiroki Waki selaku Direktur Sompo Insurance Indonesia, juga menjelaskan lebih jauh, “Nasabah dapat menikmati seluruh manfaat-manfaat ini dengan memilih paket yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Paket-paket ini dapat diakses secara digital di website https://www.sompo24.co.id/travel. Perlindungan dengan value lebih ini, dilengkapi dengan layanan penunjang yang sigap melayani pertanyaan hingga klaim nasabah selama 24 jam dalam 7 hari seminggu, baik dari dalam maupun luar negeri”.

Ditambahkannya, “Akses mudah melalui digital dan konsistensi untuk memberikan solusi yang terbaik kepada nasabah, menjadi kunci kami. Hal ini, sesuai dengan visi perusahaan untuk terus berinovasi memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah, serta menjadi penyedia solusi asuransi yang terdepan, baik untuk produk asuransi perjalanan, maupun produk asuransi lainnya yang kami tawarkan.”

Berkaitan dengan kehadiran Sompo TravelFirst di ATF 2019, para pengunjung juga dapat langsung menikmati berbagai promo, yaitu:

• Gratis Asuransi Perjalanan. Baik domestik maupun internasional setiap pembelian tiket di ATF 2019.
• Diskon 30%. Untuk seluruh paket Sompo TravelFirst.
• Lucky draw. Untuk setiap pembelian dengan hadiah menarik seperti, sepeda gunung, TV, hingga berbagai merchandise lainnya.
• Social media activation. Di Sompo TravelFirst booth, pengunjung dapat upload foto ke social media mereka dan akan mendapatkan merchandise gratis.
• Produk kendaraan mobil terbaru: Long Term Motor Protection dengan Sompo Drive.

Menariknya, pengunjung dapat juga membeli asuransi ini dengan berbagai promo menarik salah satunya, dapat mengikuti permainan di Sompo Drive dan bisa memenangkan vouher belanja.

Maria Susana selaku Head of Travel and Affinity, SII menjelaskan, “Para pengunjung yang datang dan melakukan transaksi tiket di booth Travel Partner selama periode pameran berlangsung, akan mendapatkan asuransi gratis dengan manfaat perlindungan in flight hingga Rp 200 juta dan pembatalan perjalanan hingga Rp 50 juta.
Tak hanya itu, pembeli akan secara otomatis mendapatkan merchandise gratis selama periode pameran berlangsung dengan mengunjungi booth Sompo Insurance. Apabila ingin memaksimalkan perlindungan yang didapat, pengunjung dapat langsung membeli asuransi perjalanan short trip atau annual trip di booth Sompo Insurance dengan diskon 30%. Tak hanya itu, pembeli juga berhak mengikuti lucky draw untuk memenangkan berbagai hadiah menarik seperti sepeda, TV, Tas Gunung dan masih banyak lagi”.

Ditambahkannya, “Kami selalu berusaha memberikan berbagai kemudahan dan promo menarik untuk pengunjung, tak hanya untuk membeli produk, namun juga dapat secara langsung memberikan kesadaran kepada pengunjung betapa pentingnya melindungi perjalanan liburan dari berbagai potensi risiko di perjalanan. Yang paling utama dari sebuah perjalanan adalah merasa aman dan nyaman dimanapun pengunjung berada”. (Wal)

Alita: Battle Angel, Kisah Manga Berset Tahun 2563

Februari menjadi istimewa dengan hadirnya film bertema aksi dari produser kenamaan James Cameron. Adalah Alita: Battle Angel yang digarap oleh Robert Rodriguez yang ternyata diangkat dari manga berjudul Gunnm karya Yukito Kishiro. Kisahnya sendiri tergolong unik dan penuh dengan efek canggih.

Dimulai pada tahun 2563 atau 300 tahun setelah “The Fall” alias Dr. Ido (diperankan oleh Christoph Waltz) yang sedang mencari spare-part dari robot-robot di tempat pembuangan. Ia menemukan kepala cyborg yang masih hidup dan akhirnya membawanya pulang. Dr. Ido pun memberikannya tubuh baru, sang pemilik otak nyatanya masih belum sadar siapa dirinya.

Dr. Ido pun memberikan nama si robot dengan nama yang manis, Alita (disuarakan oleh Rosa Salazar). Tinggal di Iron City yang penuh dengan robot cyborg, Alita pun punya teman baru bernama Hugo (dimainkan oleh Keenan Johnson). Kesamaan hobi menjadi pemikat keduanya. Motorball menjadi penyatu keduanya.

Serangan tak terduga dari cyborg ganas Nysianna (Eiza Gonzales) dan Grewishka (Jackie Earle Haley) kian membuat jati diri Alita terlihat. Ternyata Alita adalah seorang petarung yang tangguh.

Dirangkai secara cepat dan penuh dengan efek canggih membuat film ini bukan saja memukau mata tapi juga seru secara kedalaman drama. Banyak dialog menyedihkan yang inspiratif dalam film ini. Tercatat Rosa Salazar sendiri pernah bermain di film The Maze Runner.

Salah satu yang memikat dari film ini adalah saat kita bisa melihat aksi-aksi Alita melawan cyborg raksasa Gewiskha yang dimainkan oleh Jackie Earle Haley. Pertarungan Motorball yang penuh hentakan dan menegangkan juga pantang dilewatkan.

Selain itu, kita juga bisa menonton penampilan Mahershala Ali sebagai tokoh penjahat bernama Vector yang sebelumnya sukses bermain dalam drama Oscar, Moonlight.  Ada juga tokoh antagonis lain bernama Zapan yang dimainkan oleh Ed Skrein dalam layar lebar ini.

Gambar-gambar yang realistis menjadi kunci utama film ini. Sebuah tontonan hiburan yang memukau dan seru sebagai hiburan akhir pekan. (Wal)

 

 

15 Tahun Java Jazz Hadirkan Toto Sebagai Performer

Sejumlah lineup dan program dalam merayakan tahun ke-15 Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 telah dibuka untuk umum pada pertengahan Januari lalu. Perayaan jazz tahunan ini akan diramaikan oleh berbagai artis mulai dari grup musik legendaris TOTO, artis pendatang baru Raveena, H.E.R. musisi yang pernah mendapatkan nomiasi Grammy Awards 2019, hingga super group yang berisikan Robert Glasper, Terrace Martin, Christian Scott aTunde Adjuah, Derrick Hodge, Taylor McFerrin, dan Justin Tyson yaitu R+R=NOW.

Dari grup musik asal Indonesia yang bakal jadi performer ada reuni yang telah ditunggu-tunggu yaitu Parkdrive sampai tentunya proyek kolaborasi dari Barry Likumahuwa Tribute to Roy Hargrove, Sony Music Project, Warner Music Project, dan Yamaha Music Project yang hanya dapat disaksikan di Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019. Tidak heran festival ini menjadi alasan mengapa dapat dibilang menjadi once in a lifetime experience dan sayang untuk dilewatkan.

Selain lineup dan program yang meriah, terdapat juga instalasi seni dan deretan aktivitas menarik lainnya di booth yang tersedia sehingga festival ini pun akhirnya menjadi sebuah kegiatan akhir pekan di mana pengunjung dapat berkumpul dengan keluarga dan teman-teman.

“Kami sangat berterima kasih kepada sponsor acara yang kembali mendukung serta sponsor sponsor yang baru pertama kali berpartisipasi pada cara ini karena atas dukungan merekalah maka penyelenggaraan edisi ke-15 ini bisa dipersiapkan. Acara ini juga tidak lepas dari  dukungan Kementerian Pariwisata dan Pemprov DKI. Bersama-sama denga para sponsor dan partner maka kami dapat kembali menyuguhkan deretan lineup yang digemari masyarakat, program festival yang unggul dan kami juga berharap semua yang telah kami persiapkan dapat menghibur pengunjung selama 3 hari pada 1, 2 dan 3 Maret 2019 mendatang. Khusus di tahun 2019 ini juga kami menggunakan tagline Music Unites Us All karena musik tidak mengenal latar belakang dan semua bisa bersama sama menikmati perayaan musik buatan anak Indonesia” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production dalam jumpa media pada pertengahan Januari lalu.

Dengan adanya benefit promo potongan harga dari BNI ini, BNI berharap dapat mengakomodir dan mempermudah nasabah BNI pecinta Jazz agar dapat menikmati musik jazz berkualitas dari artis nasional maupun mancanegara.” ujar Kiryanto, Corporate Secretary BNI

Dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Java Festival Production juga menyelenggarakan rangkaian pra acara yang dapat dikunjungi tanpa dipungut biaya yaitu Java Jazz on the Move (JJOTM) di mana akan dimeriahkan oleh sejumlah artis yang juga akan tampil di Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019.

JJOTM akan diselenggarakan pada tanggal 12 Januari sampai dengan 27 Februari 2019 di berbagai tempat di sekitar Jadetabek. Selain menyaksikan pertunjukan, pengunjung JJOTM pun dapat membeli tiket Jakarta International BNI Java Jazz Festival dengan harga khusus serta tentunya paket merchandise acara yang hanya tersedia secara eksklusif di JJOTM. Selain itu, pengunjung juga dapat mengikuti kuis dan mendapatkan berbagai hadiah yang menarik, salah satunya tiket masuk ke acara BNI Java Jazz Festival 2019 dengan gratis. (Wal)

 

 

Rayakan Ultah Ke-10, Emporium Mall Pluit Gelar Emporium Gorgeous 10

gorgeous 10 years anniversary celebration of emporium pluit mall - sab'tu (1)gorgeous 10 years anniversary celebration of emporium pluit mall - sab'tu (6)gorgeous 10 years anniversary celebration of emporium pluit mall - sab'tu (8)gorgeous 10 years anniversary celebration of emporium pluit mall - sab'tu (13)Pada 26 Januari lalu, Emporium Pluit Mall yang tahun ini merayakan ulang tahun ke-10 membuat pesta ulang tahun bertema Emporium Gorgeous 10. Pesta ini sekaligus dirangkai dengan semarak Tahun Baru Imlek memasuki Tahun Babi yang meriah dan akan berlangsung mulai 25 Januari hingga 17 Februari 2019.

Dalam sambutannya, Ellen Hidayat yang juga CEO Emporium Pluit Mall mengatakan bahwa memasuki usia ke-10, Emporium Pluit Mall ingin terus menjadi bagian dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat Jakarta secara khusus dan kepada semua orang pada umumnya. Kami terus menggaungkan kekayaan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia yaitu keragaman budaya. Bahwa betapa indahnya jika perbedaan itu digunakan untuk bersinergi. Pasti akan menghasilkan hal-hal luar biasa. “Inilah yang kemudian dapat dilihat di panggung Emporium Gorgeous 10 yang kami gelar”, tandasnya.

Tahun ini, untuk keempat kalinya, Emporium Pluit Mall kembali mengadakan event Fashion Show Musical dengan menggandeng para Top Designer Indonesia. Tahun ini setidaknya ada total 35 Desainer Indonesia yang terlibat memamerkan karya rancangnya selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 25, 26, dan 27 Januari 2019.

Mereka merupakan para desainer Indonesia yang namanya telah berkibar seperti Ivan Gunawan, Widhi Budimulia, Rudy Chandra, Rinaldy A. Yunardi, Danjo Hiyoji, Ai Syarif, Ariy Arka, Dana Duryatna, Erdan, Jeany Ang, Nita Seno Adji, Radot Marpaung, Theo Ridzky, Yulia Fandy, Yoyo Prasetyo, Irwansyah Mecs, LASALLE College Jakarta yang diwakili oleh Rashesa Sabrina – Yohanna Gabriella Mandhari by Temma Prasetio, hingga SPARKS FASHION ACADEMY yang diwakili oleh Amelia Eka Lestari – Ditya Metharani – Dwi Lestari Kartika – Eka Adrianie – Latiefa Bags by Putri Permana Simple Life by Ririn.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini Emporium Pluit Mall juga ikut menampilkan koleksi bridal dari Hengki Kawilarang dan Maya Ratih Couture. Serta tentunya lomba Modelling dari Djoekids yang dihadiri oleh deretan selebriti anak yaitu Izabelle Kiara, Jane Callista, dan Naya Slime.

Selain koleksi para desainer, panggung utama Emporium Pluit Mall juga akan dimeriahkan dengan koleksi busana dari SOGO DEPARTMENT STORE yang menampilkan koleksi dari Votum by Sebastian Gunawan, Caroline Kosasih, The Pink Label, Aidan Mattox, Adriana Papell, Meters Bonwe, Me & City, FCUK, Parang Kencana, Nail, Pierrox, Cappucio dan Wood. Terhitung, ada 150 model Indonesia di bawah arahan koreografer Wawan Soeharto yang akan membawakan ratusan koleksi para designer tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Emporium Pluit Mall juga ikut mengolaborasikan busana para desainer ini dengan para artis terkemuka Indonesia yang juga tampil dalam mini konser, di antaranya ada SHEILA MAJID pada tanggal 25 Januari 2019, AFGAN pada tanggal 26 Januari 2019, dan KAHITNA pada tanggal 27 Januari 2019. Untuk kedua kalinya, Emporium Pluit Mall juga mendapuk SOPHIA LATJUBA sebagai Face of Emporium Gorgeous 10.

Semua kemeriahan itu dikemas dalam sebuah pertunjukan Fashion, Musik, dan rampak tari yang dibawakan secara dinamis oleh puluhan penari Batavia Dancers. Acara yang digagas oleh Gelang Emas ini juga melibatkan pengisi dan pendukung acara dalam jumlah yang spektakuler yaitu mencapai ratusan orang.

Selain itu ada Pameran Foto METAMORPH by RIO MOTRET dan juga Fashion On The Stage Photo Competition berhadiah belasan juta rupiah dalam kemeriahan 10 Tahun Emporium Mall Pluit. Pameran foto ini sendiri rencananya akan berlangsung sampai tanggal 3 Februari 2019.

Selain pergelaran busana, Emporium Pluit Mall juga menyemarakkan suasana Imlek dengan berbagai pertunjukan menarik. Tahun ini Emporium secara khusus mendatangkan CHINESE ACROBATIC dari NING XIA, CHINA yang rencananya menampilkan pertunjukan Akrobatik Spektakuler seperti Roller Skate Balancing, Hand Power Pole Show, Acrobatic Gymnastic dan juga Face Changing.

Pertunjukan Akrobatik ini jadwalnya dimulai dari 29 Januari sampai 10 Februari 2019. Dan seperti biasa juga akan tampil Barongsai Juara Dunia dari Kong Ha Hong yang akan menampilkan Barongsai Tonggak akrobatik. Para pemain Barongsai dari Yayasan Kong Ha Hong adalah barisan pemain barongsai profesional dengan berbagai latar belakang suku dan agama. Dan dalam perbedaaan yang bersinergi itu, mereka berkali-kali menang Kejuaraan Dunia Barongsai bahkan mengalahkan Group Barongsai dari China. Atraksi Barongsai ini akan tampil di Emporium Pluit Mall mulai tanggal 2 Februari hingga 17 Februari 2019.

Selain itu Food Empire Emporium Pluit Mall juga secara resmi dibuka menjelang Tahun Baru Imlek ini. Desain terbuka yang menarik terasa hangat menyambut pengunjung, nuansa kayu yang mendominasi tapi tetap terlihat modern, bersih dan menawan membuat pengunjung betah berlama-lama di sini.

Saat ini Emporium Pluit Mall telah memiliki 286 tenant terkemuka, seperti SOGO Department Store, Transmart, Best Denki, Gramedia, Emporium XXI, Timezone, Ace Hardware, H&M, dan lain-lain. (Wal)

 

 

Final Indonesia Untuk Asia Pacific Predator League 2019 Sudah Dimulai!

de8b1bad-65e9-4a00-b33b-0c0eb3b8667cAsia Pacific Predator League 2019 merupakan salah satu turnamen esports terbesar yang diselenggarakan kedua kalinya tahun ini, melibatkan ribuan tim esports dari 16 negara di Asia Pasifik.

Pelaksanaan Asia Pacific Predator League 2019 juga semakin mengukuhkan posisi Acer sebagai PC brand yang memiliki komitmen kuat dalam membangun ekosistem esports di Indonesia.

Sehingga di tahun keduanya ini, dua games terpopuler, PUBG dan DOTA 2 pun dipertandingkan pada Asia Pacific Predator League 2019, dengan total prize pool yang menggiurkan yaitu sebesar USD 400,000 atau sekitar Rp 6 miliar.

Pada Jumat (25/1) babak Final Indonesia untuk Asia Pacific Predator League 2019 resmi dimulai. Bertempat di Atrium Mall Taman Anggrek Jakarta pada 25 – 27 Januari 2019, 16 tim PUBG dan 8 tim DOTA 2 terbaik di Indonesia yang telah lolos babak kualifikasi akan melanjutkan perjuangannya untuk memperebutkan gelar tim terbaik Indonesia. Masing-masing pemenang dari kedua game yang dipertandingkan pada tahap National Final ini, akan mewakili Indonesia di babak Final se-Asia Pasifik yang akan dilaksanakan di Bangkok, Thailand pada bulan Februari 2019 mendatang dengan total prize pool sebesar USD 400,000 atau Rp 6 miliar.

Penyelenggaraan Asia Pacific Predator League 2019 yang telah memasuki tahun kedua ini berlangsung lebih megah dan spektakuler. Event turnamen esports terbesar di awal tahun ini semakin memperkuat kiprah Acer untuk membangun ekosistem esports di Indonesia. Selain menciptakan produk-produk dengan teknologi tercanggih melalui lini gaming-nya yaitu Predator, dua tahun belakangan ini Acer juga menginisiasi Asia Pacific Predator League, turnamen gaming berskala internasional. Tahun ini, Asia Pacific Predator League 2019 diikuti oleh 16 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Taiwan, Filipina, Singapore, Hong Kong, Macau, India, Australia, Korea, Sri Lanka, Jepang, Myanmar, dan Mongolia.

“Asia Pacific Predator League 2019 merupakan bentuk pembuktian konsistensi kami dalam mendukung dan memajukan industri gaming. Di tahun kedua ini, Asia Pacific Predator League semakin agresif menjangkau talenta-talenta esports dari seluruh penjuru dengan mengadakan babak kualifikasi di 14 kota di Indonesia. Setelah kurang lebih selama 2 bulan mencari bakat gamers terbaik yang ada di Indonesia, saat ini sudah terpilih 16 tim PUBG dan 8 tim DOTA 2 terbaik yang siap berkompetisi untuk mewakili Indonesia di Final Round Asia Pacific Predator League 2019 yang akan diadakan di Bangkok, Thailand.” ujar Herbet Ang, Presiden Direktur Acer Indonesia.

“Mulai hari ini hingga tiga hari ke depan, kita akan menyaksikan adu kekuatan dan strategi para talenta esports terbaik tanah air.” tambahnya.

Tahap kualifikasi Asia Pacific Predator League 2019 yang didukung oleh Intel ini telah dimulai sejak November 2018 lalu di 16 iCafe yang tersebar di 14 kota di Indonesia. Tahap kualifikasi ini menyaring 8 tim DOTA 2 (Alter Ego, BOOM.ID, Rex Regum Qeon, PG.Barracx, EVOS, Aura, The Prime, HPG.Armored Project), dan juga 16 tim PUBG (BOOM.ID, Kocak Koplak, Astaga Gaming, Xgate, Royal Esport KRS, Aerowolf.TeamSeven, Aerowolf.TeamEight, Louvre Emporium, Alter Ego, Victim Reality, U2G, Ghost Alliance PIFF, Ghost Alliance Ayres, Rival, Pixel-Geim.M.I, Existency yang akan mengikuti pertandingan di babak National Final Indonesia. Tahun ini, Final Round Asia Pasifik akan diadakan di Bangkok, Thailand pada tanggal 15 – 17 Februari 2019.

Babak National Final Indonesia yang akan berlangsung selama tiga hari ke depan ini juga menghadirkan Predator Thronos, singgasana gaming paling mutakhir untuk gamers kelas sultan yang sudah hadir ke Indonesia sejak awal bulan Januari 2019 lalu. Pengunjung dapat merasakan langsung serunya pengalaman bermain games yang sangat imersif dan seperti nyata di atas Predator Thronos.

Acer mengundang gamers Indonesia untuk menjadi saksi terpilihnya dua tim terbaik Indonesia dalam pertandingan final yang didukung oleh CBN Fiber sebagai penyedia koneksi internet cepat hingga 1Gbps selama pertandingan dan streaming di Dens.TV. Pengunjung juga dapat berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan seru yang disajikan selama tiga hari seperti Cosplay Competition, Lelang Produk Acer, Fighting Mini Games, dan Photo Contest berhadiah menarik.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Asia Pacific Predator League 2019 ini bisa kunjungi https://www.acerid.com/predator-league. (Wal)

The Kid Who Would Be King; Legenda Inggris Yang Hidup Lagi di Masa Kini

Sutradara Joe Cornish yang sebelumnya pernah membesut Attack the Block (2011) kembali menyapa penggemarnya lewat sebuah film anak-anak berbalut kisah legenda. Ya, tak lain adalah The Kid Who Would be King. Di Indonesia film ini edar pada minggu ke-3 bulan Januari 2019. Seperti apa film yang kental bernuansa British ini mengocok perut penonton dengan jokes-nya?

Inggris punya mitologi tentang sosok Raja Arthur, yang konon sangat berkuasa pada abad pertengahan dan punya pasukan kuat nan setia. Para pendukung setianya ini juga kerap punya sebutan yang tidak kalah garang, Ksatria Meja Bundar. Artinya mereka setara dengan sang Raja dan akan membela kebenaran mati-matian.

Mengambil setting London pada masa kini, kisah petualangan ini dimulai saat Alexander Elliot yang diperankan oleh Ashbourne Serkis menemukan sebuah pedang terhunus di atas batu di antara puing pecahan bangunan pada suatu malam. Elliot sendiri adalah anak yang boleh dibilang sering menjadi bahan bullying teman-temannya di sekolah karena postur tubuhnya yang tambun dan pertemanannya dengan Bedder (dimainkan oleh Dean Chaumoo) yang tidak kalah culun. Keduanya kerap menjadi bahan olok-olok dari duo bengal, Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Doris).

Pedang yang kemudian diyakini sebagai warisan masa lalu dari Raja Arthur alias Pedang Excalibur akhirnya menjadi polemik sekaligus romansa tersendiri untuk Elliot dan Bedder. Fantasi tentang sosok Raja Arthur yang agung dan perkasa seketika menghiasi ruang-ruang mimpi mereka. Keduanya, lewat serangkaian kejadian, mulai merasa ditakdirkan untuk bertemu. Merasa adalah sepasang nan kompak, Raja dan Ksatria.

Sampai kemudian muncul sosok Merlin (dalam film ini versi mudanya diperankan oleh Angus Imrie dan versi gaeknya oleh aktor kawakan Patrick Stewart). Merlin sendiri dalam banyak literatur mistik kerap sering disebut sebagai penyihir baik hati yang juga membantu perjuangan Raja Arthur.

Seperti halnya film fantasi, tentu kehadiran villain menjadi bumbu yang menarik dalam film ini. Adalah Morgana, yang dalam kisah legenda diceritakan sebagai kakak tiri Raja Arthur, berniat untuk merebut Excalibur dari tangan anak-anak ingusan ini. Maka lewat segala cara, sang dewi kegelapan yang diperankan oleh Rebecca Ferguson ini pun berusaha menghancurkan misi sekaligus mental Elliot cs dalam perjalanan menuju ke pulau kelahiran Raja Arthur.

Secara keseluruhan film ini punya jalinan cerita yang kuat, epik, dan menawarkan keindahan fantasi sekaligus menegangkan bagi anak-anak. Morgana yang punya pasukan iblis juga tampil dengan make-up yang menawan. Sebuah tontonan menarik mengisi akhir pekan anak-anak di awal tahun 2019. Sayangnya, durasi film yang mencapai 2 jam lebih tentu terlalu panjang dan membosankan untuk sebuah tontonan dengan target pasar yang menyasar anak-anak ini

. (Wal)

 

How To Train Your Dragon The Hidden World; Akhir Kisah Sang Naga

Disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Dean DeBlois, ini merupakan kisah tentang Hiccup dan si naga hitam Toothless yang konon adalah seri terakhir dari franchise ‘How To Train Your Dragon’.

Tantangan Hiccup yang kini menjadi kepala suku Berk semakin banyak setelah naga-naga yang ada menjadi sasaran dari perompak kejam. Hiccup pun berencana memindahkan naga-naga itu ke Berk. Dan pada akhirnya Berk pun menjadi sumber kekacauan karena perompak sangat ingin memusnahkan semua naga yang ada.

Adanya Hidden World yang digadang-gadang sebagai salah satu tempat terindah untuk para naga hidup pun membuat Hiccup ingin mencarinya. Hiccup pun harus berupaya sekuat tenaga untuk menghalangi niat jahat Grimmel, seorang pembunuh naga yang terobsesi ingin menangkap Toothless.

How To Train Your Dragon The Hidden World sendiri menghadirkan pengisi suara yang sudah ternama di jagad Hollywood seperti Cate Blanchett yang mengisi suara sebagai Valka, Kit Harington yang membawakan karakter Eret dengan luar biasa, lalu ada America Ferrera sebagai sosok Astrid, tidak ketinggalan ada Jay Baruchel sebagai Hiccup dan last but not least tentunya Jonah Hill sebagai sosok Snotlout yang kocak.

Sementara itu, pertemuan Toothless dengan si naga putih Light Fury kian membuat keduanya bak pasangan muda yang dimabuk cinta, Mereka pun sempat melongok Hidden World yang indah dan menggetarkan di sebuah dasar laut sebelum sebuah tragedi terjadi. Apa kah tragedi itu? Tonton saja kisah penuh emosi dari Snoutlot cs ini di bioskop terdekat! (Wal)